news okezone.com
Okezonenews » Home » Resensi » Mengkaji Fenomena NII Secara Kritis

getting time ...

RESENSI

Mengkaji Fenomena NII Secara Kritis

Selasa, 03 April 2012 12:06 wib

Judul buku : Membongkar Rahasia NII (Gerakan NII Makin Subur Sementara NKRI Makin Kabur).
Penulis : M. Mufti Mubarok
Penerbit : Reform Media
Cetakan I : Juni 2011
Tebal : viii + 136 halaman
ISBN : 978-602-98037-4-7
    
Akhir-akhir ini, virus Negara Islam Indonesia (NII) kembali mengoyak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pro kontra mengenai NII kembali menyeruak, namun fakta mengenai NII tetap simpang siur. Jaringan NII sudah besar, sangat rapi dan modern, sehingga model perekrutannya mampu melibatkan golongan cerdik pandai, mulai dari pelajar, mahasiswa, santri, politisi, perbankan, PNS, sampai pejabat negara. Modus operandinya pun semakin canggih dengan menculik bahkan mencucuci otak (brain washing) orang pintar untuk dokrin NII.

Terungkapnya kasus Laila Febriani alias Lian, 7 April 2011 lalu, pegawai honorer Departemen Perhubungan, yang terdampar dua hari di masjid At-Ta’awun di kawasan Puncak, Bogor adalah salah satu bukti bahwa NII telah mampu masuk ke banyak dimensi. NII juga telah merebah dan masuk ke dunia kampus. Telah banyak korban mahasiswa yang telah terdoktrin dengan ajaran NII.
    
Namun, yang menjadi tanda tanya besar adalah apakah NII yang saat ini melakukan aksinya dengan indokrinasi korban untuk mendirikan syari’at Islam itu sama seperti NII yang diproklamirkan Sekarmadji Marijdan Kartosoewirjo pada 7 Agustus 1949?. Pertanyaan ini akan dijawab dalam buku ini. Tidak hanya itu, buku yang ditulis M. Mufti Mubarok ini juga membahas NII dari akar-akarnya, mulai dari sejarah berdirinya, perkembangannya, hingga solusi dalam upaya mengantisipasi masalah NII yang sekarang nampak di bumi Indonesia.

Dalam sejarah, pada mulanya NII juga dikenal dengan nama Darul Islam (DI) yang arti harfiyah-nya adalah “rumah Islam”. Sebuah gerakan yang diproklamirkan oleh S.M. Kartosoewirjo 7 Agustus 1949 atau 12 Syawal 1368 H di daerah Cisampah, Kecamatan Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat.
    
Gerakan ini bertujuan menjadikan Republik Indonesia yang saat itu baru saja diproklamirkan kemerdekaannya dan ada di masa perang dengan tentara Belanda sebagai negara teokrasi dengan agama Islam sebagai landasan negara. Dalam proklamasinya dikatakan bahwa hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah Islam dengan Undang-Undang tertinggi al-Quran dan al-Hadits.
    
Kartosoewirjo merupakan teman seperguruan dengan Soekarno di bawah  didikan HOS Tjokroaminoto, pentolan Sjarikat Islam (SI). Kegigihannya untuk memperjuangkan NII ini juga tidak lepas dari pengaruh buah pemikiran politik HOS Tjokroaminoto yang sangat mengangan-angankan berdirinya sebuah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang makmur dan diridhoi Allah SWT).
    
Melihat fakta sejarah tersebut, buku ini menaruh kecurigaan terhadap NII yang berkembang saat ini. NII sekarang sebagaimana banyak dilansir media adalah NII Komandemen Wilayah (KW) IX ma’had Al-Zaitun di bawah pimpinan AS Panji Gumilang. Sebuah gerakan yang menginginkan tegaknya syari’at Islam, tapi cara yang digunakan sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam. Seperti, melakukan penculikan, pencucian otak, hingga membolehkan para anggotanya untuk mencuri demi mendapatkan dana gerakan.
    
