news okezone.com
Okezonenews » Home » Opini » Islam Bukan Teroris

getting time ...

OPINI

Ali Mustofa

Islam Bukan Teroris

Rabu, 18 Mei 2011 12:08 wib

Isu terorisme terus bergulir. Terakhir diberitakan, adegan mirip dalam game counter strike terjadi di daerah Sukoharjo. Peristiwa ini menewaskan 3 orang yang terdiri dari 2 orang terduga teroris dan 1 pedagang angkringan atau di Solo biasa disebut "warung hik". Hal ini sama halnya dengan eksekusi tanpa siding dan pembuktian terlebih dahulu.

Seringkali banyak kejanggalan-kejanggalan aneh ketika terjadi peristiwa teror maupun saat penyergapan teroris tersebut. Hingga berkembang di masyarakat, isu teroris ini adalah konpirasi tingkat tinggi yang sarat akan muatan politis dengan berbagai motifnya. Seperti halnya kasus di Sukoharjo baru ini, sebagaimana penjelasan TPM Solo dalam konsperesi pers (14/5/2011), bahwa terduga Sigit tidak punya senjata api, beberapa barang bukti yang ditemukan Densus 88 berupa senjata laras panjang ternyata hanyalah senapan angin yang biasa digunakan berburu oleh ortunya, dan uang sejumlah puluhan juta yang diketemukan adalah pemberian orang tua juga hasil penjualan sepetak tanah di Mojosongo, supaya digunakan untuk membeli rumah di Wonogiri.

Barang lain seperti sebuah samurai yang ditemukan oleh Densus adalah milik kakeknya Sigit yang diberikan oleh Keraton Surakarta. Rompi juga milik orang tua Sigit yang dibeli dari Jakarta. Bahkan, soal serbuk arang warna hitam yang ditemukan oleh polisi di rumah tersebut, hanya bahan untuk merias temanten. Karena, orang tua Sigit sebagai perias dan penyewakan pakaian untuk temanten. Menurut koordinator TPM, Anies Prijo, jika semua itu tidak ada hubungannya dengan yang didakwakan Sigit. (antaranews.com, 16/5/2011)

Komnas HAM mencatat Densus 88 banyak melakukan salah tangkap dan tak mengindahkan norma-norma yan berlaku. KONTRAS juga merilis, pendekatan senjata api banyak dilakukan oleh Densus 88 dalam dua tahun terakhir. Setidaknya, dari 6 operasi antiterorisme di tahun 2010 ada 24 orang tewas tertembak, 9 luka terkena timah panas, 420 ditangkap dan diproses hukum. 19 orang menjadi korban penangkapan sewenang-wenang akhirnya dibebaskan karena tidak terbukti terlibat terorisme. (Media Indonesia.com, 16/5/2011).

Ifdhal Khasim, Ketua KOMNAS HAM pernah mengatakan bahwa penangkapan yang diikuti penahanan tersebut sering kali tidak diindahkan hak-hak orang yang di antaranya hak untuk mendapatkan penasihat hukum. Pihak keluarga juga sering kali tidak diberi akses informasi yang memadai.

Ada Apa dengan War On Terrorism?

War on Terrorism biasa disebut hanyalah sebagai topeng untuk memerangi Islam, hal ini terbukti dari beberapa fakta yang terekam di lapangan, bahwa AS lebih banyak menginvasi ke negeri-negeri Islam, daftar teroris mayoritas adalah umat Islam. Sangat aneh ketika Israel yang jelas-jelas melakukan tindakan teror terhadap warga Palestina tidak dicantumkan ke daftar teroris, sedangkan Hamas dalam mempertahankan negerinya untuk mengusir penjajah Zionis dimasukkan dalam daftar teroris mereka. Bukti lain, mayoritas korban adalah masyarakat Islam, mereka juga sering menggunakan istilah; teroris Islam, militan Islam, Radikal Islam. Hal yang tidak disematkan kepada Teroris yahudi (Israel), Teroris hindu (macan tamil), bahkan kalau mereka mau jujur, mereka sangat layak menyandang gelar teroris kristen.

