news okezone.com
Okezonenews » Home » Opini » Ekonomi Domestik Masih Kuat

getting time ...

OPINI

Ekonomi Domestik Masih Kuat

Rabu, 15 Oktober 2008 10:07 wib

Hal yang berbeda dari gejolak ekonomi yang terjadi sekarang dengan kondisi krisis ekonomi pada 1998 adalah tekanan ekonomi yang terjadi kini sematamata dari gejolak ekonomi global, yaitu krisis keuangan di Amerika Serikat (AS), sementara aktivitas ekonomi domestik masih bergeliat.

Adapun pada krisis ekonomi 1998, yang terjadi memang aktivitas ekonomi kita mengalami penurunan yang disebabkan sistem perbankan pada saat itu default dan tidak mampu mendorong roda perekonomian.

Saat ini jantung perekonomian Indonesia tersebut masih menunjukkan kondisi yang aman. Beberapa rasio keuangan seperti non-perfoming loan (NPL) neto hanya 1,42%,jauh di bawah batas maksimum yang telah ditetapkan, yaitu 5%. Likuiditas juga masih terjaga, walaupun terlihat ketat yang diakibatkan ketidakmerataan likuiditas antarbank, loan to deposit ratio (LDR) perbankan kita masih dalam batas yang cukup normal di atas 70%, meski masih di bawah 80%.

Hal ini menunjukkan bahwa sektor riil Indonesia mendapatkan dukungan yang cukup dari perbankan untuk tumbuh dengan baik.Di sisi lain, perbankan telah membuka diri untuk terus berakselerasi dengan kebutuhan sektor riil. Hal ini berbeda dengan krisis ekonomi yang pernah dialami Indonesia.

Turbulensi pasar keuangan global sejak bangkrutnya Lehman Brothers mendorong laju kejatuhan indeks dan kurs makin tinggi. Tekanan ini ternyata tidak mampu dibendung oleh otoritas bursa Indonesia di mana perdagangan saham di bursa harus dihentikan agar tidak tergerus lebih dalam lagi.

Nilai tukar rupiah kita juga ikut terdepresiasi. Walau demikian,apabila dibandingkan dengan negara-negara lain, tingkat depresiasi mata uang kita masih dalam kondisi normal. Walau sangat sulit, Bank Indonesia telah menaikkan BI Ratemenjadi 9,5% dalamrangkameredamtekananinflasi agar pada 2009 inflasi dapat terjaga di kisaran 6,5?7,5%.

Fundamen ekonomi dari beberapa indikator tersebut sebenarnya masih dalam batas kenormalan di tengah krisis keuangan global yang terjadi saat ini. Fenomena yang terjadi pada sektor keuangan saat ini lebih bersifat kepanikan.

Aksi Penyelamatan Ekonomi

Kedigdayaan yang selama ini dicapai oleh AS menutupi pola ekonomi menggelembung tanpa landasan yang cukup kuat (bubble economic). Gelembung tersebut kini meletus karena sudah sangat berlebihan dan mengakibatkan biaya recovery-nya sangat mahal.

Pemerintah AS harus menginjeksi sektor keuangannya hingga USD700 miliar dengan harapan krisis yang terjadi dapat pulih kembali. Walau demikian, upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah AS tidaklah secara langsung akan mengembalikan kondisi karena sangat kompleksnya permasalahan yang terjadi ditambah menurunnya kepercayaan pasar menyebabkan proses recovery diprediksikan cukup lama, sekitar satu sampai dua tahun ke depan.

Kemudian untuk meredam gejolak pasar finansial yang mengalami kekeringan bank sentral AS (The Fed), bank sentral Eropa (BoE), bank sentral Swedia saling berkoordinasi menurunkan suku bunganya sekitar 0,5%.

Ternyata langkah tersebut belum mampu meredam semua gejolak ekonomi yang terjadi, sehingga kebangkrutan Lehman Brothers tidak lagi dapat diselamatkan. Seakan di hadapan kita dipertontonkan sebuah bangunan gunung es yang meledak.

Menjaga Fundamen Ekonomi

Saat ini Indonesia dihadang oleh badai letusan gunung es tersebut. Namun Indonesia masih memiliki fundamen ekonomi yang masih kuat dengan sektor riilnya yang masih tumbuh. Ditambah lagi bangunan ekonomi penyangga Indonesia yang didominasi oleh sektor UMKM yang secara bisnis masih mampu bertahan di tengah guncangan hebat seperti pernah dialami pada saat krisis moneter 1998.

