Pada 1970-an kawasan Desa Padas, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, masih hutan rimba. Penduduk yang mendiami desa di lereng Gunung Wilis itu baru segelintir orang, binatang buas masih banyak berkeliaran, dan air pun susah didapat. Salah seorang yang mampu bertahan hidup di tengah ganasnya alam itu adalah Saekan.
Saekan bersama enam warga lainnya menggantungkan hidup pada lahan pertanian ladang. Di sana, mereka seakan berebut rezeki dengan binatang buas, seperti kera dan babi hutan. “Di siang hari puluhan kera mengerang ladang kami, dan bila malam giliran babu hutan mengobrak-abrik taman kami,” cerita Saekan mengenang masa lalunya.
Tantangan yang dihadapi pria kelahiran 23 Juni 1949 bukan hanya binatang buas, tapi juga sulitnya memperoleh air. Jangankan untuk mandi, buat minum pun susah. Menurut Saekan, ia pernah tidak mandi selama satu minggu. Dan, berladang pun tak mungkin, hingga akhirnya lelaki tamatan Sekolah Rakyat (SR) ini terpaksa menggantung hidup sebagai penyadap getah pinus.
Saekan tidak sendiri menjalankan pekerjaan sebagai penyadap getah pinus itu, melainkan bersama warga lainnya yang bermukim di desa itu. Untuk melakukan pekerjaan itu, mereka harus menempuh perjalanan sejauh 20 km, jauh di tengah hutan sana. Dalam seminggu mereka bisa memperoleh 40 kg getah pinus.
Getah pinus itu mereka jual ke Perhutani, yang kala itu mematok harga Rp5 per kg. Tapi, untuk membawa getah pinus itu ke Perhutani juga bukan pekerjaan mudah. Memanggul atau memikul adalah pilihan yang paling memungkinkan. Soalnya, di tahun 1972 itu belum ada jalan yang menghubungkan desa itu dengan daerah luar. “Uang hasil penjualan getah pinus itu dipakai buat membeli gaplek, beras, dan ketela,” cerita Saekan.
Itulah gambaran kehidupan Saekan bersama istrinya, Tarmi, waktu itu. Tapi, suatu hal dipegang teguh oleh Saekan dan kawan-kawannya tak akan menyerah pada kegagasan alam. Justru, ia mencari akal bagaimana menjinakkan lingkungan yang penuh suasana kengerian itu. Entah dari mana datangnya ide, yang jelas pada 1973, Saekan menanami lahan daerah lintasan air pada saat musim hujan dengan ratusan pohon pucung.
Pohon pucung dipilih oleh Saekan, karena banyak manfaatnya. Pohon ini berdaun rimbun dan saking rimbunnya sinar matahari tidak bisa menembus ke tanah, sehingga tanahnya di bawah pohon itu menjadi berembun. Menurut Saekan, butir-butir embun yang muncul dari akar-akar pohon pucung itu akan menjelma menjadi sumber mata air.
“Sumber air merembes dari akar-akar pohon pucung, bukan dari dalam tanah,” kata Saeken menjelaskan. Tapi, untuk terciptanya sumber air, Saekan harus menunggu cukup lama. Bayangkan, pohon ditanamnya pada 1973 dan baru mengeluarkan air pada 1980. Dan, peristiwa itu memancarkan harapan lebih cerah buat masyarakat Desa Padas.
Meski mata air itu muncul di lereng bukit bagian atas – tempat pertama kali pohon pucung ditanam – atau jauh dari pemukiman penduduk, tapi tak jadi soal. Penduduk rela mendaki beberapa kilometer untuk sampai di sumber air tersebut. Tapi, kemudian, warga sepakat mengalirkan air itu ke pemukiman penduduk menggunakan saluran.
Air dari sumber air itu ditampung pada di sebuah bak penampungan, yang letaknya tak jauh dari rumah penduduk, atau 4 km jaraknya dari sumber air itu. Untuk mengalirkan air itu membutuhkan 1.000 batang pipa paralon (setiap batang ukuranya 4 meter). Dari bak penampungan, air kemudian disalurkan ke rumah-rumah penduduk.
Debit air yang keluar dari sumber air itu mengucur cukup deras. Menurut penelitian yang dilakukan pada 1995, dalam 1 menit air yang keluar dari sumber mencapai 5 liter. Dan, air ini mampu mengubah pola hidup penduduk di kawasan kaki Gunung Wilis tersebut.
Perubahan yang paling tampak, warga di sana meninggalkan pekerjaan sebagai penyadab getah pinus, dan beralih menjadi petani. Penduduk pun termotivasi untuk melakukan penghijauan dengan menanam jenis tanaman produktif -- seperti kakao, cengkeh, kopi, durian, dan petai -- di kawasan lereng gunung seluas 1.175 hektare itu.