Pascaruntuhnya komunis yang dipimpin Uni Soviet, satu-satunya ancaman terhadapap dominasi Amerika Serikat terhadap dunia dengan Ideologi kapitalismenya, otomatis hanyalah tinggal Islam, dengan catatan Islam diterapkan sebagai sebuah Ideologi. Samuel P Hutington dalam bukunya “who are you?” mengatakan ” bagi barat, yang menjadi musuh utama bukanlah fundamentalis Islam, tapi Islam itu sendiri”. Sedangkan menurut mereka Ideologi Islam memiliki beberapa kriteria, yakni seperti yang diungkap Mantan PM Inggris Tony Blair saat konggres buruh (16/ Juli/2006). Ia menjelaskan ”Islam sebagai Ideologi Iblis: ingin mengeliminasi Israel, menjadikan syariat sebagai sumber hukum, menegakkan khilafah dan bertentangan dengan nilai-nilai liberal.”

Maka dari itu, untuk membendung potensi pesaing ini, Amerika Serikat melakukan berbagai cara guna menanggulanginya. Bermacam kebijakan mereka tempuh, salah satunya dengan melakukan invasi militer secara langsung terhadap negeri-negeri Islam, selain itu, mereka juga melancarkan perang pemikiran (ghoswul fikri) secara masif sehingga terbukti lumayan ampuh membuat umat Islam sendiri meninggalkan Ideologinya, termasuk menanamkan antek-anteknya di berbagai negara untuk memuluskan niat jahat mereka.

Kebijakan perang fisik mereka gunakan untuk melumpuhkan seteru-seteru Ideologi mereka di kawasan Timor tengah dan lainnya, sedangkan kebijakan perang non fisik (perang pemikiran) di tempuhnya di seluruh negri Islam, baik yang di duduki secara militer maupun tidak.

Di Indonesia Pemikiran Amerika (barat) telah berhasil merengsek masuk ke berbagai sendi kehidupan, (ekonomi, sosial, budaya, politik, dst). Untuk mensukseskan upayanya ini mereka juga menciptakan kader-kader intelektual dari tubuh kaum Muslim itu sendiri yang telah dicuci otaknya sehingga mindset berfikirnya pun telah berubah menjadi mindset berfikir yang bukan lagi Islam, melainkan pro terhadap Amerika dan bahkan cenderung memusuhi Ideologi Islam.

Saking pentingnya perang pemikiran ini, sekretaris menteri pertahanan AS Wolfowitz merekomendasikan: ”saat ini, kita sedang bertempur dalam perang melawan teror, perang yang akan kita menangkan. Perang yang lebih besar yang kita hadapi adalah perang pemikiran, jelas suatu tantangan. Tetapi yang (ini) juga harus dimenangkan”. Bermacam sarana dan prasarana mereka gunakan, diantaranya dengan mengintervensi pendidikan, yakni mengatur kurikulum pendidikan yang berbasis sekulerisme, termasuk kurikulum-kurikulum pesantren yang sudah banyak digembosi melalui dana-dana bantuan yang mereka salurkan.

Peran Media Massa

Media massa punya kontribusi besar dalam mempengaruhi hati dan pemikiran masyarakat, karena itu kami berharap rekan-rekan media lebih adil dan objektif dalam pemberitaannya. Jangan sampai terpengaruh dengan rekomendasi-rekomendasi tidak sehat berikut ini:

Culumbus dan Wolf dalam tulisannya (Pengantar hubungan Internasional hal.186-187) mengatakan ” salah satu fungsi bisnis propaganda adalah memonitor, mengklasifikasi, mengevaluasi, dan mempengaruhi media massa. Para wartawan, kolumnis, komentator, dan pembuat opini yang dianggap bersahabat biasanya diundang ke kedutaan besar. Pihak kedutaan besar biasanya memberikan informasi eksklusif,bila perlu menawarkan bonus. Di negara-negara barat, peran dinas propaganda luar negeri sangat luar besar. Hal ini mengingat opini publik, kelompok penekan, dan media massa terlibat terus menerus untuk mempengaruhi kebijakan sebuah negara”.