Walau demikian, fundamen ekonomi yang digerakkan oleh sektor riil harus terus dijaga oleh pemerintah, salah satunya melalui pembenahan dalam rangka menciptakan iklim investasi yang kondusif. Pemerintah harus terus mendorong serta memantapkan stabilitas ekonomi makro.

Walaupun harga minyak telah turun, namun bayang-bayang kenaikan masih menyelimuti negeri ini sebagai potensi gejolak eksternal dan ketidakseimbangan global (global imbalances) aliran likuiditas global jangka pendek, yang pada gilirannya dapat memengaruhi stabilitas moneter dan ketahanan fiskal dalam negeri.

Upaya pemeliharaan dan pemantapan stabilitas ekonomi makro tersebut antara lain mencakup langkahlangkah mengatasi dampak gejolak ekonomi domestik dan global seperti laju inflasi dan suku bunga yang masih relatif tinggi, serta memperkuat koordinasi dan efektivitas kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil.

Optimalisasi dana pembangunan yang telah dianggarkan untuk pembangunan harus dilakukan dan diprioritaskan bagi tumbuh kembangnya sektor riil di Indonesia.Pembangunan infrastruktur merupakan kata kunci yang harus segera direalisasikan guna mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sudah saatnya bagi sektor riil, khususnya bagi dunia usaha, untuk membuat strategi yang dapat menciptakan peluang di tengah-tengah gejolak ekonomi dunia saat ini. Baik pemerintah maupun dunia usaha harus mampu melakukan diversifikasi produk dan pasar ekspor.

Mengurangi ketergantungan akan pasar AS sebagai tujuan ekspor merupakan langkah yang harus dilakukan mengingat kondisi saat ini. Di sisi lain,pasar domestik juga harus mampu dioptimalkan oleh dunia usaha selain pasar ekspor tadi.

Dunia usaha juga harus mencari alternatif bahan baku yang lebih murah lagi dengan kandungan domestik untuk meminimalisasikan kenaikan inflasi akibat kandungan ekspor. Peningkatan arus modal asing atau investasi asing yang berdimensi jangka menengah dan panjang harus menjadi prioritas dan investasi portofolio jangka pendek harus lebih selektif dan dibatasi, sehingga upaya perbaikan iklim investasi tetap relevan didukung oleh investasi jangka menengah dan panjang dari luar negeri mau singgah ke Indonesia.

Munculnya antusiasme dari investor asing secara tidak langsung akan mendorong kebangkitan investasi domestik, terutama lewat repatriasi danadana orang Indonesia yang masih diparkir di luar negeri. Pemberian insentif perpajakan serta penuntasan status kawasan khusus akan dapat membantu peningkatan arus modal asing.Walaupun ekonomi riil dalam negeri kita belum terlalu terkena dampak dari gejolak ekonomi ini, kesiapan dan kewaspadaan terhadap jaring pengaman ekonomi harus terus ditingkatkan.(*)

Erwin Aksa
Ketua DPP Hipmi
(//ahm)

RESENSI »

Jembatan Merah Menggugah Bumi Pertiwi
Jembatan Merah Menggugah Bumi Pertiwi

Setengah abad lebih petualangan anak-anak negeri bergelora mengumandangkan kemerdekaannya, tetapi mengapa bekas perjuangan mereka tidak mengukir di dada para pewaris negeri?

SUARA KEBON SIRIH »

Okezone Gelar Try Out Online UN 2014
Okezone Gelar <i>Try Out Online</i> UN 2014

DALAM waktu dekat, siswa SMA sederajat akan mengikuti Ujian Nasional (UN) 2014 pada 14 April. Ujian ini merupakan puncak kelulusan siswa di bangku sekolah.

CATATAN REDAKSI »

Melanggar Hukum di Sekolah Asing
Melanggar Hukum di Sekolah Asing

SEKOLAH adalah wadah untuk mendidik anak-anak. Tujuannya, mengajarkan anak untuk menjadi individu yang mampu memajukan bangsa.

ETALASE »

Kabut Asap Kembali Selimuti Riau, Siapa yang Salah?
Kabut Asap Kembali Selimuti Riau, Siapa yang Salah?

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan merupakan bencana paling menakutkan bagi warga Riau. Dampaknya sangat menyengsarakan warga, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan lainnya.

OPINI »

Ahmad Bhumi Nalaputra
Sikap Indonesia Terhadap Aneksasi Rusia di Ukraina
Sikap Indonesia Terhadap Aneksasi Rusia di Ukraina

Tindakan unilateral Rusia dalam menduduki daerah Crimea yang merupakan bagian dari negara Ukraina, merupakan preseden buruk bagi kedaulatan negara dan penegakan hukum internasional.