news okezone.com
Okezonenews » Home » Opini » Peredam Ketegangan di Semenanjung Korea

getting time ...

OPINI

Peredam Ketegangan di Semenanjung Korea

Senin, 29 November 2010 12:51 wib

Pada ketegangan yang terjadi di Semenanjung Korea memang Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) yang saling berhadapan langsung. Namun secara tidak langsung, persaingan antara Amerika Serikat (AS) dan China juga dipertaruhkan.

Mengapa? Dalam tatanan dunia pascaberakhirnya Perang Dingin, baru sekarang terjadi situasi vakum akan leviathan. Dalam teori hubungan internasional, leviathan adalah sebuah kondisi di mana ada satu negara raksasa yang paling disegani, penentu utama bentuk ekulibrium hubungan internasional, yang gertakannya mampu menggentarkan upaya apa pun untuk mengubah tatanan politik ekonomi global yang ada.

Hal ini tercermin dari pilihan Korut untuk konsisten melancarkan serangan balik disertai propaganda penuh kebencian kepada Korsel dan siapa yang langsung merespons perilaku Korut. Kedua, pertimbangkanlah siapa saja yang paling diuntungkan kalaupun sampai pecah perang terbuka?

Buntut Temu G-20 di Seoul

Konstelasi global berubah cepat sejak beberapa saat menjelang pertemuan tingkat tinggi G-20 di Seoul 11-12 November 2010. Forum ini mengonfirmasikan bahwa AS bukan lagi satu-satunya negara adidaya pengendali tatanan ekonomi politik global. Lebih menarik lagi, muncul polarisasi kepentingan ekonomi yang bersaing ketat untuk meningkatkan pengaruh politik di tingkat global.

Sampai saat ini belum ada yang “menang”. Negara-negara sedang menggeliat lagi mencari posisinya masing-masing. Jika dilihat dari keunggulan teknologi, pendidikan, dan kekuatan militernya, AS tentu masih menempati posisi superior dibandingkan negara lain. Namun, defisit keuangannya terus membengkak, padahal AS sulit keluar dari kericuhan di Afghanistan dan Irak yang diciptakannya sendiri.

Di dalam negeri, angka pengangguran mencapai 30 juta, sementara dampak penggelontoran ratusan juta dolar ke dalam perekonomian domestik baru berhasil memunculkan sekira 50.000 lapangan pekerjaan. Dalam negeri AS pun terus terpecah. Faksi-faksi neokonservatif bermunculan, sementara kubu liberal pun loyo karena Presiden Obama dianggap gagal menyelamatkan perekonomian dalam negeri.

Kegentingan kondisi AS tercermin dari agenda kunjungan Obama ke India, China, dan G-20 yakni untuk minta lapangan pekerjaan dan menekan China agar mengubah strategi pertumbuhan ekonominya, terutama terkait cara China memperoleh surplus. Jika AS masih punya gigi sebagai leviathan, seharusnya negara-negara Uni Eropa dapat dengan mudah mendukung seruan AS pada China.

Kenyataannya, Uni Eropa justru menolak mentah-mentah ide pembatasan surplus perdagangan maksimal 4% karena sejumlah negara UE sedang menikmati surplus perdagangan minimal 6% dengan China. AS dianggap tidak konsisten karena meneriakkan keinginan meregulasi pasar global. Sementara negara-negara lain justru sedang diuntungkan oleh tren pasar global yang makin liberal (yang dulu diadvokasi AS). Jika AS masih punya gigi, Iran takkan sembarangan menghujat AS.

Apalagi Iran bukan negara yang perekonomiannya terkuat di dunia. Ketergantungan pada ekspor minyak bumi dan penurunan produksi minyak bumi saat harga pasaran dunia menurun telah mengikis cadangan devisa dan memaksa pemerintah memotong program-program subsidi secara signifikan. Angka penganggurannya bahkan mencapai dua digit. Jelaslah kedigdayaan AS sedang di ujung tanduk.

Kalau mau mempertahankan kedigdayaannya, AS perlu menggertak agar siapa pun enggan mengganggu tatanan politik ekonomi yang selama ini berjalan walaupun tentu ada risiko atas uji daya gertaknya. Untuk itulah, kondisi dalam negeri Korsel penting. Situasi politik di Korsel cukup menguntungkan AS. Saat ini Korsel dikuasai oleh partai Grand National yang terkenal sangat konservatif yakni anti-Komunis, sangat anti-Korut, dan prosanksi atas Korut. Presiden Korsel Lee Myung-bak dinilai loyo dan lamban karena di dalam negeri memang pandangan militeristik sedang dominan.

Hasil survei lembaga Monoresearchdi Korsel (24/11) menunjukkan bahwa dari 1.067 responden, publik Korea terpecah hampir sama kuat antara yang menginginkan cara tegas melalui perang dan cara peredaman konflik. Namun, 44,6% responden berpendapat bahwa serangan Korut hanya demi konsolidasi internal atas rezim turun-temurun keluarga Kim. Survei oleh Realmeter menunjukkan tendensi serupa, malah dengan pendukung cara damai yang lebih sedikit (hanya 33,5%).

