news okezone.com
Okezonenews » Home » Opini » Revolusi Jumat

getting time ...

OPINI

Ardi Winangun

Revolusi Jumat

Jum'at, 30 Maret 2012 09:41 wib

Salat Jumat oleh rakyat Mesir digunakan untuk melakukan mobilisasi massa untuk menuntut Presiden Mesir Husni Mubarak mundur dari kekuasaan. Dengan jumlah ummat Islam mencapai 90%, mobilisasi di hari Jumat itu sangat efektif. Mobilisasi dan demonstrasi massif setiap Jumat, selama 1 bulan, yang kemudian membuat Husni Mubarak turun dari kekuasaan, membuat revolusi yang terjadi di negeri piramida itu, ada yang menyebutnya dengan Revolusi Jumat.

Mobilisasi massa pada Salat Jumat di Mesir sangat efektif, sebab selama massa pemerintahan Presiden Husni Mubarak ketika gerakan-gerakan Islam khususnya Ikhwanul Muslimin ditekan, ia menjadikan masjid sebagai basis konsolidasi organisasi. Jadi mereka ketika melakukan Salat Jumat atau ibadah lainnya mereka sekaligus melakukan konsolidasi. Salat Jumat yang diselenggarakan, dalam upaya untuk menuntut demokratisasi, tidak hanya di masjid, namun juga di pusat demonstrasi, di Tahrir Square.

Saat ini berbagai elemen masyarakat di Indonesia, terutama mahasiswa, sedang disibukkan dengan aksi untuk menolak kenaikan harga BBM. Dengan mengacu pada wikipedia bahwa ummat Islam di Indonesia mencapai 85,2%, bila ingin tuntutan itu berhasil, dengan belajar pada revolusi di Mesir, maka elemen yang ada, terutama mahasiswa, bisa menjadikan salat Jumat untuk melakukan mobilisasi massa.
 
Mobilisasi massa pada hari Jumat sangat mungkin terjadi sebab selain ummat Islam sebagai mayoritas, elemen mahasiswa yang bergerak banyak yang menggunakan nama Islam atau berbasis mahasiswa Islam, seperti HMI, PMII, KAMMI, IMM. Toh bila ada yang menggunakan nama bukan Islam, pada dasarnya mereka mayoritas juga beragama Islam, dan mereka juga pasti melakukan salat Jumat.

Mobilisasi massa pada salat Jumat sangat efektif, masssa yang terkumpul minimal 40 orang. Menurut data, pada tahun 2008, jumlah masjid di Jakarta ada 2.831 bangunan dan 5.661 musala. Bila Salat Jumat dihitung dari diselenggarakan di masjid saja berarti ada konsentrasi massa sebanyak minimal sebanyak 113.240 orang, 40 kali 2.831, sebuah massa yang massif.

Lokasi berdirinya masjid pun saat ini berada pada tempat-tempat yang strategis, ada di lingkungan-lingkungan kelas menengah seperti di gedung-gedung megah, dan juga di kampus-kampus. Sekarang menjadi pertanyaan, mampu dan maukah para pemimpin demonstran menjadikan Sholat Jumat untuk memobilisasi massa? Bisakah masjid dijadikan tempat mobilisasi massa? Sepertinya tidak.

Di Indonesia, meski ada yang menjadikan masjid sebagai basis pergerakan dan ekonomi, namun jumlahnya tidak banyak, mayoritas masjid di Indonesia hanya dijadikan melakukan ritual ibadah semata. Masjid di Indonesia menjadi basis pergerakan massa hanya terjadi ketika Orde Baru melakukan sikap represif terhadap gerakan politik ummat Islam, sehingga membuat ummat Islam dengan terpaksa ‘bersembunyi’ di masjid untuk membangun jaringan dan kekuatan. Meski ada organisasi mahasiswa yang lahir dari masjid, namun mereka tidak lagi menjadikan masjid sebagai tempat konsolidasi. Organisasi itu yang sekarang sudah menjadi organisasi ekstra kampus, lebih sibuk membangun jaringannya di kampus sehingga melupakan masjid.

