JUMLAH penduduk miskin periode Maret 2011 - Maret 2012 turun 0,53 persen atau 890.000. Kini jumlah penduduk miskin di Tanah Air merosot menjadi 30 juta (2011) dibandingkan 31 juta pada 2009 dan 32,5 juta pada 2010. Peningkatan upah buruh dan pembagian beras untuk rakyat miskin menjadi faktor pendorong utama penurunan jumlah penduduk miskin ini.
Demikian kira-kira nukilan hasil jumpa pers Badan Pusat Statistik, Senin 2 Juli 2012. Angka yang cukup menggembirakan, namun masih mengkhawatirkan. Pasalnya jika dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang rata-rata di atas 6 persen, maka penurunan angka kemiskinan 0,53 persen dinilai masih sangat kecil. Mestinya, jumlah penduduk miskin yang berkurang bisa di angka 1-2 persen.
Namun data lain yang cukup mengkhawatirkan adalah angka penduduk hampir miskin yang justru naik. Data 2009 menyatakan jumlah penduduk hampir miskin mencapai 8,99 persen dari total penduduk Indonesia di tahun bersangkutan. Kemudian angka ini naik menjadi 9,88 persen pada 2010, dan naik kembali menjadi 10,28 persen di tahun 2011.
Jika saja program pembangunan tidak menyentuh dan mampu memperbaiki tingkat kesejahteraan penduduk yang terkategori hampir miskin ini, maka dipastikan mereka akan segera jatuh ke jurang kemiskinan. Demikian juga jika kebijakan pemerintah tidak prorakyat miskin, nasib mereka pun akan makin muram.
Melihat angka-angka yang disajikan oleh BPS tersebut sebenarnya bisa dijadikan cerminan atas kinerja pemerintah. Bisa jadi bernilai positif, bisa juga bernilai "kuning". Dalam arti ada rambu warna kuning sebagai warning bahwa pemerintah mesti ekstra kerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Tanpa kebijakan yang tepat, maka bisa saja angka kemiskinan dan pengangguran yang selama ini menjadi momok di negeri ini makin membengkak. Jika itu terjadi, sudah pasti, pemerintah saat ini akan dinilai gagal.
Pemerintah harus mulai membuat program-program konkret. Tujuannya agar masyarakat makin produktif. Mereka yang tidak beruntung mengenyam pendidikan harus diberikan pelatihan ketrampilan khusus. Mereka yang memiliki cukup pendidikan, namun belum terserap di dunia kerja, bisa diberikan bekal kewirausahaan. Program Raskin, program kesehatan gratis, atau juga program bantuan langsung tunai, bisa saja tetap diberikan. Namun yang terpenting adalah bagaimana kelompok masyarakat ini menjadi produktif. Disamping juga mendorong kenaikan upah.
Kinerja ekonomi yang terlihat dalam angka pertumbuhan ekonomi, diharapkan mampu memberikan efek yang signifikan pada kesejahteraan. Sudah lama kiranya kita berkutat pada angka-angka yang sebenarnya masih menyembunyikan realita sosial yang terpendam.
(//mbs)