Pemerintah Kabupaten Madiun pun tidak tinggal diam. Pada 2005 pemerintah kabupaten menyediakan lahan garapan untuk penduduk seluas 193 hektar dan bantuan bibit tanaman kakao sebanyak 20 ribu sampai 25 ribu pohon. “Sebagian tanaman kakao itu sudah hampir berbunga,” kata Saekan. Dan, kini ratusan penduduk tertolong dari kemelaratan. Dan, kolam ikan milik penduduk berebaran di daerah tersebut.
“Kehidupan di sini sekarang sudah lebih bagus dibanding dulu. Air sudah bisa digunakan untuk apa saja, termasuk mengairi lahan pertanian,” ujar Saekan. Tak bisa dipungkiri, berkat perjuangan Saekan sehingga desa di kaki Gunung Wilis itu bisa demikian. Maka, tak berlebihan bila memperoleh penghargaan Kalpataru dari Presiden pada 5 Juni 2008. Ia memang seorang pejuang dan pelestari pelestarian lingkungan hidup.
Bersusah Dahulu, Senang Kemudian
Habis sulit terbitlah tenang. Itu ungkapan yang pantas diberikan kepada Saekan, seorang petani dari Desa Padas, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Ayah dua anak: Hartono dan Udi Jatmiko itu mulai menjalani kehidupan di desa itu dari kondisi serba susah. Hidup di tengah hutan rimba bertarung dengan binatang buas, berhadapan lahan gersang, dan air pun sulit. Tapi, Saekan tak pernah menyerah dan terus berjuang untuk memperbaiki hidupnya.
Dan, tanda-tanda keberhasilannya mulai tampak pada 1980. Ketika upaya yang dilakukannya sejak 1973 – dengan cara menanam pohon pucung di lereng bukit di sekitar desanya – telah melahirkan sebuah sumber air, yang kemudian mengubah segala-galanya, baik untuk Saekan dan keluarganya mau pun ratusan keluarga lainnya di desa itu.
Maka wajar kalau sekarang Saekan menikmati hasilnya. Di mata pemerintah ia dikategorikan sebagai pelestari lingkungan hidup. Pada 2007 ia mendapat penghargaan Kalpataru untuk tingkat provinsi Jawa Timur, dengan hadiah uang Rp2.375.000, dan pada 5 Juni 2008 dia termasuk salah seorang penerima Kalpataru tingkat nasional, dan untuk itu ia memperoleh hadiah uang Rp15 juta.
“Hadiah itu untuk tambahan modal Kelompok Tani Argomulyo,” kata Saekan. Kelompok Tani Argomulyo beranggota 52 petani, dibentuk pada 2003, dan Saekan adalah ketuanya. Selain menerima penghargaan, ia juga menyatakan bangga bisa bertemu dan berbicara langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Saya paling lama berbicara dengan presiden, yaitu sekitar 15 menit, sementara yang lainnya hanya 5 menit,” ujar Saekan.
Sebagai orang petani, Saekan kini memiliki tanah garapan seluas 5 hektar, yang di atasnya ditanami kelapa, kakao, kopi, dan cengkeh. Dari sejumlah komoditas itu, ia memperoleh penghasilan hampir Rp4 juta per bulan. Maka, tak heran, di Desa Padas khususnya dan di Kabupaten Madiun umumnya, ia termasuk petani yang berkecukupan. Di rumahnya terparkir dua sepeda motor yang dipakai untuk aktivitas sehari-harinya.
Tapi, perubahan tarap hidup itu bukan hanya terjadi pada Saekan dan keluarganya, melainkan seluruh warga desa tersebut. Sekarang, di sana, kini jarang ditemukan rumah beratap ilalang, berlantai tanah, dan berdinding kayu atau bambu, kini yang tampak rumah-rumah permanen, berdinding tembok, beratap genting, dan berlantai keramik.
Sebenarnya bukan perhargaan yang didambakan Saekan ketika berjuang keras untuk memperbaki lingkungan dan sekaligus mencari sumber air. Waktu itu, ia hanya berharap agar kehidupannya dan juga penduduk di desanya menjadi lebih baik. Dan, lebih dari itu, “Agar anak cucu jangan sampai hidupnya terlunta-lunta,” ujarnya.
Karena itu, Saekan berharap kepada masyarakat di kaki Gunung Wilis bagian utara agar tetap menjaga hutannya, dan jangan merusak atau menebong pohon sembarangan. “Kalau pohon-pohon ditebang maka masyarakat akan kembali ke masa lalu, tidak ada sumber air lagi,” ujar Saekan, si pejuang lingkungan hidup ini, berharap.
Ardi Winangun
Warga Matraman, Jakarta
(//mbs)