AWAL Ramadan sudah ditetapkan oleh pemerintah dimulai Sabtu 21 Juli 2012. Meskipun ormas Islam seperti Muhammadiyah menetapkan lebih awal, yakni Jumat 20 Juli 2012. Hal yang perlu digarisbawahi bukanlah perbedaan penentuan awal Ramadan, namun yang lebih penting adalah substansi dari makna Ramadan sebagai bulan penuh ampunan.
Seluruh elemen bangsa ini harus bisa memaknai Ramadan secara kaffah (menyeluruh). Ramadan harus benar-benar dijadikan momentum pertaubatan nasional. Jutaan umat muslim sudah pasti menjalankan ibadah puasa sebagai sarana penyucian diri sebelum kembali fitroh pada Idul Fitri nanti.
Dengan memaknai Ramadan secara substantif, maka sudah semestinya berbagai penyakit sosial yang menghantui negeri ini akan bisa dibersihkan. Misalnya saja soal penyakit koruptif. Jika saja momentum Ramadan ini bisa dilalui secara baik, maka sudah pasti selepas Ramadan, tidak akan ada lagi korupsi di negeri ini.
Kita sangat berharap, Ramadan bisa dijadikan momentum pertaubatan agar perilaku-perilaku curang, koruptif, dan tindakan penggarongan uang rakyat bisa dihentikan. Betapa mendalam dan indah makna Ramadan ini. Tanpa harus ada penggeledahan KPK, tanpa harus ada sidang Tipikor, dengan makna pertaubatan maka tindakan tidak terpuji itu sudah pasti akan sirna.
Tidak hanya itu. Jika saja semangat berbagi dapat tumbuh di setiap sanubari umat, sudah dipastikan angka kemiskinan, anak jalanan, dan kelompok-kelompok marginal lainnya akan berkurang. Dengan semangat berbagi ini, maka semangat kesetiakawanan sosial pun akan terbangun. Dengan berpuasa, maka setiap pribadi akan merasakan pedih dan perihnya mereka yang selama ini terjebak dalam kemiskinan struktural.
Tentu saja masih banyak hal lain yang bisa dimaknai dari ritual puasa Ramadan. Yang pasti dengan berpuasa ini, maka akan menciptakan pribadi-pribadi unggul (bertakwa) tidak hanya dihadapan sesama manusia, tapi sekaligus dihadapan sang Khalik. Semoga.
(mbs)
Online di Okezone">