SUDAH sering kita mendengarkan bahwa produk Tanah Air kalah bersaing di pasar global. Bahkan banyak produk ekspor kita yang ditolak. Sebagian besar karena persoalan kualitas, dan sebagian kecil karena proteksi dari negara tujuan ekspor.
Bahkan di dalam negeri pun, produk lokal harus berjuang keras menghadapi gempuran produk China. Mulai dari mainan, alat rumah tangga, alat elektronik, alat listrik, termasuk batik pun harus bersaing dengan produk China. Jelas, sangat sulit untuk membendung maraknya produk luar negeri masuk ke Indonesia di tengah globalisasi. Namun, yang mesti dipikirkan adalah bagaimana agar daya saing produk lokal bisa ditingkatkan.
Di tengah persaingan seperti ini sudah barang tentu pemerintah tidak boleh berdiam diri. Sudah jamak jika pemerintah pun harus bisa melindungi produk lokal. Di negara lain, jika produk lokal terancam, pemerintahnya akan turun tangan. Mereka akan melakukan proteksi atas masuknya produk asing.
Rendahnya daya saing produk Indonesia bisa terbaca dari angka-angka yang barusan dilansir oleh BPS. Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2012 defisit USD490 juta, sedikit membaik dibandingkan dengan defisit April 2012 yang mencapai USD640 juta. Penyebabnya ternyata tidak hanya faktor menurunnya ekspor, tapi juga dihantam oleh makin meningkatnya volume impor. Sungguh mengkhawatirkan.
Proteksi dan kebijakan pemerintah dibutuhkan. Pemerintah harus mampu meningkatkan kembali daya saing produk lokal baik untuk kebutuhan ekspor maupun untuk kebutuhan di dalam negeri. Produk lokal harus kembali menjadi raja di negeri sendiri. Kampanye "Cinta Produk Indonesia" sepertinya masih cocok untuk terus digalakkan. Jangan sedikit-sedikit bicara produk impor. Jangan sedikit-sedikit kita harus membeli produk China.
Tentu kita sempat dag dig dug ketika sejumlah konveksi dan pabrik garmen di tanah air megap-megap karena serbuan produk China. Kita semua masih ingat serbuan batik China. Negeri tirai bambu itu mampu memproduksi batik ala Indonesia dengan harga yang jauh lebih murah, kualitas cukup baik, dan dengan kecepatan distribusi yang memadai. Sudah barang tentu dengan keunggulan semacam itulah produk mereka merajai di sejumlah negara.
China bisa jadi contoh. Di negeri Timur Tengah seperti Arab Saudi produk China sudah berjaya. Jika sebelumnya baju gamis, tasbih, peci, sajadah, dan lainnya disuplai oleh negeri-negeri muslim seperti Indonesia, tapi sejak satu dekade terakhir China lah yang memenangkan kompetisi itu. Itulah potret daya saing bangsa ini. Daya saing tidak melulu tercermin pada produk, tapi bisa juga diukur dari sisi keunggulan teknologi, keunggulan manufakturnya, maupun juga keunggulan SDM-nya. Jadi, di semua sektor memang harus dibenahi.
Tentu saja, kita berharap pemerintah menjadi lead, untuk menggerakkan kekuatan nasional --kalangan akademisi dan dunia usaha-- untuk memperbaiki daya saing di semua sektor. Jika semua kekuatan nasional bisa bersepakat dan berkomitmen, bukan hal yang sulit, negeri ini akan unggul.
(mbs)
Online di Okezone">