PEMILUKADA DKI Jakarta putara kedua akan dihelat pada 20 September mendatang. Sejumlah partai politik yang sebelumnya mengajukan kandidat pada putaran pertama dan dinyatakan gugur, mulai berbalik arah mendukung kandidat yang lolos putaran kedua.
Pasangan Jokowi-Ahok dan Foke-Nara berebut simpati untuk bisa menggandeng koalisi dari partai-partai. Namun sampai tulisan ini dibuat, tampaknya pasnagan Foke-Nara lebih diminati oleh sejumlah partai. Sebutlah PKS, PPP, dan Golkar yang menyatakan merapat ke Foke-Nara. Tentu pilihan ini akan memperkuat koalisi partai pendukung incumbent.
Sementara itu Jokowi-Ahok, yang belakangan ini juga dihantam isu SARA, masih belum mampu meraih dukungan formal dari partai lain. Kedua pasangan ini masih mengandalkan duet koalisi PDIP-Gerindra.
Hasil putaran pertama menempatkan Jokowi-Ahok sebagai pemenang dengan perolehan suara sekira 42 persen dan kemudian Foke-Nara dengan perolehan sekira 35 persen. Jika dikalkulasi maka dari pasangan lain yang masih harus diperebutkan pada putaran kedua sekira 23 persen. Di sinilah kemudian urgensi menggandeng koalisi partai menjadi cara pertama untuk mengalihkan dukungan.
Meskipun pasangan Foke-Nara sudah mendapatkan tambahan dukungan dari 3 partai lain, bukan berarti pasangan ini akan mudah memenangi kompetisi ini. Pasalnya, pihak Jokowi-Ahok memiliki keyakinan bahwa warga Jakarta sudah pandai, sehingga mereka paham betul hal dan kewajibannya. Jokowi-Ahok pun mengeluarkan pernyataan bahwa mereka akan berkoalisi dengan rakyat untuk memenangi Pemilukada DKI kali ini.
Fenomena di Pemilukada DKI ini pantas untuk dicermati. Jika saja koalisi partai ini terkalahkan oleh koalisi rakyat, maka hal itu harus dijadikan bahwa renungan dan refleksi oleh seluruh stakeholder partai. Tentu saja itu akan gampang menunjukkan bahwa rasionalitas pemilih makin baik. Di sisi lain, partai harus melakukan perbaikan seperti memanaskan mesin politiknya untuk memenangi kompetisi.
Tentu saja saat ini kita semua masih mengandai-andai, mana yang akan menang. Tapi barangkali pertarungan Pemilukada DKI ini akan mengulangi model pertarungan Pemilukada sebelumnya. Saat itu Foke yang didukung oleh koalisi partai berhasil mengalahkan Adang Dorodjatun yang hanya mengandalkan dukungan dari PKS. Tentang hasilnya, kita nantikan saja 20 September mendatang. Bisa saja koalisi partai yang menang, atau sebaliknya. Kita tunggu saja.
(mbs)