news okezone.com
Okezonenews » Home » Resensi » Travelling is Possible

getting time ...

RESENSI

Travelling is Possible

Rabu, 04 April 2012 10:58 wib

Judul : Rp 3 Juta Keliling Korea dalam 9 Hari
Penulis : Claudia Kaunang
Penerbit : Bentang Pustaka (Mizan Group), Yogyakarta
Cetakan : 1, Oktober 2011
Tebal : 171 halaman
Harga : Rp, 28.500,-

Mengelilingi negara ternama seperti Korea yang terbesit dalam benak kita adalah mahal dan pastinya akan mengeluarkan biaya berpuluhan juta rupiah. Apalagi  dalam jangka waktu 9 hari.

Image atau mitos mahal tersebut telah ditepis oleh Claudia Kaunang, penulis buku yang mempunyai hobi travelling ke luar negeri tetapi dengan biaya yang murah. Bayangkan, dengan budget 3 Juta dalam jangka 9 hari, ia bisa mengelilingi kota Seoul, Busan, Jeonju, Sokcho, dan Gyeongju.
    
Ide nakal yang ditawarkan dalam buku ini patut kita tiru, terutama yang mempunyai hobi traveling atau suka liburan ke luar negeri. Angka 3 juta sangatlah murah jika negara Korea yang dituju.

Mengapa harus Korea? Pertanyaan itulah yang pertama kali terbesit ketika melihat cover buku ini. Selain film dramanya yang telah booming di Indonesia, dan juga gaya bermusiknya yang telah latah menjamur oleh sebagian besar kalangan muda. Namun, terpenting dari Korea adalah bagaimana kita bisa belajar ke negara yang telah sukses mempopulerkan pariwisatanya ke berbagai manca negara.
 
Di Indonesia sendiri, tempat wisata sangatlah banyak dan beragam. Namun, mengapa yang kebanyakan  dikenal oleh wisatawan asing adalah Bali. Padahal, eksotisme atau panorama yang melebihi Bali jumlahnya ratusan. Bisa dipastikan, setiap kota di Indonesia, memiliki sejumlah lokasi wisata yang sering dikunjungi oleh wisatawan lokal. Namun, dengan minimnya sosialisasi dari pemerintah untuk menuju go to abroad . Jadi, yang kebanyakan dikenal oleh wisatawan asing hanyalah Kute-Bali.

Buku ini, lebih mengarah ke catatan pribadi seorang Claudia. Bagaimana pengalamannya selama 9 hari di Korea dengan mengeluarkan biaya yang relatif murah. Jadi, tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur penuh kepada khalayak, jika pergi atau jalan-jalan ke Korea selama 9 hari hanya dengan nominal 3 juta rupiah, semuanya tergantung kreatifitas masing-masing individu dalam menekan jumlah biaya yang ingin dikeluarkan.

Akan tetapi, setidaknya kita bisa meniru langkah nakal Claudia atau mengambil banyak inspirasi (pengalaman) darinya dalam buku ini. Seorang Traveler lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini sudah menelorkan beberapa buku yang sifatnya travelling dengan biaya murah. Buku pertamanya adalah, Rp2 Juta Keliling Thailand, Malaysia, dan Singapura.  Selanjutnya, Rp2 Juta Keliling Macau, Hongkong, & Shenzhen. Dan terakhir, Rp500 ribu Keliling Singapura.
    
Ada beberapa langkah yang diberikan oleh Claudia ketika sebelum dan sesudah sampai ke lokasi (Korea), mulai dari menghadapi mitos mahal, sulit mencari makanan yang halal, menghadapi masyarakat yang kebanyakan menggunakan bahasa Korea, hingga cara bertransportasi.

Pertama, hal yang perlu dihadapi oleh para backpacker adalah menghancurkan mitos mahal. Yang dilakukan oleh Claudia sendiri adalah, ia melakukan penerbangan melalui jalur Singapura. Karena secara kebetulan, ia bekerja di perusahaan multinasional di Jakarta dan Singapura. Dan, sewaktu di Singapura itulah rencana visit in Korea yang sudah lama direncanakan, akhirnya terealisasikan.    

