Enam pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017 hari ini mulai menentukan nasibnya dari coblosan para pemilih. Mereka semua mau menjadi nomor satu di Ibukota tapi juga harus siap kalah tersisih.
Sindiran, ejekan dan juga penjegalan yang dilakukan ketika kampanye pasangan selama dua pekan harus dilupakan dari ingatan para calon supaya bisa legowo jika kalah dalam pemilihan. Semua pasangan calon juga sudah melakukan deklarasi siap menang dan kalah di hadapan aparat penegak hukum.
Selain pribadi yang mau menang dan siap kalah, para calon juga harus bisa mengendalikan massa pendukungnya untuk melakukan hal yang sama. Mau menang dan siap kalah. Tak jarang, gesekan justru terjadi di kalangan bawah pendukung yang bisa jadi menimbulkan pergesekan antarmassa yang cukup besar.
Selain mau menang dan siap kalah, yang terpenting dalam perhelatan pesta demokrasi lima tahunan ini adalah proses pemilihan yang berjalan sesuai aturan tanpa ada pihak yang merasa dicurangi atau diintimidasi. Karena bisa jadi, gara-gara proses pemilihan yang tidak jujur bisa membuat perasaan ikhlas calon berubah menjadi emosional. KPU selaku penyelenggara pemilukada di DKI Jakarta, bisa memberikan proses pemilihan yang diterima semua pasangan calon.
Apalagi Pemilukada DKI Jakarta menjadi contoh bagi pemilukada-pemilukada yang diselenggarakan sejumlah daerah mengingat Jakarta tak hanya sebuah kota besar tapi juga ibukota negara. Terbukti, banyak lembaga yang memantau jalannya pemilihan gubernur seperti Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Komisi II DPR. Selain itu, lembaga-lembaga seperti KPK, Kemenkopolhukam, Komnas HAM dan tentu saja sejumlah LSM.
Hal itu membuktikan, besar harapan penyelenggaraan pesta demokrasi lima tahunan di Ibukota Negara ini berjalan sesuai harapan semua pihak. Mau menang, siap kalah dan berjalan jujur dan adil.
(ahm)
Online di Okezone">