news okezone.com
Okezonenews » Home » Fokus » Rawagede, dari Chairul Anwar hingga Lempar Koin (3)

getting time ...

FOKUS

Rawagede, dari Chairul Anwar hingga Lempar Koin (3)

Awaludin - Okezone
Senin, 12 Desember 2011 16:30 wib
Monumen perjuangan rakyat Rawagede dibuat mirip bangunan piramida (foto: Awaludin)
Monumen perjuangan rakyat Rawagede dibuat mirip bangunan piramida (foto: Awaludin)

Karawang-Bekasi, Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Chairil Anwar (1948)

Petikan puisi itu begitu fenomenal dari maestro puisi Indonesia, Chairil Anwar. Karya sastra yang sangat terkenal ditulis pada masa-masa perjuangan dan penjajahan setelah kemerdekaan.

Menurut sejarah, Chairil Anwar terinspirasi menulis puisi tersebut di atas tanah yang kini berdiri tegak Monumen Perjuangan Rawagede, tempat dimakamkan 483 orang setelah dibantai tentara Belanda.

Karena memiliki nilai sejarah, monumen itu menjadi tempat wisata sejarah. Ini bentuk penghargaan untuk mengenang peristiwa berdarah 64 tahun silam. 

Berdiri di atas tanah yang luas, monumen dimulai pembangunannya pada November 1995. Satu tahun kemudian, 12 Juli 1996, monumen itu diresmikan oleh Mayor Jenderal Taryo Tarmadi, Panglima Kodam Siliwangi, sekaligus mengukuhkan Yayasan Rawagede.

Monumen dibuat mirip bangunan piramida. Terdapat dua lantai. Di lantai bawah ada patung yang dilapisi kaca tebal dan memperlihatkan peristiwa pembantaian warga oleh tentara Belanda.

Pantauan okezone, dinding luar bagian bawah dihias relief yang menggambarkan peristiwa perjuangan rakyat Rawagede.

Khusus pada panel bagian belakang relief digambarkan perjuangan rakyat Karawang di daerah Rawagede saat mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan.
 
Makam pahlawan di bagian belakang diberi nama 'Sampurna Raga'. Di samping timur jalan masuk makam pahlawan terdapat data korban peristiwa tindakan militer Belanda di Rawagede yakni pada 9 Desember 1947 tercatat 431 orang, 1 Januari-Oktober 1947 tercatat 35 orang dan untuk 1 Juli-November 1947 tercatat 17 orang.

Sehingga jumlah keseluruhan 483 orang dari jumlah ini yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Sampurna Raga hanya 281 orang.

Diyakini, setiap memasuki monumen itu, bulu kuduk akan merinding. Hawa senyap begitu terasa. Uniknya, setiap warga dan pengunjung yang memasuki ruang itu, selalu melempar uang. Belum diketahui alasan pelemparan uang koin dan lembaran itu.

“Kalau melempar uang itu hanya pengunjung aja yang iseng-iseng melemparkannya. Sampai sekarang saya masih belum mengerti makna dari pelemparan uang koin itu, silahkan mengartikan sendiri,” ucap Ketua Yayasan Rawagede, Sukarman kepada okezone di Monumen Perjuangan Rawagede, Jum’at lalu.

Untuk bisa berwisata ke monumen dan makam Rawagede, Karawang pengunjung cukup mengeluarkan Rp500-Rp1000 saja. Kebanyakan dari pengunjung adalah anak-anak sekolah. 

Menurut Sukarman, perawatan monumen dan makam ini, melibatkan setiap anggota yayasan Rawagede setiap harinya. Namun sayang, ini belum mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.

“Dulu SK Bupati ada untuk memberikan bantuan, tapi kalau sekarang sudah tidak ada lagi. Insya Allah kita akan bicarakan ini kepada Bupati,” pungkasnya.
 
Apalagi, bangunan dan makam ini sudah memberikan kehidupan bagi keluarga korban dan warga sekitar untuk penghidupan sehari-hari. Selain juga memiliki nilai sejarah tinggi. “Ini bisa jadi andalan wisata sejarah di Karawang, sekaligus memberikan pembelajaran anak-anak muda bagaimana perjuangan rakyat Rawagede mempertahankan kemerdekaan,” jelas Sukarman.