Secara umum, media di Korsel menceritakan kegelisahan publik Korsel akan perilaku Korut yang dianggap sembrono. Dengan demikian, Korsel berpotensi kuat sebagai mitra penggentaran terhadap Korut. Dan kalaupun Korut sungguh-sungguh berani menyerang balik koalisi AS-Korsel, akan terbentuklah aliansi yang lebih kuat antar AS-Korsel. Di sinilah ASberpotensi menjalankan strategi bandwagoning, alias meyakinkan negara lain untuk mendukungnya karena punya kekuatan yang lebih dominan dibandingkan Korut.

Janji dukungan dari sejumlah negara seperti Australia dan Jepang adalah tabungan dukungan bagi kubu AS. Selain itu, dalam perang mana pun, produsen senjata dan penguasa teknologi militer akan diuntungkan. Dalam posisi ekonomi sulit, ekspor apa pun termasuk produk kemiliteran akan menambah lapangan pekerjaan. Di lain pihak, jika AS dan Korut meningkatkan ketegangan dengan memanfaatkan rasa terancam dari publik di Korsel, China akan terdesak untuk mengambil sikap ofensif pula.

Secara geografis, ketegangan di Korea terlalu dekat dengan wilayah kedaulatan China. Wilayah Zona Ekonomi Eksklusif China dan Jepang tumpang tindih, jadi wajar bila China ikut terancam bila AS menyerukan perang. Sebagai negara yang sedang berekspansi dalam bidang ekonomi, China tentu akan lebih diuntungkan dengan perdamaian.

Bila AS dan Korsel resmi beraliansi, China pun akan didesak untuk mengambil posisi atas Korut, padahal kemungkinan China beraliansi dengan kubu AS juga kecil akibat persaingan tajam di bidang ekonomi. Pihak Kedutaan Besar China mengaku sangat berhati-hati karena pertimbangan ini. Jika AS berhasil memperbesar pendukung di pihaknya, perseteruannya akan melebar dan tidak lagi karena kesembronoan Korut semata. China pun akan terkepung.

Peredam Ketegangan

Ketegangan di Semenanjung Korea harus segera ditangani dengan seksama, khususnya oleh negara anggota G-20 lain yang tidak terlibat langsung di sana. Mereka, termasuk Indonesia, ditantang untuk sigap mendekati AS dan China agar mencari solusi yang menguntungkan kedua belah pihak. Pernyataan dan sikap saling dukung salah satu pihak tentu hanya akan memperburuk ketegangan dan karenanya wajib dihindari.

Akar permasalahan yakni eksistensi Korut harus dicarikan jalan keluarnya. Sistem politik Korut yang berbeda dengan demokrasi Barat boleh dikritik, namun kebutuhan penduduk Korut perlu difasilitasi, termasuk bila mereka merasa terpojok akibat rangkaian sanksi ekonomi. Dalam sejarah, sanksi ekonomi memang dapat memperbaiki perilaku suatu negara, tapi hanya bila masih ada peluang bagi negara itu untuk diterima dan dipahami keunikannya di pergaulan global. Ingatlah dulu kontroversi mengikutkan China dalam WTO yang berujung pengakuan keunikan model politik ekonomi China.

Ketegangan di Semenanjung Korea perlu mengingatkan kita bahwa meskipun globalisasi mendekatkan negara karena ketergantungan ekonomi, pada akhirnya sistem pasar yang diadopsi secara global pasti menciptakan ranking- ––dan ranking tersebut dinamis. Risiko terburuk dari ketersingkiran dalam ranking adalah pencarian aliansi. Di sinilah kedewasaan China dan AS dalam menjaga perdamaian dunia layak disoroti.(*)

Dinna Wisnu PhD
Dekan Paramadina Graduate School of Diplomacy and Strategic International Policies
   

       

(//mbs)

RESENSI »

Ini Bukan Avatar, Tapi Dajjal!
Ini Bukan Avatar, Tapi Dajjal!

Ketika membaca, mendengar atau mengatakan kata Dajjal, yang pertama terpikirkan adalah apakah Dajjal sudah dekat?

SUARA KEBON SIRIH »

Chief Content News Baru di Okezone.com
Chief Content News Baru di Okezone.com

PORTAL berita nasional, Okezone.com, memiliki Chief Content News (Pemimpin Redaksi News) baru, yakni Syukri Rahmatullah.

CATATAN REDAKSI »

BBM Naik Rp3.000, Jokowi dan Rumah Transisi
BBM Naik Rp3.000, Jokowi dan Rumah Transisi

Baru-baru ini, anggota Tim Transisi Jokowi melontarkan pernyataan mengejutkan soal kenaikan harga BBM.

ETALASE »

"Munir" Tetap Suarakan Keadilan

Sunyi, kala belasan pegiat hak asasi manusia (HAM) dari Jaringan Pemuda Batu mengunjungi sebuah makam di TPU Kelurahan Sisir, Kota Batu, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

OPINI »

Media dan "Revolusi Mental"
Media dan

ADA satu istilah baru yang menarik dalam konstelasi politik belakangan ini, yakni Revolusi Mental.