Pilkada DKI putaran kedua bisa diibaratkan dengan panggung peralihan kekuasaan yang semakin memanas, karena dalam putaran kedua ini, nasib DKI sangat dipertaruhkan. Segala kemungkinan bisa terjadi tanpa bisa diduga oleh siapapun.
Pilkada DKI semakin menjadi hotnews yang terus diikuti oleh masyarakat. Tak hanya lewat media cetak bahkan lewat media elektronik. Musim pencitraan yang dilakukan oleh masing-masing calon dengan pendukung bervariasi amatlah menentukan nasib atau keberhasilan masing-masing calon dalam meraih suara terbanyak.
Cuaca dan pikiran bolehlah panas seperti dipanggang api namun hati harus selalu tetap dingin, tidak mudah terpancing provokasi baik secara nyata ataupun secara serangan rahasia.
Permasalahan banjir, kemacetan yang menjadi senandung hidup bagi DKI senantiasa dibahas dan menjadi sorotan utama, langkah-langkah dari masing-masing kandidat sudah mulai ditampakkan. Merakyat atau istilahnya membaur dengan masyarakat adalah suatu sunnatullah yang takkan pernah terhapus masa di masa-masa yang menegangkan (masa-masa perekrutan pendukung masing-masing calon), maka kejelian masyarakat sangat dibutuhkan untuk menangkap segala gejala yang akan datang tak terduga.
Berbicara pilkada DKI tak hanya membahas DKI secara khusus karena DKI merupakan cermin secara ke seluruhan dari tatanan hidup bermasyarakat. DKI adalah poros kehidupan Indonesia maka sikap yang tangkas dalam menangkap gejala harus terus dilakukan, jangan sampai lengah.
Pilkada DKI putaran ke-2 akan semakin menuai pro-kontra sebab kalangan masyarakat sudah mulai pandai berpikir dan menelaah permasalahan. Pilkada DKI putaran ke-2 akan menelan biaya yang tak sedikit, maka melanjutkan putran ke-2 sesungguhnya pilihan terrumit daripada mencukupkan pada putaran pertama. Paling tidak ada dua cara yang bisa dilaksanakan jika memang putaran ke-2 ini terpaksa diadakan yakni:
Langkah pertama, para kandidat haruslah lebih bersikap terbuka dalam memaknai segala peristiwa yang akan menyapa, karena tidak menutup kemungkinan akan ada pihak ketiga yang akan mengambil untung atas ketidak iramaan dan ketidak sepahaman para kandidat untuk memimpin DKI. Siapa pun yang menjadi pemimpin harus memperhatikan aspirasi dari para calon pemimpin yang gagal agar tidak timbul gejolak.
Langkah kedua, para kandidat jika terpaksa mengadakan kampanye atau menarik massa yang lebih besar dari yang dimiliki di putaran pertama haruslah dilakukan di suatu tempat yang sama, semacam mengadakan dialog kembali antara para kandidat dengan para masyarakat pemilihh untuk memikirkan masa depan DKI menuju ke arah yang lebih baik sehingga siapa pun yang terpilih dan tidak terpilih akan merasa puas dan lega atas hasil pencapaian yang diraih di putaran kedua kelak.
Moh. Ghufron Cholid
Alumnus PP Al-Amien Prenduan Sumenep, Madura
(//mbs)