news okezone.com
Okezonenews » Home » Fokus » Bahasa Lintas Usia

getting time ...

FOKUS

Perkembangan ICT (3)

Bahasa Lintas Usia

Minggu, 04 Oktober 2009 13:57 wib

Komunikasi bisa terjadi antara dua orang yang memiliki latar belakang budaya dan usia. Sehingga bahasa kompromi perlu diwujudkan untuk menjembatani keduanya.

Komunikasi merupakan kebutuhan pokok manusia. Dalam berkomunikasi kedua pihak dituntut untuk saling memberikan pengertian. Sehingga mereka harus menyajikan komunikasi yang jelas kepada lawannya. Komunikasi yang jelas juga diperlukan walaupun media komunikasinya sangat singkat. Lahirnya layanan pesan singkat (short message service/SMS) mengharuskan penggunanya untuk mempersingkat cara berkomunikasi.

Terbatasnya ruang dan waktu mengharuskan hal ini terjadi. Sehingga penggunaan singkatan saat ini sangat lumrah terjadi.Keterbatasan karakter huruf dan kecepatan menjadi alasan utama. Dalam komunikasi melalui SMS, bukan hanya karakter yang terpangkas,namun sering kali "basa- basi"pembicaraan juga dipangkas. Padahal banyak golongan yang menganggap "basa-basi" itu adalah bagian dari kesopanan. Misalnya di daerah Jawa sebelum berkomunikasi dengan orang tua diperlukan perkataan mohon izin "nuwun sewu"dan lainnya sebagai bentuk penghormatan.Begitu juga dengan daerah lain.

Namun dengan SMS, penggunaan "formalitas"cenderung lebih sulit dilakukan.Sebab,SMS mengharuskan penggunaan kata sesingkat mungkin. Sesuatu yang menjadi persoalan adalah sejauh mana orang menerima hal itu. Begitu juga dengan bagaimana anak muda bisa tetap menghadirkan simbol penghormatan walaupun dengan kata yang singkat. Sementara itu, penggunaan singkatan dalam SMS tidak semuanya dimengerti oleh semua golongan. Bahkan,bagi golongan tertentu hal itu bukan hanya tidak dimengerti namun juga dianggap tidak sopan.

Menurut Pakar Komunikasi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Rusdi Muchtar, dalam berkomunikasi melalui HP ada dua tipe orang yang diperhatikan.Pertama adalah tipe yang hanya suka menerima telepon. Kedua adalah tipe yang hanya suka menerima SMS. Golongan pertama adalah mereka yang menilai bahwa lebih sopan menelepon untuk mengomunikasikan sesuatu dibanding via SMS. Sedangkan golongan kedua adalah orang yang menganggap bahwa sebelum menelepon seharusnya komunikasi melalui SMS terlebih dahulu.

Sebab, selain untuk perkenalan juga untuk menjaga bahwa yang diajak berkomunikasi sedang tidak berkenan. Misalnya yang bersangkutan sedang rapat atau ada kegiatan lainnya yang tidak memungkinkan untuk mengangkat telepon. Sedangkan untuk berkomunikasi melalui SMS,menurut Rusdi juga sering kali terbentur bahasa. Banyaknya perbedaan usia, golongan, kedudukan menjadikan bahasa SMS juga sangat beragam. Bahasa satu golongan belum tentu dapat dimengerti bahkan tidak sopan bagi golongan lain .

Salah satu contohnya adalah bahasa komunikasi antara golongan tua dengan yang muda. Anak muda cenderung tidak memperhatikan "sopan-santun" yang mungkin menurut mereka hanyalah formalitas atau basa-basi belaka.Namun, bagi golongan tua hal itu penting. Bagi anak muda mungkin saja penggunaan singkatan adalah hal yang lumrah.Namun, bagi orangtua hal itu dianggap kurang sopan.Permasalahan-permasalahan seperti ini,menurut Rusdi, kadang muncul pada awal berkomunikasi khususnya bagi mereka yang pertama kali kenal atau tidak terlalu kenal.

Namun, dalam perjalanannya tidak bisa perbedaan persepsi ini terus terjadi. Orangtua tidak bisa bertahan dengan persepsi "kesopanan" mereka. Begitu juga dengan anak muda. "Saya pada awalnya pernah tersinggung dengan cara SMS yang dilakukan mahasiswa,namun dalam perjalanannya saya mencoba untuk mengerti," kata Rusdi mencontohkan apa yang pernah dialaminya.

