news okezone.com
Okezonenews » Home » Resensi » Impian Tan Malaka untuk Indonesia

getting time ...

RESENSI

Impian Tan Malaka untuk Indonesia

Senin, 26 Maret 2012 17:08 wib

Judul buku : Madilog: Materialisme, Dialektika, dan Logika
Penulis : Tan Malaka
Penerbit : Narasi Yogyakarta
Cetakan : 1, 2010
Tebal : 389 halaman


Tan Malaka merupakan salah satu sosok pendiri Indonesia yang teguh dalam perjuangannya, namun dalam jejak sejarahnya menjadi bapak republik yang terlupakan. Jejak Tan Malaka dalam menegakkan Indonesia terasa belum banyak mendapat apresiasi tinggi dari negara, sehingga sedikit yang mengetahui jejak historisnya dalam menjaga rumah bernama Indonesia. Padahal, peran dan kontribusi besar Tan Malaka begitu besar dalam menjaga Indonesia. Tatkala Indonesia sedang bernegosiasi dengan penjajah, Tan Malaka dikenal sebagai sosok pejuang paling gigih yang menolak imperealisme penjajah. Prinsipnya menjaga kemerdekaan Indonesia seratus persen mengakibatkan Tan Malaka seringkali hidup dalam pengasingan. Tak pelak, jejaknya menjadi terlupakan.
 
Salah satu karya Tan Malaka yang menggugah inspirasi bangsa Indonesia adalah bertajuk “Madilog: Materialisme, Dialektika, dan Logika.” Buku ini menjadi sangat fenomenal, karena cita-cita Tan Malaka untuk Indonesia hampir terlukiskan dalam buku yang bernas ini. Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.

Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkret, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana. Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia. Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya.
 
Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia. Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya.

Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada menulis gagasan dalam media dan buku, tetapi juga dengan usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh. Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti mengalami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.

Madilog menjadi buku induk pemikiran Tan Malaka untuk memimpikan Indonesia yang merdeka seratus persen, tegak berdiri dengan berdaulat, teguh dalam menjaga prinsip, dan selalu setia dalam menjalankan proses penciptaan kebangsaan. Merdeka seratus persen tidak menginginkan kedaulatan bangsa hanyalah sebatas kamuflase saja, bukan kedaulatan yang dititipkan kepada penjajah atau kaum elite saja. Melainkan kedaulatan yang dipegang teguh sebagai wujud hakekat kebebasan hakiki yang tidak lagi terpasung dalam hegemoni apapun. Indonesia saat ini masih banyak belum menjumpai impian Tan Malaka, karena kemerdekaan yang telah diraih hanya dinikmati kaum elitenya saja. Kaum miskin dan marginal masih hidup dalam gelimangan kesusahan yang tiada henti. 

Indonesia, bagi Tan Malaka, juga harus berdiri berdaulat tanpa harus berdiri dalam telikungan kaum kapitalis global. Indonesia menjadi negara berdaulat yang mandiri, independent, dan tidak dalam cengkeraman negara manapun. Belitan utang yang mencengkeram Indonesia saat ini merupakan musuh utama Tan Malaka, karena kaum elite telah menggadaikan Indonesia dan menyandera kaum kecil dalam genggaman kekuasaan kaum kapitalis global. Berdaulat haruslah berdiri tegak dengan kekuatan sendiri, berdikari tanpa harus terpengaruh dan meminta-minta kepada kaum elite global yang seringkali menipu.

Kemudian yang tak kalah penting bagi Tan Malaka adalah setia dengan proses penciptaan Indonesia. Konsistensi dalam mencipta terbentuknya Indonesia yang dicita-citakan sangatlah krusial karena akan membentuk etos perjuangan tiada henti dalam melangkahkan gerak laju kehidupan yang substansial. Tidak gampang tergoda dengan pragmatisme dan godaan kekuasaan yang menipu, tetapi selalu setia dengan janji luhur untuk menjaga jati diri ke-Indonesia-an yang hakiki. Setia dan konsisten untuk menjadikan Indonesia sebagai negara berdaulat, berdikari, dan bermartabat.  

Muhammadun, Pustakawan


(//mbs)

RESENSI »

Ini Bukan Avatar, Tapi Dajjal!
Ini Bukan Avatar, Tapi Dajjal!

Ketika membaca, mendengar atau mengatakan kata Dajjal, yang pertama terpikirkan adalah apakah Dajjal sudah dekat?

SUARA KEBON SIRIH »

Chief Content News Baru di Okezone.com
Chief Content News Baru di Okezone.com

PORTAL berita nasional, Okezone.com, memiliki Chief Content News (Pemimpin Redaksi News) baru, yakni Syukri Rahmatullah.

CATATAN REDAKSI »

Mobil Tua Sang Presiden
Mobil Tua Sang Presiden

Presiden Uruguay Jose Mujica mengumumkan hartanya yang paling berharga berupa mobil VW Beetle buatan tahun 1987. Harganya ditaksir £1.300 atau setara Rp24,7 juta.

ETALASE »

"Munir" Tetap Suarakan Keadilan

Sunyi, kala belasan pegiat hak asasi manusia (HAM) dari Jaringan Pemuda Batu mengunjungi sebuah makam di TPU Kelurahan Sisir, Kota Batu, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

OPINI »

Asriatun
Demokrasi Dunia Maya
Demokrasi Dunia Maya

Judul itu saya pilih setelah beberapa waktu lalu, media ramai membicarakan Florence Sihombing, yang mengemparkan dunia maya.