Ariel Cohen Ph.d (pengamat) juga pernah merekomendasikan ”AS harus menyediakan dukungan kepada media lokal untuk membeberkan contoh-contoh negatif dari aplikasi syariah”. Sedangkan Cheril Bernard mengatakan: “ide-ide yang harus terus menerus diangkat ialah menjelekkan citra Islam: perihal demokrasi dan HAM, poligami, sanksi kriminal, keadilan Islam, minoritas, pakaian wanita,kebolehan suami untuk memukul istri”. (Cheril Benard, Cicil democratic Islam, partners, resources, and strategies, the rand corporation halaman.1-24).

Yang harus dilakukan umat Islam

Umat Islam sudah seharusnya mengambil langkah-langkah strategis untuk meminimalisir dampak-dampak negatif dari ”war on terroris” yang dilancarkan Amerika Serikat dan sekutunya ini. Ada beberapa langkah yang harus ditempuh diantarannya:

Membina umat, terutama para intelektualnya dengan pemikiran Islam yang Ideologis. Berdakwah dengan tanpa kekerasan. Menjelaskan kepada umat secara umum atas kepalsuan ide-ide selain Islam (counter opini) seperti Kapitalisme, sosialisme, sekulerisme, pluralisme, Liberalisme Dst. Dan melakukan dakwah yang bersifat politis dengan mengajak umat untuk menerapkan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Jika itu sudah dilakukan, maka Allah sendiri yang akan membalikkan makar sebagaimana tercermin dalam firman-Nya. Allah SWT berfirman: “Mereka membuat Makar dan Allah pun membuat Makar. Dan Allah itu Maha Pembuat Makar”. (QS. Ali Imran : 54).

Apapun bentuknya, tidakan teror yang menyelesihi syara’ jelas dilarang di dalam Islam, apalagi sebuah tindakan teror yang telah ditunggangi oleh pihak-pihak yang ingin memperburuk citra Islam. Satu hal yang perlu dicatat, perang melawan teroris berarti harus ada pelaku teror dan kejadian teror di tempat itu, jika tidak ada, alasan apa yang akan digunakan untuk memerangi teroris. Maka tidak heran lagi ketika ada salah seorang artis Holliwood yang mengatakan bahwa “G.W.Bush ada dibalik serangan WTC” beberapa tahun lalu yang telah dimanfaatkan AS untuk memerangi Teroris. (sumber: eramuslim.com)

Karena itu, kami berharap pihak berwenang lebih profesional dan transparan dalam menangani kasus terorisme. Citra kepolisian yang akhir-akhir ini cukup membaik sebagai partner sehat masyarakat, jangan biarkan kembali suram. Sungguh, Islam bukan teroris. Wallahu a'lam.

Ali Mustofa
Direktur Riset Media Surakarta


(//mbs)

RESENSI »

Kisah-Kisah Inspiratif Seputar Ramadan
Kisah-Kisah Inspiratif Seputar Ramadan

Ramadan sudah berlalu. Bulan penuh berkah dan ampunan itu adalah bulan di mana orang-orang Muslim diwajibkan berpuasa sebulan penuh.

SUARA KEBON SIRIH »

Chief Content News Baru di Okezone.com
Chief Content News Baru di Okezone.com

PORTAL berita nasional, Okezone.com, memiliki Chief Content News (Pemimpin Redaksi News) baru, yakni Syukri Rahmatullah.

CATATAN REDAKSI »

Belajar dari Karen Agustiawan
Belajar dari Karen Agustiawan

SOSOK Karen Agustiawan belakangan ini menjadi fenomenal. Direktur Utama PT Pertamina (Persero) itu secara tiba-tiba menyatakan mengundurkan diri.

ETALASE »

Yadnya Kasada di Mata Wong Tengger
Yadnya Kasada di Mata <i>Wong</i> Tengger

Rela bolos sekolah serta rela menunda atau meninggalkan pekerjaan demi melarung sesaji ke kawah Gunung Bromo. Lantas, apa itu Yadnya Kasada di mata orang Tengger?

OPINI »

Sahat Martin Philip Sinurat
Cita-Cita Kemerdekaan Kita
Cita-Cita Kemerdekaan Kita

Rakyat Indonesia selama beratus-ratus tahun telah merasakan getirnya ketidakadilan, kemiskinan, dan peperangan. Keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan adalah cita-cita yang hanya bisa hadir di mimpi sebagian besar rakyat Indonesia.