Represif pemerintahan Orde Baru kepada politik Islam juga dialami oleh Ikhwanul Muslimin. Sejak Perdana Menteri Mesir Muhammad Fahmi Naqrasyi tahun 1948, Gamal Abdul Nasser, Anwar Sadat, hingga di masa Presiden Husni Mubarak, gerakan Ikhwanul Muslimin keberadaannya ditekan bahkan ada upaya untuk memberangus.

Pemberangusan ini membuat Ikhwanul Muslimin tidak berani tampil vulgar dan lebih sering melakukan aktivitasnya di bawah tanah. Pemberangusan ini dilakukan dari penangkapan para aktivisnya, terutama menjelang pemilu, hingga membekukan organisasi dengan tuduhan hendak melakukan makar atau terkait jaringan teroris.

Kembali ke masalah fungsi masjid, sekarang basis-basis gerakan mahasiswa bukan lagi di masjid, namun ada di ruang-ruang kampus, sekretariat organisasi, dan tempat-tempat berkumpul lainnya. Gerakan mahasiswa Islam, semuanya, saat ini melakukan konsolidasi tidak di masjid namun dengan cara menyebarkan pesan lewat teknologi-teknologi yang ada.

Kebebasan yang ada justru membuat mahasiswa tidak terkonsolidasi dengan baik. Mereka tidak bersatu namun bergerak dengan sendiri-sendiri. Sehingga ketika demonstrasi, ada kelompok mahasiswa yang demo di Bundaran HI, ada yang di Gedung MPR/DPR/DPD, ada pula di depan Istana Negara, bahkan ada juga yang di Pertamina. Hal demikian bisa terjadi karena mereka tidak terkonsolidasi pada satu titik, di salah satu masjid, misalnya.

Belajar dari sukses Revolusi Jumat di Mesir, seharusnya mahasiswa di Indonesia bisa melakukan hal yang sama, yakni menjadikan Sholat Jumat sebagai tempat konsolidasi dan mobilisasi. Hal ini sangat mungkin, sebab berdasarkan data 85,2% rakyat Indonesia adalah ummat Islam, dan pastinya meski mereka beragam aliran dan ideologi pasti mereka melakukan Sholat Jumat. Kemudian, jaringan mahasiswa yang besar dan tersebar dari Sabang sampai Merauke adalah organisasi yang berbasis mahasiswa Islam. Sayang bila media sestrategis Salat Jumat tidak digunakan untuk membangun konsolidasi dan mobilisasi.

Ardi Winangun
Ketua HMI Cabang Denpasar 1997-1998


(//mbs)

RESENSI »

Ini Bukan Avatar, Tapi Dajjal!
Ini Bukan Avatar, Tapi Dajjal!

Ketika membaca, mendengar atau mengatakan kata Dajjal, yang pertama terpikirkan adalah apakah Dajjal sudah dekat?

SUARA KEBON SIRIH »

Chief Content News Baru di Okezone.com
Chief Content News Baru di Okezone.com

PORTAL berita nasional, Okezone.com, memiliki Chief Content News (Pemimpin Redaksi News) baru, yakni Syukri Rahmatullah.

CATATAN REDAKSI »

Netizen Sukses Pressure Pak Presiden
<i>Netizen</i> Sukses <i>Pressure</i> Pak Presiden

Para netizen tidak hanya membaca berita, tapi juga aktif memberikan opini seputar kehidupan yang mereka jalani sehari-hari.

ETALASE »

"Munir" Tetap Suarakan Keadilan

Sunyi, kala belasan pegiat hak asasi manusia (HAM) dari Jaringan Pemuda Batu mengunjungi sebuah makam di TPU Kelurahan Sisir, Kota Batu, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

OPINI »

Media dan "Revolusi Mental"
Media dan

ADA satu istilah baru yang menarik dalam konstelasi politik belakangan ini, yakni Revolusi Mental.