Sudah menjadi langganan ketika ada pesta demokrasi di suatu daerah maka diikuti dengan peningkatan data kekerasan atau aksi kriminalitas. Gesekan antarpendukung calon tak jarang berbuntut jatuhnya korban. Bahkan hingga meninggal dunia.
11 Juli 2012 menjadi tanggal pencoblosan dalam Pemilukada DKI 2012. Tanggal pencoblosan yang kurang dari sepekan ini juga diikuti dengan meningkatnya tensi di antara pendukung pasangan calon.
Akhir pekan lalu, seorang pendukung calon gubernur DKI Jakarta Alex Noerdin, dibacok oleh orang tak dikenal. Berlanjut, kediaman tim sukses Hidayat Nurwahid dilempar bom molotov hingga bagian belakang kendaraan milik tim sukses tersebut rusak.
Ada yang bilang hal seperti itu lumrah. Bahkan hingga jatuh korban dianggap sebagai bagian dari pesta demokrasi yang digelar lima tahunan ini. Kalau demokrasi dengan sistem yang sekarang ini harus menelan korban jiwa, rasanya perlu diperhitungkan lagi apakah memang perlu dilanjutkan? Ataukah usulan supaya pemilihan kepala daerah cukup diwakili oleh anggota dewan saja.
Kekerasan semacam itu juga bisa jadi sebagai buntut rasa frustrasi masyarakat yang sudah lama terpendam. Hukum yang sudah tidak bisa dipercaya dan aparat yang tidak konsisten bisa jadi membuat masyarakat menjalankan hukum sendiri dengan adu kuat dan otot.
Inilah mungkin yang menjadi pekerjaan rumah bagi para politikus di Tanah Air bagaimana menghadirkan demokrasi yang sejuk dan minim dari aksi kekerasan. Selain menghadirkan kesejahteraan, rasa aman dan contoh dari pemimpin untuk berperilaku tertib dan terpenting sikap legowo menerima kekalahan juga dibutuhkan supaya rakyat mendapatkan panutan yang tidak keliru.
Bagi warga Jakarta, selamat berpesta demokrasi tanpa kekerasan.
(ahm)
Online di Okezone">