news okezone.com
Okezonenews » Home » Resensi » Heldy, Cinta Terakhir Bung Karno

getting time ...

RESENSI

Heldy, Cinta Terakhir Bung Karno

Rabu, 04 Juli 2012 11:29 wib

Judul : Heldy Cinta Terakhir Bung Karno
Penulis : Ully Hermono dan Peter Kasenda
Penerbit: Buku Kompas
Tahun : I, 2011
Tebal : xviii + 254 halaman
ISBN : 978-979-709-579-6

Heldy Djafar perempuan elok kelahiran Kalimantan dengan mata bulatnya sungguh-sungguh memesona Bung Karno, bukan cerita aneh sesungguhnya. Kita dan dunia tahu persis bahwa Bung Karno salah satu pemimpin besar pemuja para wanita cantik. Ada beberapa rentetan nama yang mampu mengisi relung hati cinta Sang Putera Fajar, mereka adalah; Oetari Tjokroaminoto, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Ratna Sari Dewi, Haryatie, Kartini Manopo, Yurike Sanger, dan terakhir Heldy Djafar.

Dengan demikian Heldy Djafar menjadi catatan pamungkas untuk sulam asmara Sang Penyambung Lidah Rakyat ini. Meski terbilang singkat, Heldy benar-benar menyimpan segudang memori indah bersama Bung karno.

Awal Mula

“Dik, kau tahu, kau tidak pernah mencari aku. Aku juga tidak mencari kau. Tapi Allah sudah mempertemukan kita” begitulah kata-kata Bung Karno pertama kali bicara dengan Heldy, saat itu Heldy berumur 18 tahun. Diucapkan kalimat tersebut setelah berbincang di rumah Heldy beserta keluarga, setelah memberikan hadiah jam tangan rolex pada Heldy, setelah bertemu di acara Barisan Bhinneka Tunggal Ika (22/12/1963), setelah teguran tentang kesalahan sanggul dan kebaya Heldy, dan setelah dipuji keelokan suaranya.

Sejak pertemuan di acara Barisan Bhinneka Tunggal Ika Heldy selalu mendapat perhatian lebih dari sang Presiden. Selalu mengoreksi jikalau ada salah, juga sering mendapat hadiah. Mulai barang remeh-temeh hingga sebuah mobil marcedes benz warna hitam. Bung Karno sangat memperhatikan penampilan lebih-lebih soal pakaian. Beliau sangat perfeksionis dalam hal ini.

Kepandaian pidato Bung Karno dan sifat seni yang menyatu membuat Heldy tambah mengagumi presidennya hingga akhirnya Heldy sadar bahwa ia telah jatuh cinta juga pada presidennya. Bung Karno tidak hanya sekadar perhatian untuk memberi apapun yang diminta Heldy tapi juga memperhatikan sikap bagaimana berlaku yang seharusnya.

Setelah peristiwa gerakan 30 September 1965, Indonesia seakan mati suri. Keadaan begitu dingin. Pada saat itu Heldy sangat menghawatirkan keadaan kekasihnya. Dan setelah bertemu, sangat terlihat sekali di wajah Bung Karno kacapaian yang sangat. Karena takut menambah ketegangan, Bung Karno meminta Heldy untuk berjalan-jalan ke luar negeri. Ini diharapkan agar Heldy tidak selalu bersikap tegang di dekatnya.

Di tengah kesibukan Bung Karno sebagai presiden beliau masih sempat mengirimkan surat-surat mungil untuk mengabarkan keadaan dirinya. Bung Karno tidak hanya kepada Heldy sering bersurat tapi juga kepada semua istri-istrinya, seperti Ratna Sari Dewi, salah satu istri Bung Karno yang berasal dari Jepang. Sikap hangat seperti inilah yang selalu disukai oleh istri-istri beliau.

Tepat lima hari setelah ulang tahun ke 65 Bung Karno menikahi Heldy secara islami. Sejak saat itu resmilah Heldy menjadi istri sah Ir. Sukarno yang terakhir. Surat nikah tertulis yang ditanda-tangani oleh saksi dan wali dipegang Idam Chalid. Heldy tak sempat memintanya, tapi jelas ia sah menikah sebagai istri Bung Karno.
Tidak hanya kisah cinta romantik antara Bung Karno dan Heldy saja di dalam buku ini. Tetapi juga terdapat sepak terjang Bung Karno pra kejatuhan tahtanya sebagai presiden dan hari kewafatan presiden pertama Indonesia ini. Buku ini juga bisa dibilang sebagai biografi kecil bagi Heldy Djafar karena lebih membahas tentang kehidupan Heldy.

Saat keadaan keluarga Soekarno terjadi perselisihan tepatnya pada istri-istrinya pada  tahun 1968, saat itu pula Heldy dengan berat hati meninggalkan Bung Karno. Kemudian Pangeran yang masih keturunan darah biru bumi Kalimantan kecantol hatinya pada Heldy. Janda muda Bung Karno ini pun lantas menikah dengan Gusti Suriansyah Noor, yang masih punya tran sultan Kalimantan. Saat Bung Karno wafat Heldy tidak sempat melayat karena keadaannya yang hamil besar.

Peresensi: Achmad Marzuki
Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang


(//mbs)

RESENSI »

Jembatan Merah Menggugah Bumi Pertiwi
Jembatan Merah Menggugah Bumi Pertiwi

Setengah abad lebih petualangan anak-anak negeri bergelora mengumandangkan kemerdekaannya, tetapi mengapa bekas perjuangan mereka tidak mengukir di dada para pewaris negeri?

SUARA KEBON SIRIH »

Okezone Gelar Try Out Online UN 2014
Okezone Gelar <i>Try Out Online</i> UN 2014

DALAM waktu dekat, siswa SMA sederajat akan mengikuti Ujian Nasional (UN) 2014 pada 14 April. Ujian ini merupakan puncak kelulusan siswa di bangku sekolah.

CATATAN REDAKSI »

Melanggar Hukum di Sekolah Asing
Melanggar Hukum di Sekolah Asing

SEKOLAH adalah wadah untuk mendidik anak-anak. Tujuannya, mengajarkan anak untuk menjadi individu yang mampu memajukan bangsa.

ETALASE »

Kabut Asap Kembali Selimuti Riau, Siapa yang Salah?
Kabut Asap Kembali Selimuti Riau, Siapa yang Salah?

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan merupakan bencana paling menakutkan bagi warga Riau. Dampaknya sangat menyengsarakan warga, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan lainnya.

OPINI »

Ahmad Bhumi Nalaputra
Sikap Indonesia Terhadap Aneksasi Rusia di Ukraina
Sikap Indonesia Terhadap Aneksasi Rusia di Ukraina

Tindakan unilateral Rusia dalam menduduki daerah Crimea yang merupakan bagian dari negara Ukraina, merupakan preseden buruk bagi kedaulatan negara dan penegakan hukum internasional.