news okezone.com
Okezonenews » Home » Fokus » Berebut Pasar Jelang Pembatasan BBM (1)

getting time ...

FOKUS

Berebut Pasar Jelang Pembatasan BBM (1)

Senin, 09 Januari 2012 14:59 wib
SPBU Pertamina (foto: Heru Haryono/okezone)
SPBU Pertamina (foto: Heru Haryono/okezone)

ANTREAN mobil itu mengular sepanjang 20 meter di SPBU 34.13602 Dewi Sartika, Jakarta Timur. Bahkan ada yang sampai ke jalan raya. Mobil pelat hitam buatan 2005 ke atas itu antre dipengisian premium Pertamina.

Rata-rata mobil yang mengisi bahan bakar ke SPBU ini adalah mobil keluaran baru. Mulai dari mobil buatan Jepang sampai Eropa.

Ada sedan jenis Honda Stream, Avanza, Ford, BMW, Kijang Inova, Suzuki APV, Honda Jazz bahkan satu Alphard ikut berjajar bersama angkot M.16, jurusan Ps.Minggu-Kp.Melayu.

Dari lima dispenser (tanki penyimpanan BBM) yang tersedia, hanya dispenser pertamax dan solar yang sepi pengunjung. Tiga dispenser lainnya terisi penuh kendaraan roda empat yang hendak mengisi BBM bersubsidi. Sementara motor terpisah.

Antrean memanjang itu membuat mobil yang berada di jalur premium harus bersabar menunggu hingga 15 menit untuk mencapai dispenser premium. Okezone berada diantaranya.

“Isi berapa pak?” tanya petugas pengisian SPBU. “Mulai dari nol ya” sapa petugas lagi. “pas ya pak” kata petugas usai mengisi. Memang, SPBU Pertamina punya slogan ‘Pasti Pas’.

“Jelang pembatasan BBM, sudah ada peningkatan mobil yang beralih ke pertamax,” tanya okezone kepada petugas, “Belum pak, masih normal-normal saja,” jawab petugas.

Tidak langsung bergegas, usai mengisi, okezone memarkirkan mobilnya, menepi dan mencoba mewancarai sejumlah kendaraan pribadi pengisi BBM bersubsidi.

Arif Budiman, pemilik Honda Stream buatan 2009 ini mengaku sudah lama menggunakan BBM bersubsidi, katanya lebih irit, karena sering ke luar kota, makanya memilih menggunakan BBM bersubsidi. “Lumayan irit, pertamax mahal,” ujarnya.

Mobil lain yang juga pengguna BBM bersubsidi, sebut saja Dirli, wanita pengguna mobil Toyota Avanza ini, mengaku menggunakan premium karena cocok dengan kantong anak mahasiswa. “Lebih murah saja, premium pas ama kantong saya,” katanya tertawa.

Spanduk yang terpasang di setiap sudut SPBU Pertamina, berisi imbauan bahwa “Premium adalah BBM Bersubsidi hanya untuk golongan yang tidak mampu”, hanya hiasan saja.

Ditempat lain, okezone juga mencoba melipir ke pengisian SPBU Shell, tampak berbeda dari SPBU milik Pertamina, yang selalu padat.

SPBU milik negara Belanda yang sejak 2005 mangkal di Indonesia ini, sedikit berbeda pelayanannya. Memasuki SPBU Shell di Jalan MT Haryono, Jakarta Timur, langsung mendapat sapaan agak berbeda dari petugas pengisian. “Selamat sore”, sapa petugas Shell yang diiringi senyum manis.

Tidak banyak memang mobil yang sedang mengisi bahan bakar di SPBU itu. Hanya dua, tiga mobil saja. Ada pelayanan khusus pastinya, sambil bensin diisi, petugas melayani pembeli dengan membersihkan kaca mobil depan dan belakang.

“Ini wajib dilakukan, membersihkan kaca dan mengecek ban kendaraan, bila kurang angin kita tambah,” ucap seorang petugas SPBU Shell.

Menurut dia, Shell selalu melakukan inspeksi pelayanan ke setiap SPBU minimal satu kali setiap bulan. Karena itu para petugas SPBU Shell wajib melayani konsumen dengan sungguh-sungguh.

Shell berupaya menawarkan pelayanan yang baik kepada konsumennya. Selain harga tidak jauh berbeda, lebih irit, faktor keamanan diutamakan.

