Penulis : Riawani Elysta dan Shabrina WS
Penerbit: Bentang Belia
Tahun : I, Maret 2012
Tebal : x + 139 halaman
ISBN : 978-602-9397-17-8
Orang utan adalah salah satu satwa langka di dunia yang hampir punah, hanya ditemukan di hutan tropis Indonesia (Kalimantan dan Sumatera) dan Malaysia. Saat ini terjadi penurunan jumlah orang utan yang sangat tajam sebesar 43 persen dari 35.000 ekor (1996) menjadi sekira 20.000 ekor (WCS-IP). Penurunan jumlah tersebut disebabkan oleh kerusakan hutan dan perburuan.
Keberadaan orang utan di sebuah kawasan pasti diikuti dengan keberadaan berbagai macam hewan di kawasan itu, hal itu membuktikan bahwa lingkungan di tempat itu masih bagus dan sehat. Hutan yang bagus belum tentu ada orang utannya tapi hutan yang dihuni orang utan bisa dipastikan bahwa hutan tersebut masih sehat wal afiat.
Salah satu lokasi untuk dapat melihat orang utan secara langsung di alam bebas adalah di Tanjung Puting, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Bagi penggemar wisata alam dan petualangan, daya tarik ini tentunya dapat menjadi alasan kuat untuk memasukkan taman nasional ini dalam agenda perjalanan wisatanya. Menyusuri sungai menggunakan kapal klotok di tengah belantara hutan-hutan tropis menuju taman bagi konservasi orang utan, akan menghadirkan perjalanan yang sungguh menakjubkan. Petualangan akan semakin lengkap, dengan melihat dan berinteraksi langsung dengan orang utan di habitatnya.
Melihat begitu pentingnya menjaga keberlangsungan orang utan kita harus mengawasi dan menanamkan untuk mencintai hewan langka tersebut. Salah satu cara adalah memberikan bacaan pada masyarakat umum yang tidak bersifat menggurui dan akut. Novel karangan dua orang ini sangat cocok untuk menumbuhkan rasa cinta lingkungan dan berusaha menjaga kelestarian orang utan.
Riawani Elyta dan Sabrina WS begitu mencintai satwa langka. Hal ini bisa dilihat dari novel Ping ini. Di sini dilukiskan bahwa keberadaan orang utan juga sama persis dengan manusia. Mereka juga mempunyai insting untuk bertahan hidup, menjaga anak-anaknya, merasa takut saat ditinggal induknya, dan membuat sarang.
Keunikan lain dari novel ini adalah dari penulisnya yaitu keduanya belum pernah bertemu muka. Mereka hanya berkomunikasi melalui dunia maya. Karena kesamaan mencintai satwa langkalah yang mempersatukan dua karyanya. Novel ini sebagai juara 1 lomba novel 30 hari 30 buku Bentang Belia. Pertama dari Molly yang sebagai penggemar dan penyayang akut orang utan. Kedua, Ping adalah orang utan yang ditinggal orang tuanya karena ditembak manusia.
Molly yang sangat menyukai hewan langka ini nantinya bertemu dengan Ping yang sudah tidak percaya terhadap manusia. Bahkan Ping sangat takut melihat pisang, karena saat ibunya mati di sampingnya penuh dengan kulit pisang. Pisang beracun. Namun nantinya Ping menyadari bahwa tidak semua manusia memburu dan membenci orang utan. Sikap saling percaya antara Ping dan Molly menjadi hal yang mengharukan di cerita ini.
Tentunya buku ini tidak sekadar berisi tentang menyayangi orang utan tetapi juga ritme yang ada adalah ritme remaja. Kisah cinta, romans, cemburu, haru, gregetan, sayu, geram, senang, dan lainnya juga terdapat di buku ini.
Peresensi: Achmad Marzuki
Ketua Umum Ikatan Keluarga Arek Jawa Timur (Ikajatim) IAIN Walisongo Semarang
(//mbs)
Online di Okezone">