news okezone.com
Okezonenews » Home » Opini » HUT RI Ke-67, Kemerdekaan Milik Siapa?

getting time ...

OPINI

HUT RI Ke-67, Kemerdekaan Milik Siapa?

Jum'at, 17 Agustus 2012 10:27 wib

MERAYAKAN Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia ke-67, marilah kita kembali melakukan refleksi sebagai warga negara yang baik. Langkah itu tentu akan mengingat jasa-jasa para pahlawan yang sudah memerdekakan Indonesia. Bahkan, sebagai insan politik makna kemerdekaan harus bisa dimaknai secara utuh agar bisa meneruskan perjuangan di masa sekarang.

Selain itu, sistem penegakan hukum harus dijadikan panglima dalam mengedepankan reformasi yang sedang dilaksanakan saat ini. Sebagai negara hukum kita harus patuh kepada hukum. Pada masa reformasi ini orang sudah tidak tabu dalam membicarakan korupsi, berbeda dengan pada jaman orde baru lalu. Ini berarti sudah ada kemajuan di Indonesia dan merupakan perkembangan yang baik dalam refleksi kemerdekaan RI. Merdeka memang bukan perkara gampang.

Tidak ada kemerdekaan yang tidak dibayar dengan darah dan pengorbanan. Kemerdekaan diperjuangkan oleh semua anggota bangsa, khususnya golongan yang paling ditindas, tetapi kemerdekaan hanya dinikmati segelintir orang. 67 tahun sudah negera ini  Merdeka menunjukkan masih ada Segelintir orang bisa bolak-balik berlibur ke luar negeri, sedangkan mayoritas rakyat mencari makan pun sangat susah. Tidak ada pembagian sembako yang sepi dari rakyat kebanyakan. Nasib sebagian besar rakyat Indonesia belum beranjak dari jaman kolonial.

Kemerdekaan saat ini hanya dirasakan pejabat dan orang kaya. Tetapi orang miskin tetap terjajah. Orang miskin itu seperti baju basah yang terus-menerus diperas hingga kering.Di hari kemerdekaan yang ke-67, sudah seharusnya pemerintah kedepan bisa menjadi pemerintahan merakyat(populis). “pemerintahan yang bisa menghapuskan pengangguran, pemerintah yang mampu mengatasi kemiskinan, pemerintah yang tanggap terhadap permasalahan rakyat”.

Tetapi tidak seperti kebanyakan klas menengah dan kaum elit di Indonesia, yang mudah pudar kecintaan kepada negerinya dan tergiur dengan segala hal yang berlabel asing. Meskipun ia ditumpuki dengan kesengsaraan di negeri sendiri,rasa  tetap cinta mati kepada bangsa dan negaranya harus  tetap optimis bahwa suatu saat keadaan pasti berubah.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, rakyat Indonesia masih belum puas terhadap kinerja penegakan hukum di tanah air. Sekarang ini masih banyak rapor merah yang harus segera diperbaiki pemerintah dan elemen penegak hukum. Kita sering mendengar bahwa rakyat sendiri, masyarakat kita belum puas benar dengan penegakan hukum di negeri ini," ujar SBY saat membuka sidang kabinet terbatas di kantor Kejaksaan Agung. (25 Juli 2012 merdeka com)

Meski demikian, presiden membandingkan kondisi yang jauh berbeda saat Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi 13 tahun lalu. Ketika itu, negara ini mengalami kesulitan yang cukup berat dan mendapat penilaian buruk dari komunitas internasional.
"Kalau dunia melihat Indonesia ibarat rapor, kalau mata pelajaran ada di bangku kuliah, itu merah semua. Indonesia dalam keadaan yang sulit, seperti itulah fail state atau negara gagal," tuturnya.

Oleh karena itu, pekerjaan kita masih besar dan banyak pekerjaan rumah untuk kita, saya berharap semua simpul bekerja, tidak pandang bulu dari parpol manapun, apapun jabatannya, kita harus tetap seperti itu. Keberhasilan pemberantasan korupsi tidak hanya oleh polisi, tapi juga semua community," kata SBY.
Sejarah Kemerdekaan

Pada 6 Agustus 1945 sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima di Jepang, oleh Amerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia. Sehari kemudian BPUPKI berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia.
Pada 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya. Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur laut Saigon,Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi.

Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Sementara itu di Indonesia, pada tanggal 10 Agustus 1945, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang.

Syahrir memberitahu penyair Chairil Anwar tentang dijatuhkannya bom atom di Nagasaki dan bahwa Jepang telah menerima ultimatum dari Sekutu untuk menyerah. Syahrir mengetahui hal itu melalui siaran radio luar negeri, yang ketika itu terlarang. Berita ini kemudian tersebar di lingkungan para pemuda terutama para pendukung Syahrir.

Pada tanggal 12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, tergantung cara kerja PPKI.

Meskipun demikian Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus. Dua hari kemudian, saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat, Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan karena menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat Jepang, karena Jepang setiap saat sudah harus menyerah kepada Sekutu dan demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti dan pro Jepang. Hatta menceritakan kepada Syahrir tentang hasil pertemuan di Dalat.

