Home » Resensi
Meretas Dengung Asean
Kamis, 9 Februari 2012 - 10:47 wib
Judul Buku : Dinamika Asia Tenggara Menuju 2015
Penulis : C.P.F. Luhulima
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Tahun : 1, 2011
Tebal : 398 halaman
Harga : Rp70.000,-
Penulis : C.P.F. Luhulima
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Tahun : 1, 2011
Tebal : 398 halaman
Harga : Rp70.000,-
Buku ini mengungkap dan menggali hipotesa akan kegamangan dan kerapuhan wujud kesatuan dalam bilik negara-negara Asean (se-Asia Tenggara). Sebagai amsal penanda gamang dan rapuh itu, bisa dilihat bagaimana pembahasan isu Asean di negara kita.
Dalam media kita, isu dan proyeksi Asean bukanlah ihwal “urgen” ketimbang isu-isu politik dalam negeri dan persoalan yang meraba kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Amerika. Sedikit pakar yang peduli membahas dan mengikuti dinamikanya. Salah satunya adalah Luhulima, lewat buku berjudul “Dinamika Asia Tenggara Menuju 2015” ini, peneliti senior P2P LIPI ini mengurai bagaimana sendi-sendi pergumulan negara kawasan Asia Tenggara berjalan sampai sekarang. Dalam bukunya, Luhulima berfokus pada kajian empirik dan teoritik, ia mengulas topik besar; ekonomi, politik, dan keamanan.
Bagi saya, perihal kedudukan Asean, sering terpengaruh dengan praksisi luar yang sarat muatan politis-ekonomis. Tak heran bila sering terjadi pergolakan dan sengketa antara warga Asean sendiri. Semisal, Indonesia dengan Malaysia tentang perebutan Ambalat, dan klaim budaya. Padahal, bila disimak lebih, kawasan Asean sekarang sudah beranjak menjadi motor ekonomi dunia—sepadan dengan kekuatan ekonomi kawasan Eropa dan Amerika—yang harus terus ditumbuh-kembangkan. Sebagai bukti, banyak negara-negara lain yang mulai melirik pangsa pasar ekonomi Asean setelah melihat detail potensinya, semisal China yang berinisiatif dengan simbolisasi ACFTA. Walaupun, tak semua negara Asean setuju dengan zona perdagangan bebas itu. Dan itulah bukti rapuhnya ikatan Asean sebagai sebuah keluarga penuh.
Kemudian dalam perbincangan persoalan Laut China Selatan, diplomasi, dan keamanan wilayah Asia Tenggara, penulis begitu kental melihat gerak langkah Asean dibawah dominasi Amerika dan China. Dalam rumusan dinamika Asean, Luhulima bersandar pada Piagam Asean dan Cetak biru Asean menuju Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, yang disepakati pada Konferensi Tingkat Tinggi Asean ke-13, di Singapura tahun 2007 silam.
Harapannya dengan penandatanganan piagam MEA akan menjadi babak anyar Asean menuju sebuah organisasi yang akrab atas dasar hukum. Dari sana, ia mengkaji dan mengulas proyeksi real atas dinamika yang sudah terlampaui hingga kini. Namun aktualisasinya masih sempit, Luhulima menggaris besarkan persoalan negara Asean yang masih kaku, pragmatik, dan individualistik. Inilah catatan besar yang harus dikungkung demi wujud regionalisme dan multilaterisme yang utuh di kawasan Asia Tenggara.
Sampai saat ini, fleksibilitas Asean masih menjadi tanda tanya. Secara politis, jelas bila negara Asean telah menumbangkan komunisme dan menumbuh-suburkan kapitalisme, namun dari sendi geopolitik, Asean telah terbagi-bagi. Secara historis Asean terbentuk dari paham dan rumpun beda, antara negara yang berpaham bebas seperti; Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand, sering berbeda haluan dengan negara Indochina yang berpaham kiri; Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam.
Selanjutnya, Luhulima mencatat bila visi satu (we feeling Asean) tumbuh subur tatkala negara-negara Asean ditimpa persoalan sama, semisal krisis ekonomi tahun 1998 dan bencana tsunami 2004. Penegasan MEA, haruslah menjadi pondasi kokoh berdirinya benteng kekuatan Asia Tenggara. Buku ini laik menjadi penuntun memahami gerak dan rampai Asean menuju MEA 2015 berjalan. Selamat membaca.
Muhammad Bagus Irawan
Aktivis Idea Studies IAIN Walisongo, Semarang
Berita Sebelumnya
- Perjuangan Eksistensi Para Penyihir Perempuan
- Meraih Kebebasan dengan Filsafat
- Hidup Sehat Berdasarkan Petunjuk Nabi
- Menyibak Niskala Keramat Populer
- Nilai Luhur Birokrasi Raja Jawa
- Peta Jalan ke Lumbung Padi dan Kapas
- Membincang Tema Avant-Garde ala Foucault
- Menepis Anggapan Komunisme
- Korupsi Menyuburkan Kemiskinan
- Mengabdi di Pelosok Negeri
RESENSI
Perjuangan Eksistensi Para Penyihir Perempuan
Novel fantasi yang menampilkan perempuan sebagai tokoh utama sangat jarang dijumpai. Shangri-La the Hidden City menjadi salah satu dari novel fantasi tersebut.
SURAT KEBON SIRIH

