news okezone.com
Okezonenews » Home » Opini » Perlukah Ujian Nasional Dipertahankan?

getting time ...

OPINI

Perlukah Ujian Nasional Dipertahankan?

Senin, 04 Juni 2012 10:19 wib
Ahmad Zainuddin
Ahmad Zainuddin

UJIAN Nasional (UN) tahun ini sudah selesai dilaksanakan untuk tingkat SMA/MA dan tingkat SMP/MTs yang sederajat. Ditengah terjadinya kontroversi boleh tidaknya pelaksanaan UN, pemerintah masih tetap bersikukuh bahwa UN harus tetap dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu pasal 58 ayat (2): bahwa “Evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistemik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan”.

Jika kita perhatikan di dalam UU Sisdiknas pada pasal 68 sebenarnya sudah diatur tentang fungsi dari Hasil Ujian Nasional yaitu digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk melakukan pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan, dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan dan untuk pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Namun sepertinya fungsi tersebut akan sulit terwujud karena UN dilaksanakan hanya dengan menggunakan satu jenis penilaian yaitu nilai kognitif saja. Sedang kita pahami bahwa sisi psikomotorik dan terlebih lagi penilaian sikap (afektif) diajarkan secara bersamaan dalam proses pembelajaran disekolah, justru pada saat UN kedua aspek ini sama sekali tidak diujikan. Sangat ironis jika pemerintah mencanangkan pelaksanaan UN yang jujur dan berprestasi sedang aspek afektif tidak masuk dalam penilaian.

Ketidaksinkronan antara UU sisdiknas nomor 20 tahun 2003 dengan peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dapat kita lihat dari hasil dan tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan UN. Oleh karena standar penilaian dalam UN tidak mencakup seluruh komponen penilaian (kognitif, afektif dan psikomotorik), menyebabkan upaya peningkatan kualitas mutu pendidikan nasional kita sulit tercapai.

Akibatnya dari tahun ke  tahun pelaksanaan UN sering meninggalkan potret suram dalam pendidikan. Tindak kecurangan tidak dapat dihindari dan terus terjadi dalam setiap pelaksanaannya. Sungguh sangat memprihatinkan bagi dunia pendidikan kita, di tengah upaya pemerintah yang mencanangkan sikap jujur dan berprestasi  dalam pelaksanaan UN saat ini.

Mulai dari kunci jawaban yang beredar sehari sebelum pelaksanaan UN, siswa yang membawa kunci jawaban dalam ruang ujian dengan menggunakan secarik kertas maupun telepon selular, hingga siswa menyontek sudah menjadi hal yang biasa terjadi. Bisa dikatakan kecurangan itu terjadi secara sistematis dan dilakukan secara berkelompok.

Persiapan sekolah dan siswa dalam menghadapi UN pun terbilang cukup mencengangkan. Bagaimana tidak, tindakan-tindakan irasional dilakukan oleh sebagian sekolah untuk memperoleh hasil UN yang memuaskan. Tindakan sebagian sekolah yang para siswa dan guru melakukan ziarah ke kubur, mandi kembang hingga mendatangi dukun dan paranormal sebelum UN dilaksanakan merupakan suatu tindakan yang sangat disayangkan.

Euphoria UN termasuk tindak kecurangan selalu melibatkan banyak pihak. Pasalnya, kecurangan itu tidak hanya dilakukan oleh siswa saja, akan tetapi juga dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Ada semacam kerja sama dalam hal keburukan demi untuk mencapai hasil yang memuaskan. Jika ini sudah terjadi dan bahkan sudah merajalela, simpul-simpul kecurangan itu akan mengakar dan merusak sendi-sendi karakter bangsa kita. Sebuah harga yang harus dibayar mahal untuk mengurai kebobrokan sendi moral ini. Pembinaan dan pendidikan generasi bangsa akan selalu terkooptasi dengan penyimpangan nilai sosial dan norma budaya bangsa. Lalu bagaimana kualitas pendidikan kita akan ditingkatkan mutunya?

Walaupun menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengatakan bahwa jumlah pengaduan kecurangan UN tahun ini menurun dari tahun sebelumnya, namun dengan jumlah sekitar 254 aduan kecurangan UN di tingkat SMA/MA saja itu bukanlah merupakan jumlah yang sedikit, belum lagi aduan kecurangan UN di tingkat SMP/MTs dan SD/MI.

Kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya hal tersebut hanya kepada siswa saja. Akan tetapi harus dilihat penyebab utama yang menjadikan kecurangan tersebut merajalela. Kenapa masih saja terjadi kecurangan yang berulang setiap tahunnya? Pertanyaan ini memang harus dijawab dengan mengurai akar persoalannya.

