news okezone.com
Okezonenews » Home » Opini » Kearifan Lokal

getting time ...

OPINI

Sarlito Wirawan Sarwono

Kearifan Lokal

Minggu, 10 Juli 2011 11:13 wib

Sejak zaman dulu sebagian orang Ambon beragama Islam, konon, karena pengaruh pedagang-pedagang muslim yang juga menyebarkan ajaran Islam di pulau-pulau lain di Nusantara.

Sebagian lain beragama Kristen karena pengaruh misionaris Kristen yang ikut dengan kapal-kapal pedagang Belanda yang mencari rempah-rempah. Tetapi, mereka merasa bersaudara karena merasa keturunan dari leluhur yang sama dan mempunyai sejarah yang sama.

Kata sahibulhikayat, di Pulau Saparua, Negeri (orang Jawa menyebutnya desa atau kampung) Siri-Sori Islam atau disebut juga Negeri Louhata pernah bersatu dengan Negeri Haria atau disebut juga Negeri Leawaka (Kristen) untuk menyerang pertahanan Belanda di Benteng Derustede, Kota Saparua.

Kapitang Said Perintah dari Louhata, otak dari rencana penyerbuan ini, memerlukan seorang panglima perang. Maka dia mengadakan sayembara: barang siapa yang bisa berdiri di atas mata tombak yang ditancapkan ke bumi, akan dijadikan panglima.

Banyak kapitang (saya duga artinya adalah pejuang atau kesatria, karena Pattimura juga bergelar kapitang) di kedua desa itu, tetapi hanya seorang kapitang asal Leawaka yang berani menginjak tombak, sehingga kakinya tembus.

Said Perintah kemudian menampung darah kapitang asal Leawaka itu dengan tangannya dan meminumnya sambil berucap, ”Pela!” (artinya Habis!) dan menunjuk kapitang asal Leawaka itu untuk menjadi panglima yang akan memimpin penyerbuan.

Maka sejak hari itu kedua desa yang berbeda kepercayaan itu berikrar untuk ber-pelagandong, bersaudara sedarah, yang artinya harus saling menjaga dan saling melindungi, bahkan antarwarga kedua negeri dilarang saling menikah, karena dianggap seperti pernikahan antara adik dan kakak.

Sejak hari itu pula ikatan pela gandong menjadi pranata adat yang dijunjung tinggi di seluruh masyarakat Ambon, yang secara berkala dikukuhkan dengan upacara adat yang dinamakan Panas Pela. Dalam upacara adat itu kedua umat bersatu melaksanakan upacara penghormatan kepada leluhur yang satu, yang telah menurunkan mereka semua, baik yang Islam maupun yang Kristen.

Tetapi dengan makin canggihnya sarana perhubungan (kapal laut, kemudian kapal terbang) dan sarana komunikasi dan informasi (dulu surat, telepon, sekarang SMS, Black- Berry Messenger), maka terjadilah apa yang disebut pemurnian agama. Pendeta-pendeta muda Ambon belajar ke luar negeri untuk mendalami teologi Kristen, dan pemudapemuda Islam belajar di pesantren-pesantren atau sekolah-sekolah di Jawa.

Begitu juga tokoh Kristen dan tokoh Islam dari luar, bergantian mengunjungi Ambon. Maka apa-apa yang tadinya biasa-biasa saja (memuja leluhur, saling ikut merayakan Natal dan Idul Fitri, pernikahan lintas agama), sekarang mulai dipertanyakan, bahkan diharamkan oleh kedua belah pihak.

Akibatnya persaudaraan yang sudah mendarah daging makin lama makin tidak diikuti lagi. Lebih parah lagi setelah lahirnya UU Nomor 5/1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah,semua sistem pemerintahan seluruh Indonesia harus diseragamkan. Di Ambon, satuan wilayah adat negeri dihapuskan, diganti dengan satuan wilayah negara yang disebut desa atau kelurahan.

Para raja (kepala adat desa) kehilangan statusnya, karena digantikan dengan lurah/ kepala desa. Dengan begitu tidak ada lagi upacara panas pela untuk mengukuhkan pela gandong. Tidak mengherankan ketika terjadi kerusuhan,Ambon langsung terpecah menjadi dua fraksi, Kristen dan Islam, yang baku-perang selama hampir 5 tahun (1999-2004) dengan korban nyawa yang ribuan jumlahnya.

Baru pada sekitar tahun 2005, kedua pihak mau berbaku-bae (berdamai) setelah beberapa LSM berusaha menghidupkan kembali kearifan lokal berupa pranatapranata budaya yang selama ini justru dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama, yaitu pela gsandong dan panas pela. ***

Di seluruh Indonesia banyak kearifan-kearifan lokal yang telah mempertautkan bangsa ini menjadi satu komunitas besar.Di tingkat nasional atau negara bangsa, kearifan lokal itu adalah Pancasila.Intinya: Sumpah Pemuda,yang hanya mengandung tiga hal,yaitu

”Satu Bangsa, Satu Nusa, dan Satu Bahasa: Indonesia”. Kalau sudah Indonesia, maka selebihnya terserah masingmasing. Ada 360 lebih bahasa daerah, silakan. Ada berapa banyak pun agama, kepercayaan atau sekte, monggo. Mau dangdutan, campur sari, jazz, atau wayangan, mangga... (kata Sunda yang sopan, ”a”- nya harus dibaca panjang).

