UMAT muslim dunia sudah bersiap menghadapi bulan suci Ramadan. Bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyah, dengan berkah dan ampunan berlimpah. Serangkaian aktivitas keagamaan seperti berpuasa, salat tarawih, peringatan turunnya Alquran, mencari malam Laylatul Qadar, dan memperbanyak membaca Alquran dilakukan umat Islam.
Tidak hanya itu. Para pengikut Nabi Muhammad ini mengakhiri ibadah tersebut dengan membayar zakat fitrah dan perayaan Idul Fitri. Tidak heran bila Ramadan sangat dinantikan umat muslim di jagat raya ini. Bahkan mereka berdoa untuk selalu melalui bulan Ramadan berikutnya.
Namun sucinya bulan Ramadan terkadang menjadi miris dengan apa yang dilakukan umat muslim di Tanah Air. Perdebatan mengenai 1 Ramadan atau awal puasa selalu terjadi setiap tahunnya. Beberapa organisasi masyarakat (ormas) berbeda dengan penentuan awal puasa yang ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag).
Pada akhirnya masyarakat yang menjadi bingung dengan ulah para pemuka agama ini. Mereka bimbang memilih keputusan siapa yang tepat. Akibat perbedaan ini juga mencuatkan penilaian sinis bahwa organisasi ini tidak benar atau pemerintah tidak perlu diikuti.
Padahal perbedaan 1 Ramadan tidak perlu diperdebatkan. Setiap kelompok harus saling menghargai pilihan kelompok lainnya. Tidak perlu mengklaim bahwa puasa 29 hari lebih benar dibanding 30 hari atau sebaliknya. Perlu ditanamkan dalam memori umat muslim, bahwa benar atau salah dalam menentukan 1 Ramadan hanya milik Allah SWT. Allah SWT yang paling tahu mana yang benar atau salah, bukan manusia.
Bulan suci Ramadan diciptakan Allah SWT bukan untuk diperdebatkan. Namun Allah memberi kesempatan emas bagi umat manusia untuk memperbaiki dan meningkatkan ketaqwaannya. Sehingga, manusia yang menjalankan ibadah selama Ramadan tidak menjadi golongan orang yang merugi.
Artinya, tidak ada landasan bagi manusia menilai satu kelompok atau seseorang salah dalam menentukan 1 Ramadan. Apalagi tidak ada satu manusia pun yang tahu apakah ibadahnya selama Ramadan diterima atau tidak. Yang bisa dilakukan manusia adalah memohon ridho Allah dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan.
Sekarang, masih pantaskah Anda sebagai manusia mendahului keputusan Allah SWT terkait penentuan 1 Ramadan? Jadi, jalankanlah keyakinan Anda dan menghormati keyakinan orang lain.
(fmh)
Online di Okezone">