HIRUK PIKUK dua minggu belakangan ini menunjukkan gelagat yang tidak biasa. Perbedaan ini terasa sekali, antara lain di pasar basah, pusat perbelanjaan, toserba, dan toko retail, hingga di mal.
Perbedaan bisa dirasakan, misalnya pada pusat perbelanjaan, toko retail dan toserba, nuansa Ramadan sangat kental. Rak khusus sirup, kue kering, dan kurma sudah berjajar rapi. Semua serba memanjakan mata.
Ini semua dilakukan demi menyambut Ramadan dan Lebaran. Sambutan itu tidak semata dari sisi religinya saja, nyatanya lebih dari itu. Lebaran pun menjadi momentum rejeki satu tahun sekali.
Pada periode bulan khusus tersebut, tingkat konsumerisme penduduk meningkat tajam, roda ekonomi melaju kencang, inflasi pun menjadi terkerek.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa puasa dan Lebaran merupakan masa panen bagi pedagang. Berbagai cara dilakukan oleh pedagang untuk mendulang untung, bahkan menguras stok di gudang agar laku terjual.
Tidak heran jika terdapat peredaran barang rusak dan kedaluarsa. Semua dikemas sedemikian rupa, supaya laris. Tidak jarang terpampang tulisan "turun harga" atau "diskon". Begitu juga di mal, tulisan "sale" atau "paket Lebaran". Padahal belum tentu harga barang benar dikorting.
Namun lain ceritanya di pasar basah. Harga-harga kebutuhan pokok justru meningkat tajam, seperti gula, ayam, daging dan telur. Mereka pun tidak ketinggalan ingin mencicipi rejeki tahunan.
Mulai dari tukang sayur keliling, toko kelontong, sampai pasar induk, mengalami lonjakan harga. Mereka menaikan harganya, karena di tingkat agen pun sudah meningkat.
Anomali ini terletak pada cara pengemasan harga. Jika ditilik lagi lebih jauh, penyebabnya menyangkut suplai dan demand dari barang.
Di pasar basah, sayur mayur dan daging tidak bisa distok. Sehingga, pembentukan harga yang terjadi merupakan harga riil berdasarkan mekanisme pasar.
Di sinilah peran pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perdagangan. Harus ada dukungan dalam hal persiapan ketersediaan barang kebutuhan, khususnya sembako. Bukan tidak mungkin, jika suplai terjaga maka harga akan stabil. Kemendag harus agresif bertindak, sebelum harga naik lebih parah. Dan bukan ketika harga sudah naik.
Jikalau naik, pun tidak terlalu mahal. Dengan demikian, rezeki tahunan juga dirasakan oleh pedagang pasar, dan bukan hanya pedagang besar atau petani kerah putih.
(rhs)