Kecurigaan tersebut kemudian diaktulisasikan oleh Mufti dalam buku ini dengan membandingkan fakta NII saat ini dengan NII dalam cataan sejarah. Dalam analisis perbandingannya, buku ini telah berhasil menemukan titik perbedaan antara NII Kartosoewirjo dengan NII KW IX versi Totok Abdussalam alias AS Panji Gumilang.

Buku yang ditulis oleh jurnalis ini menjelaskan, bahwa antara misi NII yang diperjuangkan Kartosoewirjo dan misi NII KW IX versi AS Panji Gumilang sangat kontradiktif, berbeda dalam tujuan, dan bertentangan dalam aqidah. NII Kartosoewirjo berjuang menegakkan Negara Islam Indonesia berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah. Sementara NII KW IX dengan ma’had Al-Zaitun sebagai sentral aktivitasnya, melakukan penipuan dan pemerasan atas nama NII. Pemahaman keagamaan dan perilaku pengikutnya yang sama sekali tidak bisa dikategorikan islami adalah fakta konkrit. Mereka menafsirkan ayat-ayat menggunakan metode safsathah, tafsir ‘semau gue’ berdasarkan kepentingan belaka.
    
Karakteristik NII KW IX versi Panji Gumilang dapat dilihat dari pemahaman keagamaan dan perilaku para pengikutnya; pertama, ingkar sunnah, pengajian-pengajian dilakukan secara ekslusif. Mereka berdalih menggunakan Alquran dan tidak memakai hadits, sehingga penafsiran Alquran dilakukan sesuai hawa nafsunya dan kepentingannya. Dalam perekrutannya calon NII KW IX diajak ke suatu tempat untuk dibai’at, selama perjalanan matanya ditutup. Kedua, menghalalkan segala cara. Siapa saja di luar kelompoknya dianggap kafir, karena itu halal darahnya dan hartanya boleh dirampas dengan menganggapnya sebagai harta rampasan (fa’i). Jamaahnya diperas, dijadikan objek pengumpulan dana dengan alasan infaq dan shadaqah, sementara penggunaan dana yang terkumpul tidak transparan. (hal. 104)
    
Pendek kata, buku yang terdiri dari tujuh bab ini berusaha mengkaji fenomena NII secara kritis. Dengan menghadirkan fakta sejarah, Mufti memotret fakta NII yang terjadi saat ini secara kritis, yang berakhir dengan kesimpulan bahwa NII yang sekarang beredar adalah NII’ palsu’, tidak seperti NII yang diproklamirkan Kartosoewirjo. Untuk itulah, buku ini sangat penting untuk menjadi bahan bacaan masyarakat, khususnya para aktivis muslim.

Peresensi: Muhammad Rajab
Penggiat Kajian di PSIF Unmuh Malang


(//mbs)

RESENSI »

Ini Bukan Avatar, Tapi Dajjal!
Ini Bukan Avatar, Tapi Dajjal!

Ketika membaca, mendengar atau mengatakan kata Dajjal, yang pertama terpikirkan adalah apakah Dajjal sudah dekat?

SUARA KEBON SIRIH »

Chief Content News Baru di Okezone.com
Chief Content News Baru di Okezone.com

PORTAL berita nasional, Okezone.com, memiliki Chief Content News (Pemimpin Redaksi News) baru, yakni Syukri Rahmatullah.

CATATAN REDAKSI »

Mobil Tua Sang Presiden
Mobil Tua Sang Presiden

Presiden Uruguay Jose Mujica mengumumkan hartanya yang paling berharga berupa mobil VW Beetle buatan tahun 1987. Harganya ditaksir £1.300 atau setara Rp24,7 juta.

ETALASE »

"Munir" Tetap Suarakan Keadilan

Sunyi, kala belasan pegiat hak asasi manusia (HAM) dari Jaringan Pemuda Batu mengunjungi sebuah makam di TPU Kelurahan Sisir, Kota Batu, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

OPINI »

Asriatun
Demokrasi Dunia Maya
Demokrasi Dunia Maya

Judul itu saya pilih setelah beberapa waktu lalu, media ramai membicarakan Florence Sihombing, yang mengemparkan dunia maya.