Masa Depan Keluarga Korban
 
Meski tampak sepi di hari-hari biasa. Tapi, bila jatuhnya hari Sabtu, Minggu dan libur, monumen ramai pengunjung. Mulai dari keluarga, siswa sekolah, hingga pasangan muda-mudi yang sekedar kongkow-kongkow.

Minat orang untuk melihat dari dekat makam bersejarah itu, lantaran, lokasinya strategis, mudah dijangkau. Dari Jakarta, dapat ditempuh dalam waktu satu jam, bila melalui jalan tol. Lokasi Monumen Rawagede itu sendiri, terletak di Kecamatan Rawamerta 10 km dari Ibu Kota Kabupaten Karawang.

Hanya saja, memasuki area makam, jalan yang lebarnya hanya 4 meter, sedikit berlubang. Sehingga memperlambat laju kendaraan. Kecepatan hanya 5-10 km/jam saja. Maklum, setelah dua tahun, jalan belum pernah lagi diperbaiki.

Sepanjang jalan menuju monumen, pengunjung juga akan menemui para penjaja makanan dan kerajinan tangan karya warga setempat.

Memang, hanya sedikit masyarakat Desa Balongsari, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, Jawa Barat yang menggantungkan hidup dari keberadaan monumen dan makam itu, karena umumnya mereka bertani.
 
Hal itu, dapat dilihat dari hamparan sawah yang luas, bukti pertanian masih menjadi salah satu harapan pendapatan dari sebagian besar masyarakat kampung itu.

“Bertani dan berdagang (mata pencaharian warga), meski ada juga yang mejadi buruh dan TKI di Arab Saudi dan Malaysia,” kata Nursiti, wanita pedagang sembako itu kepada okezone di Kediamannya, Jum’at (9/12/2011).

Menurutnya, warga betul-betul memanfaatkan sumber daya alam yang ada untuk menambal hidup.
 
Sementara, kondisi rumah penduduk di desa itu, sebagian besar sudah dikatakan modern. Meski ada juga warga yang masih mempertahankan rumah model lama menggunakan dinding dari anyaman bambu.

Sedangkan untuk generasi keluarga korban, rata-rata mengenyam pendidikan hingga SMU. Tapi tidak sedikit, yang hanya lulusan SD dan SMP.
 
Wakil Sekjen Partai Demokrat Saan Mustofa mengatakan, kondisi ini akan dijadikan sebuah momentum baik pemerintah pusat dan daerah. Perhatiannya itu memikirkan masa depan para generasi korban Tragedi Rawagede seperti lewat beasiswa.

Pemberian Kompensasi, kata Saan, terhadap para korban tidak bisa dihargai dengan uang. ”Tapi sebuah etikat baik ya kita hargai, tapi sekali lagi tidak hanya sampai disitu. Seharusnya bagaimana memperhatikan kelangsungan hidup mereka,” kata Saan yang ikut hadir dalam acara permintaan maaf dari Belanda yang dilangsungkan di Monumen Perjuangan Rawagede, Karawang, Jawa Barat, Jumat lalu.



(amr)

RESENSI »

Ingin Sarjana Sebelum Buta
Ingin Sarjana Sebelum Buta

Dokter memvonis tiga bulan lagi sepasang mata mahasiswi itu akan buta total. Sekarang, satu matanya memang sudah tidak bisa digunakan untuk melihat.

SUARA KEBON SIRIH »

Chief Content News Baru di Okezone.com
Chief Content News Baru di Okezone.com

PORTAL berita nasional, Okezone.com, memiliki Chief Content News (Pemimpin Redaksi News) baru, yakni Syukri Rahmatullah.

CATATAN REDAKSI »

Pemimpin Cengeng di Negeri "Surga" BBM
Pemimpin Cengeng di Negeri

DALAM dua pekan terakhir bangsa Indonesia dihadapkan dengan pembatasan kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

ETALASE »

Derita Balita Pengungsi Korban Tsunami Mentawai
Derita Balita Pengungsi Korban Tsunami Mentawai

Gizi buruk dialami sejumlah anak dari pengungsi korban tsunami Mentawai. Minimnya asupan makanan bergizi serta lingkungan yang kotor turut berkontribusi membuat anak-anak tumbuh secara tidak normal.

OPINI »

Ayipudin
Merajut Kembali Kemerdekaan Kita
Merajut Kembali Kemerdekaan Kita

Hari kemerdekaan ibarat lahirnya sang fajar ketika awan gelap membungkus negeri ini dengan pesimisme.