news okezone.com
Okezonenews » Home » Resensi » Wacana Gender di Lingkungan Pesantren

getting time ...

RESENSI

Wacana Gender di Lingkungan Pesantren

Jum'at, 29 Juli 2011 09:34 wib

Judul : Konstruksi Sosial Gender di Pesantren, Studi Kuasa Kiai atas Wacana Perempuan
Penulis : Dr. Ema Marhumah
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Cetakan : I Januari 2011
Tebal : xviii + 206 halaman

Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia memiliki peranan yang penting dalam proses doktrinasi keagamaan dan memiliki peran besar dalam hal sosialisasi gender. Hal ini disebabkan adanya perubahan mendasar dalam proses sosial gender yang menuju arah egaliter dan salah satunya berasal dari lingkungan pesantren.

Di lingkungan pesantren, Kiai dan Nyai memiliki peranan dalam mendistribusikan nilai-nilai luhur Islam kepada para santri pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Proses transfer berikutnya dilakukan oleh para santri sebagai garda terdepan dalam dakwah Islam yang seharusnya memiliki wacana keagamaan yang sensitif gender.

Namun pada kenyataannya, wacana terkait kesetaraan gender masih sering menjadi polemik di lingkungan pesantren. Bahkan, upaya untuk mensosialisasi ini tak jarang mendapatkan resistensi dari sebagian kalangan pesantren. Hal ini dikarenakan anggapan bahwa gender merupakan produk Barat yang berkembang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Alhasil, mayoritas pesantren di wilayah Indonesia masih tetap mempertahankan nilai-nilai gender tradisional yang sebagian  besar bersumber pada kitab-kitab klasik karangan ulama terdahulu. Adapun kajian dalam kitab-kitab tersebut masih mengadopsi nilai-nilai lama yang mengedepankan superioritas laki-laki sehingga posisi wanita seolah-olah termarginalkan (subordinasi).

Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin memberikan apresiasi tinggi kepada wanita. Segala hal yang berusaha menyudutkan wanita baik marginalisasi, diskriminasi, ataupun subordinasi tidak pernah lahir dari ajaran Islam. Justru perlu adanya rekonstruksi terhadap pemahaman yang kabur mengenai konstruksi gender terutama di lingkungan pesantren.

Gender dapat dipandang mendobrak pola relasi yang selama ini sudah mengakar dalam Islam terutama wacana gender di lingkungan pesantren. Dengan demikian bisa dipastikan pemahaman gender di pesantren cenderung banyak menggunakan pemikiran gender tradisional yang memandang relasi perempuan dan laki-laki akan berjalan dengan sendirinya berpedoman pada ajaran teks klasik. Padahal, harus disadari ajaran yang terkandung selama ini masih menempatkan laki-laki pada posisi superior dan perempuan cenderung tersubordinasi. Oleh karena itu, menurut buku ini salah satu upaya mereposisi wacana gender di pesantren harus dimulai dari pola relasi para pengasuh pesantren yang setiap saat berhubungan dengan para santri.

Begitu pun dalam kitab-kitab dan kurikulum yang diajarkan kepada para santri. Pemahaman yang mendalam dari para pendidik akan berdampak jangka panjang berupa pembentukan karakter yang sadar gender. Semua hal yang meminggirkan dan mendiskriminasikan perempuan harus adanya kajian mendalam dalam upaya merekonstruksi pemahaman gender dalam Islam di lingkungan pesantren secara menyeluruh.

Buku bertajuk “Konstruksi Sosial Gender di Pesantren, Studi Kuasa Kiai atas Wacana perempuan” ini berusaha memaparkan tentang peranan para Kiai dan Nyai dalam pembentukan diskursus gender dalam Islam yang dominan di lingkungan pesantren dan secara kuat mempengaruhi pandangan para santri mengenai isu gender dalam Islam. Sebagai pelaku utama, Kiai dan Nyai memiliki pengaruh terkuat dalam transfer informasi dan ajaran agama yang mengandung pesan bermuatan gender selain sebagai panutan dalam hal perilaku keseharian.
 
Buku ini terbagi dalam enam pokok bahasan, hasil disertasi Dr. Ema Marhumah mengupas tuntas tentang pola sosialisasi gender di dua pondok pesantren yaitu Pondok Pesantren Al Munawwir sebagai representasi pesantren salaf dan Pondok Pesantren Ali Maksum sebagai representasi pondok modern. Dalam bab ketiga dipaparkan siapa saja agen sosialisasi gender di pesantren, mulai dari para Kiai sampai pada teman sebaya para santri. Tak lepas dari alur yang telah ada, peran, metode dan media dalam sosialisasi gender di pesantren menjadi bagian menarik dengan adanya klimaks ketegangan dalam proses sosialisasi gender di pesantren.

Kajian mengenai sosialisasi gender di pesantren ini menyajikan gambaran komprehensif tentang diskursus dan konstruksi sosial gender di pesantren dimana para pemimpin pesantren terbukti memiliki andil paling signifikan dalam upaya konstruksi peran sosial gender tradisional. Terbitnya buku ini memberikan sumbangan penting bagi arus kuatnya pemahaman gender di tanah air.

Abdul Aziz Musaehi Maulana Maki
Penikmat buku, tinggal di Yogyakarta
Penulis aktif menulis berbagai bentuk artikel, resensi, opini, essai, dan telah dimuat di berbagai media masa baik lokal maupun nasional seperti: koran Harian Jogja, Merapi, solo pos, koran joglosemar, Seputer Indonesia, suara merdeka, kompas, jawa pos, lampung pos dan lain-lain.


(//mbs)

RESENSI »

Jembatan Merah Menggugah Bumi Pertiwi
Jembatan Merah Menggugah Bumi Pertiwi

Setengah abad lebih petualangan anak-anak negeri bergelora mengumandangkan kemerdekaannya, tetapi mengapa bekas perjuangan mereka tidak mengukir di dada para pewaris negeri?

SUARA KEBON SIRIH »

Okezone Gelar Try Out Online UN 2014
Okezone Gelar <i>Try Out Online</i> UN 2014

DALAM waktu dekat, siswa SMA sederajat akan mengikuti Ujian Nasional (UN) 2014 pada 14 April. Ujian ini merupakan puncak kelulusan siswa di bangku sekolah.

CATATAN REDAKSI »

Melanggar Hukum di Sekolah Asing
Melanggar Hukum di Sekolah Asing

SEKOLAH adalah wadah untuk mendidik anak-anak. Tujuannya, mengajarkan anak untuk menjadi individu yang mampu memajukan bangsa.

ETALASE »

Kabut Asap Kembali Selimuti Riau, Siapa yang Salah?
Kabut Asap Kembali Selimuti Riau, Siapa yang Salah?

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan merupakan bencana paling menakutkan bagi warga Riau. Dampaknya sangat menyengsarakan warga, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan lainnya.

OPINI »

Ahmad Bhumi Nalaputra
Sikap Indonesia Terhadap Aneksasi Rusia di Ukraina
Sikap Indonesia Terhadap Aneksasi Rusia di Ukraina

Tindakan unilateral Rusia dalam menduduki daerah Crimea yang merupakan bagian dari negara Ukraina, merupakan preseden buruk bagi kedaulatan negara dan penegakan hukum internasional.