Bahasa Kompromi

Seiring dengan perjalanan waktu komunikasi melalui SMS, Rusdi mengatakan, akan melahirkan bahasa kompromi yang diterima semua pihak. Para orangtua akan merasa tetap dihormati walaupun anak muda berkomunikasi dengan kata-kata pendek kepada mereka.Dengan perjalanan waktu orang-orang dari generasi lebih tua juga dituntut untuk belajar istilah yang disingkat.

Seperti kata salam disingkat "ass" atau "wass" (berarti assalamualaikum dan wassalamualaikum). Atau mereka juga dituntut mengerti bahwa kata "trims" itu berarti terima kasih. Begitu juga dengan kata "thk"atau "tq"yang berarti terima kasih. Sehingga lambat laun akan ada bahasa yang bisa dipakai secara bersama.Kata itu bisa dipakai oleh semua golongan yang lebih luas. Akhirnya, tidak ada perbedaan persepsi yang mencolok antara golongan.

Tidak akan ada lagi persepsi tentang batas kesopanan. "Bagi anak muda, tetap dituntut untuk menghadirkan bahasa yang bagus dan sopan dalam berkomunikasi dengan orang yang lebih tua walaupun dengan kata singkat.Begitu juga golongan tua yang dituntut untuk berusaha mengerti,"jelas Rusdi. Rusdi menambahkan, komunikasi lewat SMS akan semakin dibutuhkan. Sebab terbukti, dengan metode ini banyak hal yang bisa dihasilkan. SMS tidak langsung dihapus, sehingga bisa memberikan penjelasan lebih lama. Selain itu, SMS bisa dibaca kapan saja.

Dan orang bisa mengirim SMS ketika jaringan terputus walaupun sampai ke nomor tujuan setelah jaringan bisa diperbaiki. Salah satu contohnya adalah komunikasi di daerah gempa seperti di Padang hari-hari ini. Banyak pihak membuktikan bahwa komunikasi lewat SMS sangat efektif. Pakar Budaya Universitas Indonesia Prof Benny Hoedoro Hoed menyatakan,dalam ilmu linguistik dikenal hukum ekonomi bahasa. Tidak berbeda dengan hukum ekonomi pada umumnya, dalam hukum ekonomi bahasa ini juga berlaku hukum bahwa dengan usaha yang sedikit diharapkan bisa menghasilkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya.

Artinya, dengan penggunaan bahasa yang sedikit diharapkan memberikan pengertian yang sebesar-besarnya. Sehingga ke depan akan dituntut juga komunikasi efektif yang menghasilkan makna lebih banyak. Hal ini akan semakin dibutuhkan dalam berkomunikasi lewat SMS. Karena keadaan menuntutnya demikian. Benny menambahkan, salah satu yang sangat berperan dalam berkomunikasi adalah konteks saat bicara.

Dengan konteks yang diketahui oleh dua orang, maka komunikasi bisa dipersingkat. "Dengan pengetahuan tentang konteks, dengan satu kata saja orang bisa langsung mengerti," jelas Benny.
(Koran SI/Koran SI/mbs)

RESENSI »

Jembatan Merah Menggugah Bumi Pertiwi
Jembatan Merah Menggugah Bumi Pertiwi

Setengah abad lebih petualangan anak-anak negeri bergelora mengumandangkan kemerdekaannya, tetapi mengapa bekas perjuangan mereka tidak mengukir di dada para pewaris negeri?

SUARA KEBON SIRIH »

Okezone Gelar Try Out Online UN 2014
Okezone Gelar <i>Try Out Online</i> UN 2014

DALAM waktu dekat, siswa SMA sederajat akan mengikuti Ujian Nasional (UN) 2014 pada 14 April. Ujian ini merupakan puncak kelulusan siswa di bangku sekolah.

CATATAN REDAKSI »

Korupsi Lagi dari Lembaga Bernama Pajak
 Korupsi Lagi dari Lembaga Bernama Pajak

Sudah terjadi berulangkali korupsi yang terjadi di lembaga yang bernama pajak. Patgulipat atau kerjasama di bawah tangan sering dilakukan agar lolos dari kewajiban membayar pajak negara.

ETALASE »

Kabut Asap Kembali Selimuti Riau, Siapa yang Salah?
Kabut Asap Kembali Selimuti Riau, Siapa yang Salah?

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan merupakan bencana paling menakutkan bagi warga Riau. Dampaknya sangat menyengsarakan warga, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan lainnya.

OPINI »

L Tantri Kristiani Rahmatianing
Menyambut Perubahan di Bumi Papua
Menyambut Perubahan di Bumi Papua

Demokrasi adalah keadaan negara di mana kedaulatan atau kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat. Istilah demokrasi sendiri berasal dari kata Latin, yaitu Demos yang berarti rakyat dan Kratos yang berarti pemerintahan, sehingga sering juga diasosiasikan sebagai pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat.