news okezone.com
Okezonenews » Home » Opini » Melanjutkan Tongkat Estafet Pembangunan Jakarta

getting time ...

OPINI

Ardi Winangun

Melanjutkan Tongkat Estafet Pembangunan Jakarta

Jum'at, 29 Juni 2012 09:12 wib

Hari-hari ini di berbagai jalan dan sudut-sudut kota Jakarta semakin semarak. Semarak dengan berbagai atribut kampanye Pilkada Jakarta 2012. Bendera, stiker, baliho, dan spanduk dari keenam calon gubenur nampak saling berebut ruang di tempat-tempat umum.

Dalam atribut-atribut itu, dengan senyum yang menawan, keenam calon menawarkan berbagai macam program, seperti sekolah gratis, biaya pengobatan gratis, bebas banjir dan macet, pembangunan rumah susun, serta tawaran-tawaran kesejahteraan lainnya. Namun banyaknya tawaran itu tidak membuat masyarakat senang, tetapi malah membuat bingung, karena semua calon sepertinya menawarkan hal yang sama, tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang. Misalnya tawaran mengatasi macet dan banjir, pasti akan menjadi prioritas kampanye. Tak ada calon yang tidak menawarkan solusi masalah ini, sebab hal ini adalah problem utama dari Jakarta.

Untuk lebih menyakinkan pilihan masyarakat, tak jarang calon menunjukan prestasi pembangunan yang sudah dilakukan, seperti ada seorang calon yang membesar-besarkan prestasi dalam mengatasi masalah pedagang kaki lima. Bahkan saking ketatnya persaingan, ada calon yang menawarkan program sim salabim, yakni mengubah Jakarta yang penuh problem dalam waktu yang sangat singkat, yakni 3 tahun. Dengan 3 tahun, problem banjir dan kemacetan akan terpecahkan, begitu kata janjinya.

Masyarakat Jakarta, dalam pilkada tentu harus hati-hati dalam menentukan pilihan. Hati-hati terhadap money politic dan umbaran janji calon. Masyarakat tidak boleh berjudi dalam menentukan pilihan. Hanya dengan Rp25.000 dan kaos,  masyarakat jangan mau mempertaruhkan hidupnya untuk 5 tahun ke depan. Masyarakat juga harus waspada dan jangan cepat terpesona dengan janji dan senyumnya yang membuat kita terhipnotis memilihnya.

Dalam memilih siapa Gubernur Jakarta yang akan datang, masyarakat harus tenang, cerdas, dan mempertimbangkan banyak hal. Kita harus sadar, bahwa Provinsi Jakarta ini lain dengan daerah atau wilayah lainnya. Jakarta memiliki luas sekitar 661,52 km persegi dengan jumlah penduduk, pada tahun 2010, berjumlah 9.607.787 jiwa. Jakarta merupakan metropolitan terbesar keenam di dunia. Sebagai pusat bisnis, ekonomi, politik, dan pusat-pusat lainnya, Jakarta menanggung beban penduduk hingga mencapai 12 juta pada siang hari. Bertambahnya penduduk pada siang hari karena penduduk komuter dari wilayah Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Cianjur (Bodetabekjur).
Bandingkan dengan Solo yang memiliki luas wilayah 44 km persegi dan jumlah penduduk, pada tahun 2010, 503.421 jiwa. Bandingkan pula dengan Sumatera Selatan, yang memiliki luas 113.339 km persegi dengan jumlah penduduk, tahun 2010, sebanyak 7.446.401 jiwa.

Dengan perbandingan-perbandingan tersebut tentu membangun Jakarta berbeda dan lebih sulit dengan Solo dan Sumatera Selatan. Penduduk Jakarta yang melimpah, dengan latar belakang yang beragam, maka problem dan keinginan masing-masing penduduk pun juga tidak segaris. Dengan realitas ini, maka kesuksesan kepala daerah yang di luar Jakarta ketika hendak mencoba membangun Jakarta, belum tentu ia sukses seperti membangun daerah asalnya.

Bila ada yang sukses membangun daerah di luar Jakarta saja kita khawatirkan, apalagi yang belum punya pengalaman. Ada beberapa calon yang hanya mengandalkan pengalaman politik dan keahlian di bidang ekonomi, misalnya, namun ia tak mempunyai pengalaman menjadi birokrat. Calon yang demikian tentu lebih membahayakan, sebab mereka akan membangun Jakarta berdasarkan impian dan salah-coba-salah coba.

Jalan tengah dari memilih Gubernur Jakarta adalah memilih calon yang sudah mempunyai pengalaman dalam mengelola Jakarta. Dengan meminjam kata-kata Jenderal Perang Sun Tzu yang mengatakan, “Kenali musuhmu, kenali dirimu, maka kau bisa berjuang dalam 100 pertempuran tanpa risiko kalah. Kenali bumi, kenali langit dan kemenanganmu akan menjadi lengkap.” Maka calon yang sudah mempunyai pengalaman dalam mengelola Jakarta, ia sudah mengenal ‘musuh-musuh’ Jakarta. Musuh-musuh Jakarta adalah banjir, kemacetan, kemiskinan, kriminalitas, dan problem sosial lainnya. Dengan mengenali musuh-musuhnya itu, maka calon yang sudah mempunyai pengalaman mengelola Jakarta tinggal bagaimana ‘menumpas’ musuh-musuh itu. Bandingkan bila calon belum mengenal Jakarta, tentu ia masih meraba-raba dalam membangun Jakarta. Memang banyak orang tahu apa masalah Jakarta, namun mengatasinya tidak semudah yang dibayangkan.

Nah dari calon yang sudah mempunyai pengalaman mengelola Jakarta, ya incumbent. Incumbent dalam membangun Jakarta, bukan peletak batu pertama, ia menjadi penerus pendahulu-pendahulunya, mulai dari Suwirjo, Ali Sadikin, dan Sutiyoso. Bahkan incumbent, saat Sutiyoso menjadi Gubernur Jakarta yang monumental yang membangun busway dan banjir kanal, ia menjadi wakilnya.

Dengan demikian agar pembangunan berkesinambungan maka Jakarta harus diteruskan oleh incumbent. Waktu 5 tahun tidak cukup untuk membangun Jakarta secara cepat dan tuntas, sehingga di sinilah letak pentingnya pembangunan yang berkelanjutan. Untuk itu kita harus memberi kesempatan periode kedua, 2012-2017, kepada incumbent.

Apa arti sosok baru bila keberadaannya malah membuat Jakarta semakin macet dan tidak manusiawi. Sosok baru pasti tak akan mampu menyelesaikan MRT (mass rapid transport) dalam jangka waktu 5 tahun. Buktinya, MRT yang telah digagas sejak tahun 1986, baru dibangun tahun ini dan selesai tahun 2016, itupun Tahap I Koridor Selatan. Jadi menyelesaikan kemacetan dalam waktu 3 tahun adalah mutashil.

Ardi Winangun
Pengamat Politik

(//mbs)

RESENSI »

Menyingkap Kristal-Kristal Hikmah Kehidupan Kosmopolitan
Menyingkap Kristal-Kristal Hikmah Kehidupan Kosmopolitan

Di tengah berkelumitnya kehidupan, seakan makin sulit bagi kita untuk memadukan rasa dan pikiran.

SUARA KEBON SIRIH »

Awak Media Dotcom "Berguru" Ilmu Online di Okezone
Awak Media <i>Dotcom</i> Online di Okezone">

BERBAGI ilmu tidak hanya berlaku untuk guru kepada muridnya saja, sesama teman, sahabat, rekan kerja pun bisa. Bahkan, di dunia bisnis pun berlaku demikian. Saling berbagi ilmu tanpa "menjatuhkan" satu sama lain.

CATATAN REDAKSI »

BBM Naik Sambut Bulan Ramadan
BBM Naik Sambut Bulan Ramadan

Ada yang berbeda menjelang Ramadan tahun ini di Indonesia. Pemerintah “berbaik hati” dengan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sepekan sebelum bulan puasa dimulai.

ETALASE »

Peselancar Dunia pun Mencoba Taklukkan Gelombang Tujuh Hantu
Peselancar Dunia pun Mencoba Taklukkan Gelombang Tujuh Hantu

Demi memperbaiki catatan rekor di Guiness Book of Rercord, peselancar kawakan asal Inggiris menjajal Gelombang Tujuh Hantu di Kabupaten Pelalawan, Riau.

OPINI »

Tommy Maulana
PAN dan Impian Kemenangan
PAN dan Impian Kemenangan

Sebelum menyambut pesta demokrasi 2014 mendatang, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah resmi menetapkan 12 partai nasional untuk mengikuti pemilihan umum 2014 dan 3 partai lokal Aceh.