news okezone.com
Okezonenews » Home » Catatan Redaksi » Jenderal Bintang Lima itu Tergolek Lemah

getting time ...

CATATAN REDAKSI

Catatan Redaksi

Jenderal Bintang Lima itu Tergolek Lemah

M Budi Santosa - Okezone
Rabu, 09 Januari 2008 14:17 wib

Jenderal Bintang Lima. Yah, pangkat penghargaan itu disandang mantan Presiden Soeharto. Hanya ada tiga orang yang mendapat pangkat jenderal besar alias jenderal bintang lima yakni Jenderal Sudirman, Jenderal AH Nasution, dan Jenderal Soeharto.

Gelar yang diberikan pada medio Oktober 1997 itu sontak membuat gempar dan mungkin saja iri bagi para purnawirawan ABRI. Pasti orang bertanya-tanya, sejak kapan kepangkatan di militer Indonesia sampai bintang lima. Atau juga pertanyaan lain, kenapa hanya tiga orang itu yang mendapat pangkat bintang lima.

Entahlah. Yang pasti pemberian pangkat jenderal besar alias jenderal bintang lima itu dilaksanakan oleh Panglima ABRI Jenderal Faisal Tandjung mengacu kepada Kepres yang diteken Presiden Soeharto pada 30 September 1997.

Itu adalah sekelumit kontroversi tentang Soeharto yang juga dikenal sebagai Bapak Pembangunan di detik-detik menjelang dia harus lengser dari kekuasannya pada 1998. Tentu masih banyak lagi kontroversi yang hingga kini tak kunjung selesai, mulai dari Supersemar hingga tudingan korupsi.

Kini Presiden Kedua Indonesia itu tergolek lemah di RS Pusat Pertamina. Usia Pak Harto sudah semakin renta. Fisiknya seakan tidak mampu untuk terus menopang usia yang makin renta itu. Bangsa ini pasti akan terus memantau keadaan Pak Harto lewat berbagai pemberitaan media massa.

Pasti banyak sekali rasa yang berkecamuk di dalam hati. Ada rasa iba, ada rasa marah, ada rasa penghormatan, dan rasa-rasa lainnya yang pasti akan memacu emosional semua anak bangsa. Pak Harto harus diakui memiliki jasa yang sangat besar bagi bangsa ini. Tapi Pak Harto di akhir kekuasaannya harus lengser karena dianggap melakukan korupsi dan harus diadili. Tentu saja rasa penghormatan dan keinginan untuk penegakan hukum harus disinkronkan. Apapun juga penegakan hukum tidak pandang bulu dan tidak tebang pilih.

Suara-suara yang muncul beragam. Ada yang menginginkan Pak Harto segera diampuni karena besar jasanya bagi bangsa ini. Ada yang menginginkan Pak Harto tetap diadili kemudian diampuni. Ada pula yang menginginkan Pak Harto cukup diadili dari sisi perdatanya saja.

Pak Harto makin tua dan terus sakit-sakitan. Sikap tegas pemerintah memang diperlukan, akan dibawa kemana kasus Pak Harto ini. Akankah kasus Pak Harto terus digantung? Tentu tinggal good will pemerintah yang harus ditunggu. Atau mengulang kata teman saya, cukup menghitung kancing baju: Diadili, Diampuni, Diadili .... (*)
(mbs)

RESENSI »

Antologi Kisah Hidup Orang Sukses
Antologi Kisah Hidup Orang Sukses

Buku bersampul kuning ini kelanjutan Top Words 1. Konsep penulisan Billy Boen tidak jauh berbeda, ia sekadar menggali inspirasi dari para orang sukses. Tujuannya untuk membakar semangat kaum muda bisa berprestasi juga.

SUARA KEBON SIRIH »

Mudik, Jangan Lupa Klik www.okezone.com
Mudik, Jangan Lupa Klik www.okezone.com

Macet, jalur alternatif, posko mudik dan semua informasi mengenai mudik yang dibutuhkan akan tersaji dengan fresh dari situs berita www.okezone.com.

CATATAN REDAKSI »

Mudik Santun demi Nyawa
Mudik Santun demi Nyawa

Mudik secara santun sama artinya Anda sangat menghargai mahalnya nyawa.

ETALASE »

Asal Mula Kampung 'Seribu Nisan'
Asal Mula Kampung 'Seribu Nisan'

Ihwal Gampong Pande atau Kampung 'Seribu Nisan' bermula saat Sultan Johan Syah mendirikan Istana Kerajaan Aceh Darussalam, tepatnya di tepian Sungai Aceh atau Kuala Naga, pada 1 Ramadan 601 Hijriah atau 22 April 1205 Masehi.

OPINI »

Sulaiman
Menunggu Kenegarawanan Aktor Politik
Menunggu Kenegarawanan Aktor Politik

Patut tersenyum lega, akhirnya pemilu 9 Juli berjalan seperti didamba. Setidaknya jutaan rakyat Indonesia yang terbelah ke dalam dua kubu akibat preferensi politik masing-masing tidak terpicu pada tindakan-tindakan anarkis.