news okezone.com
Okezonenews » Home » Opini » Dogfight dengan Koruptor

getting time ...

OPINI

Ardi Winangun

Dogfight dengan Koruptor

Kamis, 08 Maret 2012 10:19 wib

Di tengah upaya untuk memenuhi kebutuhan minimum alutsista, kita mendengar aroma yang tidak sedap, yakni ada dugaan korupsi pembelian pesawat sukhoi. Dugaan ini dilontarkan oleh Imparsial, ICW, dan anggota Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin. Menurut Tubagus Hasanuddin, seperti yang dikutip media massa, pembelian 6 sukhoi seharga USD470 juta tidak dilakukan secara langsung antara Kementerian Pertahanan dengan produsen Sukhoi, Rosoboron Export. Melainkan, dibeli melalui calo yang menyebabkan harganya lebih mahal daripada harga yang dibeli negara lain.

Adanya dugaan tersebut tentu membuat kita merasa prihatin. Hal demikian menunjukan bahwa korupsi tidak hanya di DPR namun merata di seluruh kementerian serta dari daerah sampai pusat. Bila tuduhan itu benar akan menunjukan bahwa korupsi sudah menjadi nafas dan bagian hidup individu Indonesia bila ia berkuasa.

Paling menyedihkan tentu hal ini akan mempengaruhi sistem pertahanan Indonesia dalam menjaga kedaulatan bangsa. Bila korupsi itu terbukti, tentu proses pemesanan dan pembuatan sukhoi di Rusia akan mengalami keterlambatan, sebab produsen sukhoi pasti akan terganggu dengan isu itu, dan mereka akan menunggu sampai masalah itu selesai.

Bila demikian maka rencana Kementerian Pertahanan yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang disegani kekuatan udaranya, dengan pemenuhan 1 skuadron Shukoi yang terdiri dari 6 unit Sukhoi jenis Su-27 SKM dan 10 unit Sukhoi jenis Su-30 MK2 pada 2014 dan puluhan jet tempur F-16, serta pada tahun 2020, Indonesia bakal memiliki jet tempur super canggih jenis KF-X/IF-X yang dibuat bersama (joint production) antara Korea Selatan dan Indonesia, akan menjadi tertunda.

Bila rencana membangun kekuatan pertahanan Indonesia tertunda, maka ancaman pelanggaran kedaulatan bangsa seperti masuknya pesawat udara dan kapal laut asing yang tidak terdeteksi akan kembali terulang. Kemudian penggeseran batas wilayah di daerah perbatasan juga akan menjadi isu yang akan muncul lagi.

Dugaan korupsi ini bisa jadi mengkhianati kepercayaan rakyat yang telah menaikan anggaran pembelian alutsista. Pada Pidato Kenegaraan RI tahun 2011 yang menggambarkan tingkat kesiapan alutsista TNI, Matra Darat mencapai 81,13%, Matra Laut 43,25%, dan Matra Udara 42%. Data itu kemudian ditindaklanjuti dengan pengumuman dari pemerintah bahwa kenaikan anggaran pertahanan nasional tahun 2012 sebesar 35,7% dari tahun sebelumnya menjadi Rp64,4 Triliiun. Sedangkan plot anggaran untuk 5 tahun kedepan sebesar Rp150 Trilliun.

Kenaikan anggaran itu bukannya disambut dengan senang hati kementerian terkait, namun justru digunakan untuk memperkaya diri sendiri. Kita mungkin berbeda dengan China, saat ini negeri tirai bambu itu terus menaikan anggaran pertahanannya. Tahun ini naik 11,2% dibanding dengan tahun anggaran 2011. Kenaikan ini akan membuat anggaran pertahanan China menjadi 670,2 miliar yuan atau sekira Rp965 triliun. China selama ini ajeg mempertahankan kenaikan anggaran sebanyak dua digit. Kurun waktu, dari tahun 1990 hingga sekarang, hanya 2 kali anggaran pertahanannya kurang dari 2 digit.

Diberitakan di sebuah koran nasional, bahwa anggaran pertahanan China bisa setengah, bahkan 2 kali lipat lebih tinggi dari anggaran resmi yang diumumkan pemerintah. Willy Lam, pengamat China dari Chinnese University of Hong Kong, mengatakan anggaran modernisasi peralatan militer China belum termasuk dalam anggaran yang diumumkan itu. Anggaran resmi itu hanya dialokasikan untuk gaji personel dan biaya peralatan yang sudah ada.

China, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Asia Timur dan Tenggara menaikkan anggaran pertahanan atau anggaran alutsista, sebab ketegangan militer sekarang bergeser dan digeser di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara. Kebangkitan ekonomi China oleh pemerintahannya juga didukung dengan sikap agresifitas militernya. Dogma dari laut hijau ke laut biru menjadikan China bersitegang di Laut China Selatan dengan Vietnam, Filipina, Taiwan, Bruei Darussalam, dan Malaysia. Tidak hanya di Laut China Selatan, namun di Laut China Timur mengakibatkan China bersitegang dengan Jepang dan Korea Selatan.

Kebangkitan ekonomi dan militer China rupanya disambut secara antagonis oleh Amerika Serikat. Untuk mengimbangi China menjadi superpower di Asia Timur dan Tenggara maka Amerika Serikat menggeser kekuatan militernya dari Timur Tengah dan Eropa ke Asia Timur dan Tenggara. Amerika Serikat mendirikan pangkalan militer di Darwin, Australia, dengan kekuatan 2000 marinir. Tentu kekuatan Amerika Serikat tidak hanya 2000 marinir namun juga didukung dengan puluhan kapal perang dan pesawat tempur.

Mengapa meski anggaran militer China naik namun elit militer dan politisi di negeri panda itu tidak melakukan mark up atau korupsi? Karena mereka memegang ucapan yang pernah dikatakan Perdana Menteri China Zhu Rongji. Saat dilantik menjadi Perdana Menteri, Zhu mengatakan, berikan saya 100 peti mati, 99 akan saya kirim untuk para koruptor. Satu buat saya sendiri jika saya pun melakukan hal itu.

Tindakan tegas Zhu kepada korupsi inilah yang membuat rakyat China termasuk elitnya takut melakukan hal yang demikian. Sudah banyak hukuman mati dijatuhkan kepada koruptor di negeri itu. Disebut sudah ada 4.000 orang dihukum mati di China karena korupsi.

Anggaran militer yang tidak dikorupsi itulah yang membuat China siap meladeni Amerika Serikat dan negara lainnya bila kebijakan negaranya diganggu. Nah, adanya dugaan korupsi pembelian sukhoi, tentu akan membuat kita kesulitan dan kewalahan bila menghadapi musuh-musuh bangsa dan negara. Menghadapi Malaysia saja bisa kewalahan apalagi menghadapi Amerika Serikat yang memiliki pangkalan militernya di Darwin dan China yang menjadikan Timor Leste menjadi sekutunya.

Musuh dan ancaman pertahanan kita ternyata bukan saja ancaman dari luar, namun juga dari dalam, yakni para koruptor. Saatnya kita dogfight dengan para koruptor.

Ardi Winangun
Peminat Studi Pertahanan dan
Pernah Bekerja di Civil Militery Relation Studies (Vilters)


(//mbs)

RESENSI »

Jembatan Merah Menggugah Bumi Pertiwi
Jembatan Merah Menggugah Bumi Pertiwi

Setengah abad lebih petualangan anak-anak negeri bergelora mengumandangkan kemerdekaannya, tetapi mengapa bekas perjuangan mereka tidak mengukir di dada para pewaris negeri?

SUARA KEBON SIRIH »

Okezone Gelar Try Out Online UN 2014
Okezone Gelar <i>Try Out Online</i> UN 2014

DALAM waktu dekat, siswa SMA sederajat akan mengikuti Ujian Nasional (UN) 2014 pada 14 April. Ujian ini merupakan puncak kelulusan siswa di bangku sekolah.

CATATAN REDAKSI »

Korupsi Lagi dari Lembaga Bernama Pajak
 Korupsi Lagi dari Lembaga Bernama Pajak

Sudah terjadi berulangkali korupsi yang terjadi di lembaga yang bernama pajak. Patgulipat atau kerjasama di bawah tangan sering dilakukan agar lolos dari kewajiban membayar pajak negara.

ETALASE »

Kabut Asap Kembali Selimuti Riau, Siapa yang Salah?
Kabut Asap Kembali Selimuti Riau, Siapa yang Salah?

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan merupakan bencana paling menakutkan bagi warga Riau. Dampaknya sangat menyengsarakan warga, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan lainnya.

OPINI »

L Tantri Kristiani Rahmatianing
Menyambut Perubahan di Bumi Papua
Menyambut Perubahan di Bumi Papua

Demokrasi adalah keadaan negara di mana kedaulatan atau kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat. Istilah demokrasi sendiri berasal dari kata Latin, yaitu Demos yang berarti rakyat dan Kratos yang berarti pemerintahan, sehingga sering juga diasosiasikan sebagai pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat.