ANGKA pertumbuhan ekonomi Indonesia memancarkan sinyal hijau. Ini merupakan hal yang patut dibanggakan.
Mengapa demikian? Sebab rapor biru ini hadir di tengah karut marut gejolak ekonomi dunia. Kita bisa berkaca dari negara nomor satu di dunia, Amerika Serikat. Ekonominya goncang dan belum juga stabil sejak krisis subprime mortgage 2007. Kemudian negara-negara di zona Uni Eropa, yang kini tengah berdarah-darah dan nyaris kehilangan identitas ekonomi menyusul wacana penghapusan Euro.
Sementara ekonomi Indonesia, mampu mencatat pertumbuhan sekira 6,4 persen pada triwulan II-2012. Angka ini merefleksikan adanya laju sebesar 2,8 persen dibanding triwulan pertama pada tahun yang sama. Secara kumulatif pertumbuhan ekonomi tercatat sekitar 6,3 persen sepanjang semester pertama tahun ini. Tentu ini bukan suatu kebetulan. Ada faktor penggerak roda ekonomi yang sangat masif.
Ada beberapa indikator yang dijadikan pecut lajut ekonomi, antara lain indeks manufaktur, investasi, belanja negara, dan juga besarnya konsumsi rumah tangga.
Yang perlu dicermati adalah, ternyata ekonomi Indonesia tidak ketularan faktor eksternal, yaitu penyakit krisis ekonomi. Padahal penyakit itu sudah menggerogoti banyak negara.
Jawabannya adalah Indonesia memiliki unit mikro kecil dan menangah (UMKM), yang sudah terbukti menjadi penyelamat pada amukan krisis finansial pada 2008. Nyatanya memang postur ekonomi Indonesia masih didominasi oleh transaksi pasar primer, ketimbang pasar sekunder. Transaksi pasar primer jelas lebih prudent ketimbang di pasar sekunder.
Melihat fenomena ini, ada baiknya jika UMKM terus dibina, misalkan dengan memberikan keringanan fiskal dan membantu pemasaran yang selama ini menjadi permasalahan kursial bagi pelaku UMKM. Selain itu, UMKM juga merupakan wajah ekonomi Indonesia yang sesungguhnya.
Ibarat pantai yang rawan akan abrasi, UMKM merupakan hutan mangrove yang perlu terus dibibit.
(rhs)