Menghadapi mitos mahal ini, terpenting adalah kita sudah mempunyai rancangan yang matang. Mulai dari budget pesawat hingga mau kemana saja ketika sudah sampai ke lokasi (tujuan).
Kedua, telah diakui oleh Claudia bahwa menemukan makanan yang halal di Korea tentunya tidak semudah di Negara Asia Tenggara. Namun, untuk menghadapi hal ini, Claudia memberikan resep, yakni: tetap berusaha dan tidak malu bertanya. Dua kunci tersebut yang selalu Claudia pegang mulai dari pertama kali transit di kota Seoul hingga perjalanan terakhir di Incheon International Airport.   

Ketiga, Sulit berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Seperti yang kita tahu, bahwa bahasa Korea termasuk salah satu bahasa yang sulit di dunia.  Mulai dari ejaan hingga huruf kanjinya. Oleh karenanya, hal pokok inilah yang sering menjadi kendala.

Yang dilakukan oleh Claudia adalah tidak harus mampu ber-cas cis cus baru berani ke luar negeri, tetapi, terpenting selama di Korea, ia menghafalkan kosakata-kosakata atau sapaan-sapaan ringan, seperti: “selamat pagi/siang/sore”, dan “terimakasih”, selebihnya adalah bahasa tubuh (gerak-gerik), gambar, dan senyuman bisa dijadikan alternatif untuk berkomunikasi. (Hal 6).
    
Banyak yang kita dapatkan dalam buku Rp3 Juta keliling Korea dalam 9 hari ini. Selain langkah atau cara untuk menuju kesana. Claudia telah banyak mengekspos pengalaman-pengalamannya selama disana. Dan rata-rata yang terjadi sangatlah unik, seperti ketika ia tersesat karena salah jalur dalam menggunakan bus, hingga mau kena luapan emosi oleh pasangan si penjual cinderamata. Pasalnya, si cowok ganteng telah memberikan tisu kepada Claudia dan wajahnya di kipas-kipasi didepan pasangannya tadi. (hal 38-39).

Jadi, hemat penulis, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Ada niat, pasti ada jalan. Tentunya, visit in Korea pun bisa kita taklukkan. Traveling is possible..!. Demikian pesan singkat Claudia.

Peresensi adalah: Muhammad Autad An Nasher, Penghobi Travelling asal Jepara-Jawa Tengah.


(//mbs)

RESENSI »

Antologi Kisah Hidup Orang Sukses
Antologi Kisah Hidup Orang Sukses

Buku bersampul kuning ini kelanjutan Top Words 1. Konsep penulisan Billy Boen tidak jauh berbeda, ia sekadar menggali inspirasi dari para orang sukses. Tujuannya untuk membakar semangat kaum muda bisa berprestasi juga.

SUARA KEBON SIRIH »

Mudik, Jangan Lupa Klik www.okezone.com
Mudik, Jangan Lupa Klik www.okezone.com

Macet, jalur alternatif, posko mudik dan semua informasi mengenai mudik yang dibutuhkan akan tersaji dengan fresh dari situs berita www.okezone.com.

CATATAN REDAKSI »

Bersih-Bersih ala Kepala Daerah
Bersih-Bersih ala Kepala Daerah

Langkah sejumlah kepala daerah untuk menertibkan aparat di lingkungan kerja mereka perlu untuk didukung.

ETALASE »

Asal Mula Kampung 'Seribu Nisan'
Asal Mula Kampung 'Seribu Nisan'

Ihwal Gampong Pande atau Kampung 'Seribu Nisan' bermula saat Sultan Johan Syah mendirikan Istana Kerajaan Aceh Darussalam, tepatnya di tepian Sungai Aceh atau Kuala Naga, pada 1 Ramadan 601 Hijriah atau 22 April 1205 Masehi.

OPINI »

Deny Humaedi Muhammad
Berkah Korupsi Birokrasi
Berkah Korupsi Birokrasi

Dunia publik baik di ranah entertainment  maupun parlement selalu menjadi pusat perhatian masyarakat.