SECARA Serentak 618.804 siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat tengah menjalani ujian Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2012. Melalui ujian inilah kompetensi siswa disaring. Mereka yang lolos, maka berhak duduk di bangku perguruan tinggi pelat merah.
SNMPTN merupakan puncak dari ujian tingkat SMA dan sederajat menuju jenjang pendidikan tinggi. SNMPTN sekaligus menjadi harapan utama bagi para siswa dan orangtua untuk bisa mengenyam pendidikan kualitas terbaik di Tanah Air. Peminatnya dari tahun ke tahun pun selalu meningkat. Bahkan pada tahun ini, jumlah pesertanya melonjak 14 persen dari tahun lalu.
Bak lubang jarum, seleksinya cukup ketat. Mereka akan memperebutkan satu dari 160 ribu kursi yang tersedia tahun ini. Jadi tidak heran banyak siswa yang mati-matian, mengikuti les private, bimbingan belajar, dan ikut try out secara berkala untuk mengasah kemampuan. Itu merupakan bagian dari perjuangan demi masuk PTN.
Maka tidak heran jika pelaksanaan ini kerap dinodai dengan praktik kecurangan seperti perjokian. Jalan pintas yang tidak terpuji ini, dilakukan supaya bisa menimba ilmu di PTN.
Kondisi ini sebenarnya mencerminkan sebuah fenomena, bahwa minat pendidikan di Indonesia masih didominasi di PTN. Mengapa demikian? Jawabannya sangat mudah. Dengan mengenyam pendidikan di PTN, harganya terjangkau. Soal kualitasnya pun sudah tidak diragukan lagi.
Faktanya, perguruan tinggi swasta (PTS) dengan biaya murah memang sudah menjamur. Tetapi kualitas lulusnya belum tentu bisa menjawab tantangan dunia kerja yang semakin berat di tahun mendatang. Sementara PTS yang berkualitas, harganya selangit.
Di sinilah celah, yang selayaknya difasilitasi oleh pemerintah. Perlu adanya formulasi yang bisa meningkatkan kualitas pendidikan pendidikan tinggi swasta yang bisa menjebatani gap. Sebab, sebagian besar lulusan SMA, justru mengenyam pendidikan di PTS bukan di PTN.
(rhs)
Online di Okezone">