Penulis : Drs. Budiono Herusatoto
Penerbit : Oncor Semesta Ilmu
Cetakan I : 2012
Tebal Buku : xiv+152 halaman
Kepercayaan orang Jawa tempo dulu terhadap mitos begitu kental. Dalam berperilaku dan bertindak mereka selalu memperhatikan mitos-mitos atau kepercayaan. Mitos yang diyakini tersebut bentukya sangat beragam, ada yang berupa kisah-kisah (dongeng, legenda, babad), pepali/wewelar (pantangan) dan etika Jawa seperti ora ilok. Mitos-mitos yang telah berakar dalam kehidupan orang Jawa ternyata banyak mengandung ajaran moral, etika, nilai-nilai pendidikan moral dan falsafah kehidupan yang bijak.
Kisah Murwakala/Purwakala (awal kejadian, eksistensi) menceritakan asal mula kejadian Bathara Kala yang dianggap salah kedadhen sejatinya mengandung nilai-nilai pendidikan moral yang begitu apik. Dari kisah itu dapat diambil pelajaran berharga tentang pentingnya bersikap hati-hati, teliti, tidak tergesa-gesa karena suatu pekerjaan yang dilakukan dengan tidak hati-hati, akibatnya hasilnya akan tidak maksimal dan bisa berakibat fatal.
Ringkasan cerita Murwakala adalah suatu ketika Bathara Guru bersama permaisurinya, Dewi Uma sedang melanglang buana mengamati keindahan marcapada (alam dunia). Ketika itu timbul keinginan Bathara Guru untuk melampiaskan hasrat biologisnya. Menganggap saat itu bukan pada waktu dan tempat yang tepat, Dewi Uma menolaknya. Namun karena hasrat Bathara Guru yang begitu besar tidak tertahan, keluar dan jatuhlah sotyakama (sperma yang bernilai tinggi/sakti) ke samudera kemudian jadilah janin Bathara Kala yang kemudian berkembang menjadi raksasa jahat yang siap memangsa manusia.
Adapun mangsa Bathara Kala adalah para sukerta dan panganyam-anyam. Sukerta adalah orang-orang yang lahir ganjil (aneh). Orang yang tergolong lahir dalam keganjilan adalah seperti yang terdapat dalam tembang Asmaradana karya Ki S. Padmosoekotjo (Ngengrengan Kasusastran Jawi jilid I, 1958:110-112) yaitu ontang-anting (anak tunggal laki-laki), unting-unting (anak tunggal perempuan), anggana (anak tunggal karena seluruh saudaranya telah meninggal) dan lain sebagainya. Sedangkan orang panganyam-anyam adalah orang yang berperilaku kurang etis atau ceroboh seperti orang yang menanak nasi kemudian ditinggal ngerumpi di rumah tetangga. Orang yang tergolong sukerta dan pangayam-anyam harus diruwat supaya bisa kembali menjadi manusia normal.
Penulis buku menjelaskan bahwa dalam mitos ada makna yang tersamarkan karena dalam bahasa jawa banyak terdapat bunga bahasa (makna konotasi) oleh karena itu untuk bisa memahaminya perlu mengguganakan jarwa sasmitaning susastra (hermenutika jawa). Sebagai contoh adalah mitos ora ilok kudungan kukusan, mundak dicaplok baya. Dari mitos ini terkandung makna tidak pantas bertopi kukusan (kerucut anyaman bambu yang digunakan sebagai alat dapur untuk menanak nasi), nanti dilahap buaya yang berarti (berbahaya). Dari mitos itu sebenarnya mengandung nasihat yang baik yaitu kita tidak boleh memakai topi kukusan karena itu tindakan yang tidak tepat. Kukusan yang mengenai rambut bisa menjadikan kukusan kotor; atau mungkin ada rambut yang menempel di nasi yang siap dihidangkan.
Satu hal yang menarik dalam buku ini adalah ajaran etika orang jawa yang sering disebut dengan ora ilok. Ora ilok merupakan etika kecil atau bisa dikatakan sebagai etiket yang menekankan aturan bertingkah laku yang baik dan benar. Ora ilok adalah salah satu sistem dan media pendidikan jawa yang berhasil mempertahankan tumbuhnya rasa malu dan hormat individu atau kelompok orang di dalam masyarakat yang merupakan bagian dasar nilai etis (baik dan buruk). Ora ilok juga berhasil menyadarkan hati nurani seseorang terhadap rasa salah bertindak atau rasa salah berperilaku yang saru dinulu (memalukan saat dilihat dan dirasakan) oleh orang lain, yang merupakan bagian dari dasar nilai estetis.
Buku mitologi Jawa ini mengajak kita untuk meneyelami kisah-kisah (dongeng, legenda, babad) yang banyak mengandung inspirasi sekaligus pedoman hidup orang Jawa modern yang telah mengalami kemunduran kehidupan terutama yang berkaitan dengan pendidikan moral. Selain itu, buku ini juga menggambarkan kasunyatan (keadaan realitas) orang Jawa yang selaras dengan alam.
Waliyadin
Chairman of Walisongo English Club (WEC) IAIN Walisongo Semarang
(//mbs)
Online di Okezone">