news okezone.com
Okezonenews » Home » Catatan Redaksi » Langit Nusantara Dikuasai Asing

getting time ...

CATATAN REDAKSI

Langit Nusantara Dikuasai Asing

M Budi Santosa - Okezone
Senin, 30 Juli 2012 10:42 wib

Langit nusantara dikuasai asing. Mungkin judul ini terkesan provokatif, namun pada dasarnya dimaksudkan untuk menggambarkan kekhawatiran yang begitu mendalam terhadap kedaulatan negeri ini. Tidak terkecuali kedaulatan dari perusahaan domestik.

Dunia penerbangan di Tanah Air seperti tersentak ketika ada pengumuman bahwa maskapai AirAsia yang notabene perusahaan asal Malaysia yang akan mengakusisi 100 persen saham Batavia Air. Tentu saja ini menjadi peringatan dini bahwa langit nusantara mulai dikuasai asing, seperti halnya dunia perbankan dan juga industri telekomunikasi yang mayoritas juga sudah terbeli oleh pengusaha asing.

Regulator dalam hal ini Kementerian Perhubungan mengaku belum memberikan izin bahkan belum menerima surat dari AirAsia maupun Batavia Air atas rencana akuisisi ini. Namun tentu saja, hal ini harus dicermati dan juga membutuhkan good will dari regulator untuk memberikan perlindungan terhadap pelaku industri penerbangan domestik. Jangan sampai pemain lokal makin tergusur.

Kekhawatiran makin kuatnya dominasi asing di dunia penerbangan dalam negeri ini tentu tidak mengada-ada. Pasalnya banyak perusahaan penerbangan dalam negeri yang sebenarnya membutuhkan sentuhan dari regulator agar terus tumbuh dan berkembang. Apalagi nanti di 2015 sudah akan mulai diterapkan ASEAN Opensky Policy, yang memungkinkan sejumlah maskapai penerbangan dari negara-negara ASEAN langsung terbang ke daerah tujuan di Indonesia. Mungkin saja tidak semua bandara bisa didarati maskapai asing itu, tapi diyakini hal itu akan memukul industri penerbangan dalam negeri. Kompetisi bisa menjadi tidak seimbang.

Mencermati berbagai fenomena yang terjadi di dalam pengembangan industri di dalam negeri, sepertinya pemerintah tidak memiliki kebijakan yang melindungi industri dalam negeri. Berkali-kali banyak pengusaha mengeluhkan, setiap industri yang potensial tumbuh dan berkembang pesat, tiba-tiba langsung dilakukan liberalisasi. Ujung-ujungnya semuanya dibuka, asing boleh masuk ke industri itu. Akhirnya, pengusaha lokal sekarat. Dan yang paling telak, industri itu menjadi tidak sehat lagi dari segi kompetisinya.

Langkah pemerintah sepertinya tidak ambil pusing dengan situasi pengusaha domestik. Padahal jika ditilik lebih jauh di berbagai negera jiran, kepentingan pengusaha domestik selalu dilindungi. Mereka mendorong para pengusahanya menjadi kampium, tidak hanya di lokal, jika perlu menjadi kampium di regional maupun di tingkat global. Kebalikan terjadi di negeri ini. Banyak pengusaha akhirnya banting sentir dan bahkan mungkin mati suri karena industrinya harus "termakan" oleh kebijakan liberalisasi yang boleh dibilang tanpa reserve. Akhirnya asing lah yang berjaya di negeri ini.

Kasus di dunia perbankan dan telekomunikasi mestinya menjadi pelajaran berharga bagi regulator/pemerintah. Jangan lagi, sekarang langit biru negeri ini pun harus dikuasai oleh asing. Jika hal itu terjadi, bisa jadi negeri ini sebenarnya tidak memiliki lagi kedaulatan, paling tidak kedaulatan di bidang ekonomi.
(mbs)

RESENSI »

Novel Anak Tentang Persahabatan dan Kepedulian Sosial
 Novel Anak Tentang Persahabatan dan Kepedulian Sosial

Dunia anak adalah dunia masa kecil yang unik dan penuh dengan warna. Dunia di mana mereka tengah mereguk indahnya masa kecil yang polos dan menyenangkan bersama keluarga, juga teman-teman sebaya.

CATATAN REDAKSI »

Mendorong Bank Nasional Jadi Raja
Mendorong Bank Nasional Jadi Raja

Sektor perbankan merupakan salah satu sektor industri yang sudah dibuka lebar oleh pemerintah Indonesia, agar asing masuk.

ETALASE »

Lika-Liku Tradisi Bawa Kabur Gadis ala Adat Lampung
Lika-Liku Tradisi Bawa Kabur Gadis ala Adat Lampung

Tradisi sebambangan, membawa kabur gadis yang akan dinikahi ke tokoh adat, sudah memudar seiring perkembangan zaman.

OPINI »

Fathur Anas
Menimbang Energi Alternatif
Menimbang Energi Alternatif

Dunia kini sedang dilanda kebingungan akan krisis energi yang makin memperihatinkan. Di mana ketersediaan cadangan berbagai jenis energi mulai menipis, khususnya energi yang berbahan bakar minyak (BBM).