Bila ditempat lain mengisi bahan bakar dengan keadaan mesin menyala, maka di Shell mesin harus mati, bila tidak petugas dilarang melayani.

Namun dibalik keunggulan Shell, cara pembayaran dirasakan tidak cocok dengan orang-orang Indonesia. Di Pertamina, isi bensin langsung bayar ditempat.

Sementara di Shell, petugas yang mengisi bahan bakar ke tangki bensin tidak diperbolehkan memegang uang, sehingga ada jeda waktu dari petugas SPBU yang menuang ke kasir.

”Memang agak lama untuk orang yang sibuk, tapi itu sudah aturan agar lebih tertib, bayar di kasir dan konsumen hanya dapat struk,” ujar petugas.

Beda Shell dengan Pertamina. Perusahaan SPBU lainnya yang juga main di Indonesia adalah Petronas. SPBU milik negara tetangga Malaysia itu, selalu sepi pengunjung, bahkan hampir tidak ada kegiatan di SPBU Petronas itu. Setiap harinya, petugas hanya ngobrol-ngobrol saja, bahkan terlihat asik makan, dan membaca koran.

Iming-iming dapat hadiah menarik setiap pembelian BBM Petronas, tetap saja tak mempengaruhi konsumen untuk mampir.

Bahkan, mendekati pelaksanaan pembatasan BBM bersubsidi, tetap saja SPBU Petronas belum menunjukkan peningkatan konsumen yang signifikan.

“Mudah-mudahan ini (pencabutan subsidi BBM) berdampak positif, setidaknya kami bisa bernafaslah,” keluh seorang petugas saat ditemui okezone, di SPBU Petronas Ciputat.

Nah, menjelang diberlakukan pelarangan mobil pelat hitam menggunakan BBM bersubsidi, akankah premium Pertamina tetap menjadi idola, atau SPBU milik asing yang selama ini kembang kempis akan menanggok berkah.

Bila merujuk data BPH Migas, jumlah SPBU Pertamina yang tersebar di wilayah Jabodetabek, masih jauh lebih unggul dengan 768 SPBU. Sedangkan Shell hanya mempunyai 41 SPBU, dan Petronas bisa dihitung dengan jari. Itupun belum ditambah SPBU yang tutup lantaran sepi.

Dengan data itu, sebetulnya Pertamina tidak perlu khawatir. Lain hal bila Pertamina tidak bisa menjaga kualitas, pelayanan dan keamanan. Ini akan jadi masalah.

***

Direktur eksekutif refor-miner institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan, masyarakat bisa saja mampir ke SPBU Shell atau Petronas yang selama ini sepi peminat.

Tentu saja, ini akan membuka peluang asing untuk menguasai ritel bisnis BBM. “Perlu aturan khusus, untuk mengatur perusahaan-perusahaan asing, seperti batasan range penjualan jangan dilepas begitu saja,” kata Pri Agung saat berbincang dengan okezone.

Kebijakan pembatasan BBM ini juga akan menimbulkan masalah baru, karena memang orang akan dirangsang untuk menjual BBM gelap. Ini akan sulit dikontrol.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa menegasakan, masyarakat tidak perlu khawatir. Pembatasan subsidi BBM tidak ada kaitanya dengan kepentingan asing atau menguntungkan asing. Ini murni untuk menekan anggaran belanja pemerintah agar tidak terus menerus terbebani besarnya subsidi BBM.

Pertamina Bersaing

Keseriusan pemerintah mengeluarkan kebijakan melarang mobil pelat hitam memakai BBM bersubsidi, menjadi perhatian Pertamina. Shell dan Petronas bisa saja jadi ganjalan.

Pertamina seharusnya semakin bergairah menatap persaingan pemasaran BBM retail nonsubsidi yang sudah di depan mata.

Vice President Corporate Communication Mochamad Harun mengaku tidak akan khawatir pelanggan akan lari ke SPBU asing bila pembatasan BBM bersubsidi diterapkan.

“Kami sedikitpun tidak khawatir, kenapa? karena memang kualitas bensin kita diatas mereka (Shell dan Petronas),” kata Mochamad Harun saat berbincang dengan okezone.

Masyarakat juga jangan berfikir produk asing selalu lebih baik kualitasnya, dari lokal. Hilangkan ketidak percayaan masyarakat dengan apa yang diproduksi dalam negeri.

