news okezone.com
Okezonenews » Home » Opini » Bisakah PPP seperti di Masa Orde Baru?

getting time ...

OPINI

Ardi Winangun

Bisakah PPP seperti di Masa Orde Baru?

Selasa, 05 Juli 2011 11:56 wib

Selama sepekan ini, dari tanggal 3 sampai 7 Juli 2011, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) melaksanakan Muktamar VII di Bandung, Jawa Barat. Muktamar ini diikuti 1.180 suara yang datang dari 33 DPW, 497 DPC, dan tambahan suara dari perimbangan DPRD Kabupaten/Kota.

Muktamar ini tentu digunakan sebagai evaluasi pengurus PPP terhadap kinerja Ketua Umum PPP Suryadharma Ali, juga sekaligus untuk mempersiapkan diri menghadapi Pemilu 2014. Menghadapi Pemilu 2014, penulis berpikir itu suatu hal yang lebih sulit dihadapi daripada memilih Ketua Umum PPP Periode 2011-2016.

Semasa PPP berkiprah dalam Orde Baru, setiap Pemilu partai ini selalu berada di urutan kedua. Misalnya, pada Pemilu 1977,  PPP meraih suara 18.743.491 atau 29,29% dengan jumlah kursi 99. Tingginya suara yang diraih selain karena kontestan Pemilu hanya 3, juga dikarenakan PPP-lah sebagai satu-satunya partai yang menjadi saluran politik kelompok Islam. Bila tidak dicurangi oleh Golkar dan ABRI, suara PPP bisa lebih tinggi bahkan bisa memenangi Pemilu. Kejayaan PPP di masa Orde Baru inilah yang dijadikan jargon kembali oleh Suryadharma Ali.

Namun untuk mengulangi kejayaan PPP seperti masa Orde Baru, itu sebuah hal yang sulit. Banyak faktor yang menyebabkan hal yang demikian. Pertama, PPP dulu besar karena merupakan fusi dari partai-partai Islam yang ada seperti Parmusi, NU, Perti, dan PSII. Suara-suara dari pendukung keempat partai itulah yang semuanya mengalir ke PPP.

Namun pasca era reformasi, partai-partai Islam tidak lagi menyatu di PPP. Banyak unsur-unsur fusi mendirikan partai baru, seperti warga NU membikin PKB, kemudian lahir PBB, PAN, PKS, dan partai-partai gurem Islam lainnya, dengan nama PSII maupun Perti. Bahkan menjelang Pemilu 1987, NU sudah jauh-jauh hari kembali ke Khittah 1926 dan menyatakan keluar dari PPP. Berfisinya (membelah) unsur-unsur yang ada tentu mempengaruhi perolehan suara PPP, terbukti dari pemilu ke pemilu suara PPP semakin berkurang. Pada Pemilu 2004 PPP meraih suara 8,2%, namun pada Pemilu 2009 turun menjadi 5,3%. Kondisi yang demikian mengancam keberadaan PPP pada Pemilu 2014 bila parlemen threshold 5%. PPP akan hilang dalam percaturan politik bila tidak bisa melampui parlemen threshold yang ditetapkan itu.

Bila PPP tak melampaui parlemen threshold, maka PPP hanya akan menjadi cerita dari sejarah perjalanan politik Indonesia. Ia akan seperti Masyumi, PNI, dan partai besar lainnya, sebagai partai yang besar namun tidak mampu bertahan.

Kedua, PPP terancam hilang dari percaturan politik, seperti pemaparan di atas, tidak hanya karena berfisinya unsur pendukung, namun selama ini PPP telah gagal mengakomodasi dan mengakselerasi kepentingan ummat. PPP khususnya dan partai Islam lainnya, selama ini lebih asyik dengan konflik internal, juga terjebak pada masalah-masalah yang sudah selesai, seperti masalah nasionalisme dan Islam, serta masalah haram dan halal. Karena asyik dengan masalah itu, PPP jadi lupa memperjuangkan kepentingan ummat.

Akibat dari PPP yang tidak bisa memperjuangkan aspirasi ummat, maka PPP ditinggalkan oleh pendukungnya. Hal yang demikian diakui oleh Suryadharma Ali sendiri. Dalam sebuah kesempatan membuka Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) II dan Harlah XXXVII PPP (Partai Persatuan Pembangunan), di Medan, Sumatera Utara, Januari 2010, Ketua Umum PPP Suryadharma Ali mengatakan, isu keislaman tidak mampu mendongkrak dukungan bagi partai Islam. Ini bisa terjadi karena dikatakan, persoalan krusial yang menjadi perhatian utama masyarakat adalah keterjangkauan harga kebutuhan pokok, bukan lagi pada isu ritual keagamaan.

