Penulis: Atiq Rahimi
Penerjemah: Feybe I Mokoginta
Penerbit: Jalasutra, Yogyakarta
Tahun: I, Maret 2012
Tebal: xiv+168 halaman
Harga: Rp 40.000,-
KETERTINDASAN tampaknya akan selalu menjadi stereotip perempuan di belahan dunia mana pun. Novel ini menyajikan sekaligus meneguhkan sisi kelam perempuan itu. Kendati dari segi penokohan dan latar sarat akan nuansa Afganistan, sebetulnya konteks novel pemenang penghargaan sastra paling prestisius di Prancis, Prix Goncourt, di tahun 2008 ini tak sesempit itu. Atiq Rahimi, sang pengarang, terinspirasi dari kisah sahabatnya, seorang penyair perempuan, yang dibunuh dengan brutal oleh suaminya.
Kisah dimulai dengan deskripsi sebuah kamar sederhana berhiasan dinding khanjar (semacam golok bermata dua) dan potret sesosok lelaki yang “wajahnya persegi dan dibingkai oleh dua cambang yang terawat baik”. Di bawah hiasan dinding itu, lelaki serupa tengah berbaring, namun dengan kondisi yang jauh mengenaskan: terbujur kaku bak mayat, kurus kering tinggal kulit pembalut tulang. Seorang perempuan tengah memegangi dada si lelaki yang berdegup satu-dua, menandakan masih ada nyawa di raganya.
Sang perempuan dengan sabar dan penuh kasih merawat suami yang mati suri lantaran peluru yang bersarang di tengkuknya tak berhasil menewaskannya. Si suami di masa lalu adalah pejuang yang berjasa bagi negara. Namun, kala kemerdekaan telah terengkuh, ia hanyalah prajurit haus darah yang kerjanya cuma membantai saudara sebangsa.
Di tengah penantian sang perempuan akan kesembuhan (atau kematian?) suaminya, perang saudara terus berkecamuk di luar. Sang perempuan beserta kedua anak perempuannya melewatkan hari-hari penuh kecemasan di kamar yang sunyi itu. Hembusan napas si lelaki begitu kentara dalam kesunyian sementara istrinya bertasbih berulang-ulang. Ketika akhirnya ia dan kedua anaknya mesti mengungsi ke luar kota lantaran situasi tak kondusif lagi, ia tinggalkan suaminya teronggok sendirian di ranjang.
Sang perempuan, seusai mengungsikan kedua anaknya dengan aman di rumah bibinya, menjenguk si suami setiap hari. Ia mengganti cairan infus yang menopang nyawa lelaki itu dan meneteskan air ke pelupuk matanya yang selalu menatap nyalang ke langit-langit. Dalam kesunyian yang mencekam itu, ia mencoba berbincang dengan suaminya—yang tentu saja cuma diam laksana patung.
Dari ke hari, sang perempuan kian putus asa pada suaminya. Dalam keputusasaannya, ia mengocehkan rahasia yang menekan jiwanya. Beberapa aibnya dibongkar tanpa tedeng aling-aling lagi. Kian hari, kian bersemangat sang perempuan bercerita tentang kepedihan, penderitaan, ketidakbahagiaan, dan ketertindasannya karena telah dilahirkan sebagai perempuan. Oleh sang istri, si lelaki dianggap sebagai Batu Kesabaran.
Batu Kesabaran (Syngue Sabour) adalah batu hitam bertuah dalam legenda Persia yang bisa menyerap penderitaan dan rahasia orang yang diceritakan di hadapannya bagaikan spons. Ketika suatu hari batu itu meledak, terbebaslah orang dari segala penderitaannya.
Sang perempuan mengoceh terus kepada Batu Kesabarannya, suaminya itu. Ia menghujat perlakuan lelaki terhadap kaumnya. Ia meratapi bibinya: seorang istri yang dicampakkan suami karena tak bisa memberikan keturunan. Bibi terkasihnya itu lalu malah dieksploitasi ayah suaminya, yang menggagahinya sepanjang waktu tapi “aman” karena kemandulannya, dan ia pun kemudian membacok mertuanya itu. Sang bibi bahkan ditolak oleh keluarganya sendiri. Ia pun menghilang, hingga ditemukan sang perempuan di sebuah rumah bordil.
Sang perempuan terus mengoceh, bersolilokui, menggugat kemapanan jender, kebobrokan struktur masyarakat patriarkisnya, membeberkan seluruh rahasia yang barangkali dipendam semua perempuan mana pun di dunia ini. Di akhir cerita, si suami tiba-tiba terbangun sebagai lelaki yang segar-bugar, mengambil khanjar di dinding, lalu membantai istrinya dengan kejam. Sang istri pun merasa telah menemukan pembebasan.
A.P. EDI ATMAJA,
Mahasiswa Magister Ilmu Hukum
Universitas Diponegoro
(//fmh)
Online di Okezone">