news okezone.com
Okezonenews » Home » Opini » Ketidakmerataan Ekonomi, Dualisme dan Ekonomi Rakyat

getting time ...

OPINI

Rika Hariance, SP, M.Si

Ketidakmerataan Ekonomi, Dualisme dan Ekonomi Rakyat

Senin, 25 Juni 2012 09:59 wib

Michael P. Todaro dalam bukunya Pembangunan Ekonomi menjelaskan bahwa pembangunan dalam perspektif luas dapat dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap masyarakat dan institusi nasional, disamping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan serta pengentasan kemiskinan.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat menambah jumlah investasi-investasi baru yang pada akhirnya akan menyerap tenaga kerja yang banyak dan mengurangi angka pengangguran. Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi ekonomi yang baik.

Sebuah perencanaan yang baik, akan mampu memanfaatkan semua potensi yang ada pada alam Indonesia secara optimal dan akan mengantarkan Indonesia menjadi negara yang makmur.

Pada masa orde baru, para pembuat kebijaksanaan dan perencana pembangunan sangat percaya bahwa pembangunan ekonomi di pulau Jawa (Jakarta dan sekitarnya) akan menghasilkan "Trickle Down Effects" atau efek tetesan minyak ke daerah lainnya yang berada di sekitar pulau Jawa. Namun demikian ketika diimplementasikan, ‘keyakinan’ mereka justru sangat bertolak belakang.

Perhatian mereka justru hanya terpusat pada pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan pemerataan pembangunan. Hal ini bisa dilihat dari ketidak-merataan distribusi pendapatan nasional. Padahal distribusi pendapatan mencerminkan merata atau timpangnya hasil pembangunan suatu negara.

Perlu diketahui ketidakmerataan distribusi pendapatan atau kesenjangan ekonomi dan kemiskinan merupakan dua masalah besar pada negara berkembang, tak terkecuali Indonesia.

Bambang Ismawan dalam artikelnya tentang ekonomi kerakyatan menyatakan bahwa ketimpangan ekonomi Indonesia disebabkan oleh asumsi bahwa apabila pertumbuhan ekonomi tinggi maka dengan sendirinya kemiskinan akan berkurang.

Dalam struktur yang timpang itu, sekelompok kecil elit ekonomi yang berjumlah 1% mendapatkan berbagai fasilitas dan hak istimewa untuk menguasai sebagian besar sumberdaya ekonomi dan mendominasi sumbangan PDB, pertumbuhan ekonomi maupun pangsa pasar. Sementara 99% kelompok lainnya termarginalkan.

Menurut Ekonom Belanda J.H.Booke, fenomena ini adalah sebuah bentuk dualisme ekonomi (perekonomian ganda), yaitu ada sektor besar dengan kemampuan modern berdampingan dengan sektor kecil dengan kemampuan tradisional.

Contoh sederhana adalah seperti yang kita saksikan pada sebagian kota besar di Indonesia, dimana pasar modern berdampingan dengan pasar tradisonal, perkebunan besar dengan kebun rakyat, atau gedung bertingkat pencakar langit dengan perumahan kumuh masyarakat disekitarnya.

Pembangunan yang berorientasi hanya pada pertumbuhan saja tidak mampu menghilangkan dualisme ekonomi tersebut, namun malah membuatnya semakin kuat, hingga jurang antara si kaya dan si miskin semakin melebar. Dari sini timbul pertanyaan bagaimana mengatasinya?

Ada baiknya kita mendengar kembali petuah almarhum Sajogyo soal mengatasi ketimpangan ini. Ia menyebutkan bahwa caranya dapat ditempuh melalui penciptaan iklim ekonomi dengan dua kata kunci: pertama meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan kedua mewujudkan keadilan sosial.

Ini lah yang kemudian kita sebut dengan ekonomi kerakyatan. Pada ekonomi rakyat, pemerintah dapat mengembangkan sektor pertanian, manufaktur dan bangunan yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak. Sehingga pada akhirnya perekonomian akan meningkat, dan pengentasan kemiskinan serta pemerataan pendapatan yang dicita-citakan akan dapat tercapai.

Hal ini sebagai mana dikatakan Mahhub Ul Haq bahwa pengentasan kemiskinan adalah cara untuk meningkatkan GNP bukan GNP yang menghilangkan kemiskinan, kutipan dalam buku M. P. Todaro Pembangunan  Ekonomi.

Oleh karena itu perlu kembali ditegaskan bahwa bahwa ekonomi rakyat merupakan salah satu konsep pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tidak berdasarkan peningkatan pendapatan perkapita, GNP atau PDB tetapi program pengentasan kemiskinan dan pemerataan pendapatan.

Rika Hariance, SP. M.Si
Penulis adalah Peraih Gelar Master pada Program Studi Pembangunan Wilayah dan Pedesaan pemusatan Pembangunan Agribisnis  Program Pascasarjana Universitas Andalas. Saat ini mengabdi pada almamaternya sebagai staf bidang kerjasama pendidikan Program Pascasarjana Universitas Andalas. Dan aktif sebagai aktivis pemberdayaan perempuan dan kelurga bersama Ormas Persaudaraan Muslimah (Salimah) Wilayah Sumatera Barat.
Email: rika_hariance@yahoo.co.id


(//mbs)

RESENSI »

Membaca Gus Dur Lewat Kesufiannya
Membaca Gus Dur Lewat Kesufiannya

Bagaimana membaca sepak terjang Gus Dur yang sepertinya tak terbentuk, sehingga sebagaian kalangan menyebutnya The Drunken Mastes van Indonesia? Banyak yang telah membahas spectrum atau dimensi sepak terjang yang sedemikian luas.

SUARA KEBON SIRIH »

Awak Media Dotcom "Berguru" Ilmu Online di Okezone
Awak Media <i>Dotcom</i> Online di Okezone">

BERBAGI ilmu tidak hanya berlaku untuk guru kepada muridnya saja, sesama teman, sahabat, rekan kerja pun bisa. Bahkan, di dunia bisnis pun berlaku demikian. Saling berbagi ilmu tanpa "menjatuhkan" satu sama lain.

CATATAN REDAKSI »

Cerita Menimbun BBM
Cerita Menimbun BBM

PEMERINTAH katanya akan menghapus subsidi bahan bakar minyak (BBM) jenis premium.

ETALASE »

Peselancar Dunia pun Mencoba Taklukkan Gelombang Tujuh Hantu
Peselancar Dunia pun Mencoba Taklukkan Gelombang Tujuh Hantu

Demi memperbaiki catatan rekor di Guiness Book of Rercord, peselancar kawakan asal Inggiris menjajal Gelombang Tujuh Hantu di Kabupaten Pelalawan, Riau.

OPINI »

Bambang Arianto
Nasib PKS dalam Politik BBM
Nasib PKS dalam Politik BBM

Polemik kenaikan BBM nyaris menyulut perseteruan parpol koalisi yang dinahkodai Demokrat versus Partai Keadilan Sejahtera (PKS).