Sementara partai-partai politik Islam, saat-saat ini, masih mengemukakan isu keislaman yang masih pada tataran simbol dan ritual keagamaan. Untuk itu Suryadharma Ali mengharap, PPP harus bisa mengartikulasikan gagasan yang lebih membumi dan menyentuh hajat hidup orang banyak.

Ketiga, bila PPP tetap mau eksis pada Pemilu 2014, PPP akan terancam dengan jati dirinya sebagai partai Islam. Di tengah semakin cerdasnya masyarakat dan pragmatisme, ideologi dan agama partai seolah-olah menjadi tidak penting. Rakyat sekarang memilih partai karena tidak lagi dilandasi ideologi dan agama namun sejauh mana partai itu bisa memperjuangkan kepentingannya.

Berdasarkan pengalaman Pemilu 2009, bahwa partai yang berhaluan nasionalis (religius) adalah partai yang memenangi Pemilu, seperti Partai Demokrat, Partai Golkar, dan PDIP. Berdasarkan pengalaman Pemilu 2009 itulah maka beberapa partai Islam bergerak dari arah kanan menuju ke tengah. Tujuannnya selain untuk meningkatakan perolehan suara, juga upaya untuk melepaskan diri dari tingginya parlemen threshold.
Hal yang demikian sudah dilakukan oleh PKS. Partai dakwah ini menyatakan diri sebagai partai yang terbuka, dengan bukti banyaknya anggota wakil rakyat dari PKS di Indonesia bagian timur adalah non-Muslim. Sebagai partai terbuka, PKS terbukti mampu meningkatkan perolehan suaranya. Pada Pemilu 2004, PKS meraih suara 7,3%, pada Pemilu 2009 suaranya naik menjadi 7,9%.

Untuk bisa mendulang suara lebih banyak dan lolos dari parlemen threshold yang tinggi, sebenarnya salah satu kandidat Ketua Umum PPP periode 2011-2016, Ahmad Muqowam, mencoba membuka diri dengan memperkenankan caleg non-Muslim di PPP, namun entah mengapa, usulan itu tiba-tiba dicabut sendiri.

Untuk bisa eksis pada Pemilu 2014 memang PPP harus membuka diri sebagai partai terbuka, seperti PKS, namun dengan membuka diri maka itu menjadi ancaman bagi PPP sendiri yang masih tetap menyatakan sebagai partai Islam dan tertutup dari kalangan non-Muslim.

Hal-hal inilah yang menjadi renungan bagi PPP selama muktamar, untuk mengelola agar hambatan dan rintangan itu bisa diatasi, sehingga PPP masih bisa ada pasa Pemilu 2014. Mungkin semuanya tidak ingin PPP hilang selepas Pemilu 2014, seperti hilangnya Masyumi, PNI, dan partai besar lainnya dalam percaturan politik di Indonesia. PPP sejak 1973 hingga saat ini sudah banyak memberikan kontribusi yang positif terhadap jalannya proses kebangsaan, kenegaraan, dan keummatan. Dan kiprah-kiprah selanjutnya tetap ditunggu oleh ummat dan rakyat. Selamat Bermuktamar PPP.

Ardi Winangun
Pengamat Politik


(//mbs)

RESENSI »

Jembatan Merah Menggugah Bumi Pertiwi
Jembatan Merah Menggugah Bumi Pertiwi

Setengah abad lebih petualangan anak-anak negeri bergelora mengumandangkan kemerdekaannya, tetapi mengapa bekas perjuangan mereka tidak mengukir di dada para pewaris negeri?

SUARA KEBON SIRIH »

Okezone Gelar Try Out Online UN 2014
Okezone Gelar <i>Try Out Online</i> UN 2014

DALAM waktu dekat, siswa SMA sederajat akan mengikuti Ujian Nasional (UN) 2014 pada 14 April. Ujian ini merupakan puncak kelulusan siswa di bangku sekolah.

CATATAN REDAKSI »

Melanggar Hukum di Sekolah Asing
Melanggar Hukum di Sekolah Asing

SEKOLAH adalah wadah untuk mendidik anak-anak. Tujuannya, mengajarkan anak untuk menjadi individu yang mampu memajukan bangsa.

ETALASE »

Kabut Asap Kembali Selimuti Riau, Siapa yang Salah?
Kabut Asap Kembali Selimuti Riau, Siapa yang Salah?

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan merupakan bencana paling menakutkan bagi warga Riau. Dampaknya sangat menyengsarakan warga, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan lainnya.

OPINI »

Ahmad Bhumi Nalaputra
Sikap Indonesia Terhadap Aneksasi Rusia di Ukraina
Sikap Indonesia Terhadap Aneksasi Rusia di Ukraina

Tindakan unilateral Rusia dalam menduduki daerah Crimea yang merupakan bagian dari negara Ukraina, merupakan preseden buruk bagi kedaulatan negara dan penegakan hukum internasional.