Home » Resensi
Belajar dari Sejarah Masa Lalu
Rabu, 1 Februari 2012 - 10:35 wib
Judul Buku : Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam
Penulis : Husain Heriyanto
Penerbit : Mizan Publika
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal : xxxii + 376 halaman
Penulis : Husain Heriyanto
Penerbit : Mizan Publika
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal : xxxii + 376 halaman
Benar apa yang pernah dikatakan oleh Ir. Soekarno, “jasmerah; jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Sejarah memberikan banyak inspirasi dan motivasi. Sejarah yang telah terlampaui oleh masa lalu sungguh menjadi pengalaman yang berharga di masa kini sebagai bekal untuk menjalani kehidupan di masa yang akan datang. Sejarah telah memberikan banyak kenangan dan pelajaran yang berharga.
Islam sendiri dalam perjalanannya juga memiliki sejarah yang besar. Islam pernah menjadi sebuah imperium yang besar nan berperadaban tinggi. Ketika itu, Islam mampu menghegemoni separuh dari bumi. Islam menguasai tanah dan air dari barat hingga timur. Dalam bidang ilmu pengetahuan, imperium Islam menjadi sebuah rujukan. Begitulah Islam dari abad ke-8 hingga ke-14, di mana imperium Islam begitu kokoh dan kuat.
Kehebatan tersebut kini tinggal masa lalu yang tidak pernah akan terulang sebagai suatu peristiwa yang sama. Umat Islam kini menjadi terpuruk di bawah bayang-bayang imperium dan hegemoni Barat. Umat Islam secara mayor telah tunduk dengan apa yang telah dikendalikan oleh Barat di masa kini. Begitu mudahnya Islam didikte oleh Barat dengan berbagai isu-isu kontemporer. Sementara itu, sejarah kebesaran imperium Islam justru terlupakan dari cita-cita umat Islam di masa kini.
Husain Heriyanto dengan bukunya yang berjudul “Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam” secara lugas kembali mengingatkan umat Islam di masa kini yang kian akut. Islam semakin tidak dewasa, sementara daya berpikir umat Islam juga semakin melemah. Padahal Ibn Rusyd, Ibn Sina, Al-Farabi, Al-Biruni, dan para pemikir Islam masa lalu sudah memberikan keteladanan yang mendobrak daya berpikir. Namun demikian, tokoh-tokoh hebat tersebut justru di masa kini hanya di kenal sebagai seorang pemikir sementara pemikiran yang diwariskannya hilang dari pemikiran umat.
Hal itu berakibat sangat fatal terhadap umat Islam yang di masa kini justru dikendalikan oleh orang lain. Sebagaimana yang telah khawatirkan oleh Muhammad Iqbal, salah seorang pemikir sekaligus pembaharu Islam. Iqbal begitu geram menyaksikan umat Islam yang tengah kehilangan kemerdekaannya untuk menjadi diri sendiri dan larut dalam dunia yang diciptakan oleh orang lain.
Senada dengan hal itu adalah apa yang pernah dikemukakan oleh Hassan Hanafi, seorang pemikir Islam asal Mesir. Hassan Hanafi benar-benar geram melihat imperialisme Barat terhadap komunitas Muslim. Umat Islam justru rela dibelenggu dan dihipnotis sehingga mereka terjajah secara mental, pikiran, budaya, politik, dan bahkan ekonomi.
Hassan Hanafi juga memaparkan bagaimana Barat sejak era kolonialisme hingga kini selalu berusaha mendistorsi ajaran dan citra Islam agar tercipta citra negatif terhadap Dunia Islam. Hal itu bertujuan untuk memudahkan Barat dalam menundukkan Dunia Islam. Jika pada era kolonialisme, melalui agenda Orientalisme, Barat menjuluki Islam sebagai pangkal kejumudan, maka hari ini Barat sesuai dengan kepentingannya mencitrakan Islam sebagai agama kekerasan dan agama yang tak toleran (hlm. 7).
Sementara itu, umat Islam justru terdikte oleh pencitraan Barat tersebut. Pencitraan yang Barat lakukan terhadap Islam berhasil memengaruhi mentalitas dan sikap serta pemikiran sebagian umat Islam. Buktinya, akhir-akhir ini umat Islam banyak mewacanakan tema-tema seperti agama Islam yang dihubungkan dengan kekerasan, tema-tema Islam pluralis, pluralisme agama, dan lain sebagainya di mana hal itu adalah hasil dari pencitraan Barat terhadap Islam.
Betapa hal itu merupakan suatu pengendalian Barat atas Dunia Islam di masa kini. Umat Islam terdikte, terkendalikan, terbelenggu, dan terjajah kemerdekaannya. Imperialisme kultural yang dilancarkan oleh Barat begitu gencar seiring bergulirnya waktu. Dengan demikian, umat Islam harus bangkit dan berani mandiri serta merdeka dari belenggu imperialisme bangsa lain.
Belajar dari sejarah masa lalu bahwa imperium Islam pernah berjaya dan menguasai seluruh dunia dengan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, serta budaya berpikir dan kritis. Tokoh-tokoh yang menonjol pada masa lalu telah memberikan keteladanan bagaimana membangun fondasi keilmuan umat Islam sehingga mampu menciptakan lingkungan ilmu pengetahuan.
Membangkitkan budaya berpikir merupakan suatu keharusan yang menjadi dasar bagaimana suatu kebangkitan itu dimulai. Dengan demikian, perlu adanya rekonstruksi dalam gaya berpikir umat sekaligus dekonstruksi terhadap budaya bisu dan diam. Namun demikian, hal itu perlu didasari dengan cita-cita yang sungguh dan umat mampu mengoreksi diri.
Sebagaimana buku “Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam” yang secara tegas memaparkan betapa warisan sejarah peradaban Islam di masa kejayaan sungguh luar biasa. Jika hal itu tidak dimanfaatkan oleh umat Islam di masa kini, maka umat Islam akan kehilangan arahnya di masa mendatang. Oleh karena itu, belajar dari sejarah masa lalu haruslah menjadi sebuah aksi yang nyata untuk berbekal di masa depan yang cemerlang. Kini, saatnya umat Islam untuk bangkit dari keterlelapannya.
Supriyadi
Peresensi adalah pengamat sosial pada Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta
Alamat: Asrama Sakan Thullab Yayasan Ali Maksum PP. Krapyak Jl. K.H. Ali Maksum PO Box 1192 Krapyak Yogyakarta 55011
Berita Sebelumnya
- Perjuangan Eksistensi Para Penyihir Perempuan
- Meraih Kebebasan dengan Filsafat
- Hidup Sehat Berdasarkan Petunjuk Nabi
- Menyibak Niskala Keramat Populer
- Nilai Luhur Birokrasi Raja Jawa
- Peta Jalan ke Lumbung Padi dan Kapas
- Membincang Tema Avant-Garde ala Foucault
- Menepis Anggapan Komunisme
- Korupsi Menyuburkan Kemiskinan
- Mengabdi di Pelosok Negeri
RESENSI
Perjuangan Eksistensi Para Penyihir Perempuan
Novel fantasi yang menampilkan perempuan sebagai tokoh utama sangat jarang dijumpai. Shangri-La the Hidden City menjadi salah satu dari novel fantasi tersebut.
SURAT KEBON SIRIH