Adapun menurut hemat kami tindak kecurangan UN dapat terjadi disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah;

Pertama, tidak berjalannya proses pendidikan karakter di rumah dan di sekolah dengan baik yang berimbas pada lunturnya nilai-nilai kejujuran di dalam diri siswa, guru dan juga sekolah. Dalam ilmu neurofisiologi disebutkan bahwa kemampuan potensi seseorang dapat dikembangkan secara maksimal bila kemampuan tersebut dapat dirangsang secara optimal pada usia dini. Pada masa enam tahun pertama kehidupan digambarkan bahwa pertumbuhan otak sudah mencapai 75 %, dan pada masa inilah disebut dengan golden age manusia.

Peran orang tua dan sekolah untuk membina anak sejak usia dini merupakan pijakan dasar dalam pembinaan karakter seperti kejujuran dan kemandirian. Ini dimulai sejak dalam buaiyan ibu sang anak sudah mendapatkan pendidikan karakter dan harus dilanjutkan lagi ketika anak masuk sekolah. Jika proses pembinaan dan pendidikan kejujuran serta kemandirian ini tidak berjalan dengan baik, tentu akan sulit untuk diharapkan kujujuran dapat terwujud seperti halnya itu diharapkan dalam pelaksanaan UN.

Kedua, pelaksanaan UN yang sangat dramatis dan sakral seperti meliburkan siswa yang tidak mengikuti ujian, (di negara lain pelaksanaan UN merupakan perhelatan sekolah biasa sama seperti kegiatan yang lain, ketika UN berlangsung siswa yang tidak mengikuti UN tetap belajar seperti biasa) dan UN dianggap sebagai tujuan terakhir dalam pendidikan. Hal ini tentu membuka peluang terjadinya kecurangan yang semakin besar. Lihat saja kecurangan dari pihak sekolah dapat disebabkan oleh karena sekolah yang memiliki tradisi meluluskan semua siswa akan berupaya untuk meneruskan tradisi itu, belum lagi dengan adanya tekanan dari pihak-pihak yang menginginkan agar jumlah kelulusan siswa terus meningkat menjadikan pihak sekolah berupaya sekuat tenaga untuk mengejar target kelulusan. Siswa pun akan berusaha dengan segala macam cara untuk bisa lulus ujian.

Ketiga, Fenomena kehidupan masyarakat kita yang mulai menunjukkan prilaku hedonism ikut menyuburkan prilaku yang bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan, kejujuran, kemandirian dan lain sebagainya. Ini tercermin dalam prilaku sebagian siswa atau oknum misalnya yang melakukan tindak kecurangan saat UN, mereka merasa seolah-olah kecurangan itu merupakan hal yang wajar terjadi. Pada akhirnya ketika sesorang sudah melalui masa sekolah, akan masuk dalam dunia kerja dia akan menghadapi dunia yang memaksanya untuk berbuat kecurangan juga. 

Kultur masyarakat sangat berperan penting untuk menyaring prilaku-prilaku yang menyimpang tersebut. Disinilah sebenarnya arti pentingnya pendidikan kita di dalam menumbuhkembangkan sikap keadilan, kejujuran, kemandirian dan jiwa wirausaha. Bangsa kita harus bangkit dari keterpurukan/dekadensi moral, harus bisa menata kembali kemandirian dan jati dirinya.

Ahmad Zainuddin
Anggota Komisi X DPR RI FPKS
(//fmh)

RESENSI »

Ingin Sarjana Sebelum Buta
Ingin Sarjana Sebelum Buta

Dokter memvonis tiga bulan lagi sepasang mata mahasiswi itu akan buta total. Sekarang, satu matanya memang sudah tidak bisa digunakan untuk melihat.

SUARA KEBON SIRIH »

Chief Content News Baru di Okezone.com
Chief Content News Baru di Okezone.com

PORTAL berita nasional, Okezone.com, memiliki Chief Content News (Pemimpin Redaksi News) baru, yakni Syukri Rahmatullah.

CATATAN REDAKSI »

Pemimpin Cengeng di Negeri "Surga" BBM
Pemimpin Cengeng di Negeri

DALAM dua pekan terakhir bangsa Indonesia dihadapkan dengan pembatasan kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

ETALASE »

Derita Balita Pengungsi Korban Tsunami Mentawai
Derita Balita Pengungsi Korban Tsunami Mentawai

Gizi buruk dialami sejumlah anak dari pengungsi korban tsunami Mentawai. Minimnya asupan makanan bergizi serta lingkungan yang kotor turut berkontribusi membuat anak-anak tumbuh secara tidak normal.

OPINI »

Ayipudin
Merajut Kembali Kemerdekaan Kita
Merajut Kembali Kemerdekaan Kita

Hari kemerdekaan ibarat lahirnya sang fajar ketika awan gelap membungkus negeri ini dengan pesimisme.