“Boleh dibuktikan, bahwa produk kita itu dihasilkan dari kilang yang jauh lebih baru dibandingkan produk asing,” tuturnya.

Produk milik Pertamina memiliki oktan tinggi, juga adiktif yang sengaja diinjeksikan untuk menyempurnakan pembakaran. Keuntungan lain yang bisa diperoleh bila menggunakan produk Pertamina, bisa untuk membersihkan kerak di mesin.

“Silahkan dibuktikan, mobil-mobil yang menggunakan pertamax dan pertamax plus dengan produk bensin dengan oktan yang sama yang diproduksi perusahaan asing. Perbedaan akan terasa sekali,” tuturnya.

Masyarakat tidak perlu khawatir, soal kualitas, pelayanan dan juga keamanan akan menjadi fokus Pertamina ke depannya.

“Jadi, kita sangat siap menghadapi mereka (Shell dan Petronas). Semua akan kita perbaiki, kita akan bekerjasama dengan Kepolisian dan Pemda untuk mengawasi agar tidak terjadi penimbunan, seperti yang dikhawatirkan banyak pihak,” 

Tidak hanya itu, Pertamina juga akan menyiapkan pembangunan infrastruktur Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) jika permintaannya meningkat. “Kalau untuk Bahan Bakar Gas (BBG) kita siapkan jika demand-nya meningkat,” tegasnya.

Saat ini Pertamina mempunyai sepuluh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang ada di Jawa dan Bali. “Kami berniat menambahkan sepuluh lagi SPBG, sehingga menjadi 20 SPBG di Jawa dan Bali,” tegasnya.

Sementara untuk konversi BBM ke BBG, pertamina akan membangun delapan daughter station. Saat ini, yang dibangun baru dua yang diperkirakan akan beroperasi di Juni 2012, dan baru survey lahan saat ini untuk enam daughter station.

Ada Cara Lain

Cara lain untuk menekan masyarakat pengguna mobil baru agar tidak menggunakan BBM bersubsidi tanpa harus memberikan batasan. Bisa dilakukan dengan menaikan harga BBM jenis premium sebesar Rp1000 hingga Rp1.500, mayarakat diyakini akan beralih ke pertamax.

Direktur Eksekutif for Development of Economi and Finance (Indef) Ahmad Erani, mengatakan bahwa pembatasan akan mempelebar penyimpangan dan itu pasti ada.

Untuk itu pemerintah seharusnya menggunakan cara lain, yakni menaikan harga BBM tanpa perlu dibatasi.

“Cara ini diyakini lebih baik dan efektif. Dengan demikian pemerintah tidak perlu khawatir akan tindakan penyelewengan dan penyelundupan,” ujarnya seperti dikutip Koran Sindo.

Hasilnya, sama saja dengan pembatasan, sehingga tidak perlu lagi repot-repot memonitoring, dan pembatasan ini sejatinya adalah kenaikan harga.

(//amr)

RESENSI »

Novel Anak Tentang Persahabatan dan Kepedulian Sosial
 Novel Anak Tentang Persahabatan dan Kepedulian Sosial

Dunia anak adalah dunia masa kecil yang unik dan penuh dengan warna. Dunia di mana mereka tengah mereguk indahnya masa kecil yang polos dan menyenangkan bersama keluarga, juga teman-teman sebaya.

CATATAN REDAKSI »

Kartu Jakarta Sehat
Kartu Jakarta Sehat

Terobosan dari Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo adalah mencanangkan Kartu Jakarta Sehat (KJS) bagi 1,7 juta penduduk di Ibu Kota yang dinilai layak untuk mendapatkan keringanan biaya pada saat berobat ke rumah sakit.

ETALASE »

Lika-Liku Tradisi Bawa Kabur Gadis ala Adat Lampung
Lika-Liku Tradisi Bawa Kabur Gadis ala Adat Lampung

Tradisi sebambangan, membawa kabur gadis yang akan dinikahi ke tokoh adat, sudah memudar seiring perkembangan zaman.

OPINI »

Fathur Anas
Menimbang Energi Alternatif
Menimbang Energi Alternatif

Dunia kini sedang dilanda kebingungan akan krisis energi yang makin memperihatinkan. Di mana ketersediaan cadangan berbagai jenis energi mulai menipis, khususnya energi yang berbahan bakar minyak (BBM).