news okezone.com
Okezonenews » Home » Catatan Redaksi » Memecahkan Bubble

getting time ...

CATATAN REDAKSI

Memecahkan Bubble

Rani Hardjanti - Okezone
Rabu, 21 Maret 2012 14:12 wib

KALANGAN pengembang gundah gulana setelah Bank Indonesia (BI) menetapkan aturan baru yang mengatur besaran Loan To Value (LTV) kenaikan alias down payment (DP) Kredit Pemilikan Rumah (KPR) menjadi 30 persen.

Apa yang dirasakan pengembang cukup masuk akal. Sebab, jika ketentuan agunan meningkat maka daya beli konsumen akan merosot. Logikanya, pengajuan agunan akan semakin mahal.

Kegelisahan para pengembang pun juga dirasakan oleh konsumen. Dengan agunan yang mahal, maka keterjangkauan konsumen kelas menengah bawah atas kebutuhan primer tersebut, akan semakin mengecil.

Dalih BI atas minimal agunan 30 persen dari total harga rumah cukup logis. Bank sentral menilai bahwa harga properti saat ini sudah terlalu mahal akibat permintaan konsumen yang cukup tinggi.

Bank sentral berasumsi, kalau tidak dikendalikan akan menjadi penggelembungan (bubble) harga. Berdasarkan survei BI kuartal IV-2011, indeks harga properti mengalami kenaikan 1,15 persen dibanding kuartal sebelumnya. Secara tahunan meningkat hingga 5,05 persen. Tekanan ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga kuartal I-2012.

Sayangnya, permintaan konsumen itu banyak dikontribusikan oleh konsumen jangka pendek. Maksudnya, konsumen membeli dengan tujuan untuk kembali dijual atau disewakan. Hal inilah yang mendorong harga properti cepat melesat.

Ditambah lagi, belakangan ini para pengembang rumah menggembar-gemborkan harga rumah naik dengan cepat. Persepsi ini ditancapkan ke publik melalui iklan yang menawarkan berbagai fasilitas perumahan yang kumplit dan berkualitas super. Penggelembungan harga inilah yang dicegah oleh BI.

Pencegahan bubble yang dilakukan oleh BI, sebenarnya secara jangka panjang bisa diterjemahkan untuk melindungi konsumen. Tetapi, dalam jangka pendek jangan sampai membuat industri properti Tanah Air yang tengah bergelora menjadi redup.

Tengoklah kebijakan properti di China. Tekanan penggelembungan harga di Negeri Tirai Bambu lebih tinggi ketimbang di Indonesia.  Pemerintah dan pemangku kebijakan langsung mengetatkan kebijakan propeti. Namun, ujung-ujungnya industri propeti mereka yang sangat hingar-bingar mendadak sepi. Menurut data Biro Statistik Nasioanal China, harga rumah di kota besar seperti Shanghai, Beijing, Shenzhen dan Guangzhou merosot.

Memang kondisinya tidak bisa disamakan dengan di Indonesia. Latar belakang ekonomi China yang tengah mengalami hard landing (penurunan ekonomi yang sangat tajam akibat adanya bubble), berbeda dengan kondisi Indonesia yang tengah mengalami peningkatan.

Tentunya kondisi yang terjadi di China bisa diambil hikmahnya. Jangan sampai kebijakan moneter ini justru memukul telak industri properti. Kebijakan ini perlu disertakan dengan kebijakan relaksasi seandainya target pengendalian harga rumah sudah tercapai.

Jika tidak, maka kesempatan masyarakat untuk memiliki rumah layak hanya sebatas mimpi, karena sanggup membayar cicilan tetapi tidak sanggup membayar mahalnya DP KPR.
(rhs)

RESENSI »

Antologi Kisah Hidup Orang Sukses
Antologi Kisah Hidup Orang Sukses

Buku bersampul kuning ini kelanjutan Top Words 1. Konsep penulisan Billy Boen tidak jauh berbeda, ia sekadar menggali inspirasi dari para orang sukses. Tujuannya untuk membakar semangat kaum muda bisa berprestasi juga.

SUARA KEBON SIRIH »

Mudik, Jangan Lupa Klik www.okezone.com
Mudik, Jangan Lupa Klik www.okezone.com

Macet, jalur alternatif, posko mudik dan semua informasi mengenai mudik yang dibutuhkan akan tersaji dengan fresh dari situs berita www.okezone.com.

CATATAN REDAKSI »

Bersih-Bersih ala Kepala Daerah
Bersih-Bersih ala Kepala Daerah

Langkah sejumlah kepala daerah untuk menertibkan aparat di lingkungan kerja mereka perlu untuk didukung.

ETALASE »

Asal Mula Kampung 'Seribu Nisan'
Asal Mula Kampung 'Seribu Nisan'

Ihwal Gampong Pande atau Kampung 'Seribu Nisan' bermula saat Sultan Johan Syah mendirikan Istana Kerajaan Aceh Darussalam, tepatnya di tepian Sungai Aceh atau Kuala Naga, pada 1 Ramadan 601 Hijriah atau 22 April 1205 Masehi.

OPINI »

Deny Humaedi Muhammad
Berkah Korupsi Birokrasi
Berkah Korupsi Birokrasi

Dunia publik baik di ranah entertainment  maupun parlement selalu menjadi pusat perhatian masyarakat.