Pesta demokrasi di Ibukota Indonesia akan dimulai dalam hitungan beberapa pekan lagi. Enam pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta pun sudah mempunyai strategi sendiri buat memenangkan pilkada. Seru, tapi jangan sampai ada kecurangan!
Ya, pemilukada DKI Jakarta pada tahun ini boleh dibilang lebih seru dibandingkan perhelatan serupa di waktu-waktu sebelumnya. Pada 2007 lalu, kandidat yang maju sebagai calon gubernur pun hanya ada dua. Jadi pesta terasa sangat hambar. Apalagi tahun sebelum 2007, lebih tidak seru lagi karena rakyat tidak terlibat langsung hanya diwakilkan para anggota dewan yang tak ubahnya melakukan transaksi politik semata.
Dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun ini enam pasangan calon ikut meramaikan. Mereka adalah, Foke-Nachrowi calon nomor urut satu (1), Hendardji Supandji-Ahmad Riza (2), Joko Widodo-Basuki TP (3), Hidayat Nurwahid-Didik Rachbini (4), Faisal Basri-Biem Benyamin (5), dan Alex Noerdin-Nono Sampono (6). Keenam calon itu tentu terus memutar otak mengeluarkan ide-ide perbaikan Ibukota yang cenderung tak banyak perubahan semenjak gubernur dipilih langsung oleh rakyat.
Keenam pasangan calon diharapkan bisa melakukan perubahan di Ibukota. Dengan enam kepala tentu akan semakin banyak ide-ide brilian dari para calon yang bisa digunakan untuk mengatasi persoalan di Ibukota.
Tentu saja, banyak warga berharap menikmati pesta demokrasi ini dengan jujur, adil dan transparan. Buktinya ketika persoalan daftar pemilih sementara diumumkan, ternyata banyak ditemukan pemilih ganda atau palsu. Tentu, hal-hal seperti itu akan mengurangi warga Jakarta menikmati pesta yang sedang digelar. Jangan sampai pesta yang sudah digelar dengan biaya yang tak murah ini justru hanya menghasilkan pemimpin yang curang dan lebih parah lagi kalau tidak diterima di masyarakat. Tingkat partisipasi warga ketika hari pencoblosan 11 Juli mendatang bisa menjadi tanda apakah pesta berlangsung sesuai harapan atau hanya dinikmati beberapa golongan saja.
(ahm)
Online di Okezone">