Atau mau partai merah, kuning, biru, ungu, atau mau golongan putih, oke... (sambil mengacungkan tiga jari gaya metal).Di Ambon,pela gandong adalah kearifan tingkat lokal. Pertama saling bersaudara dulu, baru sesudah itu yang mau Kristen atau Islam tidak ada masalah.

Di Jawa Tengah (khususnya di wilayah-wilayah keraton) lain lagi. Satu Muharam, yaitu peringatan tahun baru Hijriah, dirayakan dengan upacara adat. Pusaka-pusaka keraton digelar,sesajen kepada leluhur dan Nyai Loro Kidul di sajikan. Doa-doanya, lafal Alquran, tetapi masyarakat, yang salat dan yang tidak salat, yang muslim dan nonmuslim, tuamuda, besar-kecil, sama-sama berebut sesajen,ngalap berkah dari Sinuwun dan Ratu dari Pantai Selatan, alias Nyai Loro Kidul.

 Seperti orang Ambon, orang Jawa tidak pernah berpikir tentang kemusyrikan ketika saling berebut sesajian itu.Yang penting berkah.Titik. Begitu juga orang Minang. Etnik ini mempunyai ungkapan ”Adat basandi syarak,syarak basandi kitabullah, syarak mangato adat mamakai.

”Artinya, adat tidak bisa dilepaskan dari agama (Islam), apalagi saling bertentangan. Mereka sangat yakin itu, dan tidak ada yang ambil pusing bahwa sistem matrilineal dalam adat Minang bertentangan dengan syariat Islam yang patrilineal. Tetapi kearifan-kearifan lokal itu sekarang dipertanyakan.

Ada kalanya oleh undangundang negara, ada kalanya oleh kalangan agama. UU Nomor 5/1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah yang sudah disebutkan di atas adalah contoh dari suatu aturan negara yang tidak relevan dengan situasi lokal; malah menimbulkan masalah lokal.

Contoh lain, pernah terjadi pada suatu kecelakaan lalu lintas di Kalimantan Barat.Ketika antara keluarga korban dan keluarga pelaku sudah terjadi kesepakatan damai secara adat (membayar denda adat),Kapolsek tetap melanjutkan perkara ini secara hukum, terus ke kejaksaan dan pengadilan, sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku.

Maka keluarga pelaku batal membayar denda adat (tidak mau kena sanksi dua kali),dan kasus ini berlanjut dengan pertikaian antarkeluarga. Gerakan pemurnian agama (Islam) juga telah masuk ke wilayah segregasi (dilarang jabat tangan dengan lawan jenis, haram saling mengucapkan selamat Idul Fitri/Natal, tidak boleh meniup lilin ulang tahun, dsb).

Bahkan sudah ada pemikiran dari salah satu sekte tertentu, bahwa peringatan 1 Muharam dan Maulud Nabi adalah bidah (sesat) karena tidak pernah dilakukan oleh Rasullulah dan mengingatkan kepada acara tahun baru dan hari Natal. Kalau dibiarkan, saya khawatir lama-lama NKRI akan terancam keutuhannya.

Secara vertikal tantangan datang dari daerah-daerah yang tidak puas dengan kebijakan pusat (contoh GAM, OPM), secara horizontal akan terjadi konflik berkepanjangan di antara kelompok- kelompok agama seperti yang sudah terjadi di Ambon, Poso, penyerangan gerejagereja, kasus Ahmadiyah,dll.

Mau tidak mau pencegahannya adalah kembali kepada Pancasila sebagai kearifan lokal tingkat nasional, yang memberi kebebasan kepada kearifan lokal tingkat lokal.

SARLITO WIRAWAN SARWONO
Guru Besar Fakultas Psikologi UI


(//mbs)

RESENSI »

Ini Bukan Avatar, Tapi Dajjal!
Ini Bukan Avatar, Tapi Dajjal!

Ketika membaca, mendengar atau mengatakan kata Dajjal, yang pertama terpikirkan adalah apakah Dajjal sudah dekat?

SUARA KEBON SIRIH »

Chief Content News Baru di Okezone.com
Chief Content News Baru di Okezone.com

PORTAL berita nasional, Okezone.com, memiliki Chief Content News (Pemimpin Redaksi News) baru, yakni Syukri Rahmatullah.

CATATAN REDAKSI »

BBM Naik Rp3.000, Jokowi dan Rumah Transisi
BBM Naik Rp3.000, Jokowi dan Rumah Transisi

Baru-baru ini, anggota Tim Transisi Jokowi melontarkan pernyataan mengejutkan soal kenaikan harga BBM.

ETALASE »

"Munir" Tetap Suarakan Keadilan

Sunyi, kala belasan pegiat hak asasi manusia (HAM) dari Jaringan Pemuda Batu mengunjungi sebuah makam di TPU Kelurahan Sisir, Kota Batu, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

OPINI »

Media dan "Revolusi Mental"
Media dan

ADA satu istilah baru yang menarik dalam konstelasi politik belakangan ini, yakni Revolusi Mental.