Sementara itu Syahrir menyiapkan pengikutnya yang bakal berdemonstrasi dan bahkan mungkin harus siap menghadapi bala tentara Jepang dalam hal mereka akan menggunakan kekerasan. Syahrir telah menyusun teks proklamasi dan telah dikirimkan ke seluruh Jawa untuk dicetak dan dibagi-bagikan.

Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Belanda. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi.

Pada 17 Agustus 1945 merupakan momentum sejarah yang tak akan pernah terlupakan oleh rakyat Indonesia. Momentum sejarah yang selalu menjadi buah cerita untuk anak-anak bangsa. Dimana pada saat itu, sebuah negara kepulauan besar lahir di dunia ini. Sebuah negara yang lahir bukan karena pemberian atau hadiah dari kaum-kaum yang menjajahnya, tetapi lahir melalui perjuangan panjang yang harus dihadapi oleh rakyatnya yang rela mengorbankan harta, darah dan jiwa.

Yang tak akan pernah takut berhadapan dengan teng-teng besi, walaupun hanya bersenjatai bambu-bambu kayu. Sebuah negara yang diberi nama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hingga usia kemerdekaan yang ke-67 ini, Bangsa Indonesia masih sering disebut sebagai raksasa tidur(rakyat Merdeka). Bangsa ini memiliki sumber daya alam yang melimpah, wilayah yang sangat luas, jumlah penduduk yang besar, keanekaragaman yang mengagumkan dan segenap potensi lain yang sayangnya belum tergarap secara optimal oleh rakyatnya. Indonesia adalah raksasa yang kehadirannya disadari sejak kemerdekannya. Tetapi ironinya, ia adalah raksasa yang sedang dan masih terus tertidur dan seolah-olah tak ada yang tau kapan ia akan terbangun dan menunjukkan taringnya.

Sudahkah Merdeka negeri ini?
Kemerdekaan di negeri ini hanya untuk mereka yang mempunyai kekuasaan dan pengaruh untuk menguasai negara ini, tak melihat apakah mereka rakyat Indonesia atau bukan. Orang-orang asing lah yang merdeka di negeri ini, karena mereka lah yang merdeka untuk menguasai bumi, air dan kekayaan alam lain yang terkandung didalam negara ini yang katanya harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, tetapi itu hanya bualan belaka Tidak pantas kita merayakan kemerdekaan bangsa ini, jika saat ini disekitar kita masih banyak orang-orang yang berjuang melawan kerasnya hidup hanya demi sesuap nasi, demi menghidupi anak dan istri. Sedangkan disisi lain korupsi semakin tumbuh dan berkembang tanpa ada yang berani dan mau untuk memberantasnya.

Tidaklah pantas kita merayakan kemerdekaan bangsa ini, jika masih banyak tangis anak-anak terlantar yang sedang menahan lapar, gelandangan merajalela dan penggangguran dimana-mana. Sedangkan disisi lain para pejabat disana duduk dengan nyaman menikmati fasilitas yang diberikan negara dengan menggunakan uang rakyat. Tidaklah pantas kita merayakan kemerdekaan bangsa ini, jika disekitar kita masih banyak sekolah rusak, anak-anak tidak bisa bersekolah karena mahalnya biaya pendidikan di negeri ini.
Sedangkan para wakil rakyat disana meminta dibuatkan gedung kerja baru yang harganya hingga terliunan rupiah.Tidaklah pantas kita merayakan kemerdekaan bangsa ini, jika disekitar kita masih banyak orang-orang sakit yang tidak mampu berobat ke rumah sakit karena biaya pengobatan yang sangat mahal, yang katanya setiap warga negara berhak memperoleh pelayanana kesehatan dan negara bertanggung jawab dalam penyediaan fasilitas kesehatan...(Rakyat Merdeka)

Negeri ini terancam kehilangan harapan masa depan akibat berbagai praktik kehidupan berbangsa yang mengkhianati cita-cita proklamasi. Nyatanya kita tidak mampu belajar dan meneruskan cita-cita para founding fathers kita tentang hidup bersama sebagai bangsa. Hidup berbangsa dengan melihat bangsa sebagai rumah bersama yang menyadari bahwa setiap perbedaan adalah suatu niscaya kebersamaan dan mengembangkan sikap bahwa kemerdekaan untuk semua, bukan untuk sebagian golongan saja.

Maka, marilah kita kembali pada jiwa proklamasi sebagai bangsa yang bermartabat, yang memiliki jiwa merdeka, keikhlasan untuk berkorban, tekad bersatu dalam keragaman serta siap membangun jiwa dan raganya untuk Indonesia yang merdeka. Semoga bangsa ini benar-benar akan menemui makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Untuk kemerdekaan indonesia yang lebih baik...

Aripianto
Mahasiswa PKn/FKIP/Universitas Riau
Wakil Bidang Litbang dan Infokom PP GMNI Pekanbaru

(//fmh)

RESENSI »

Ini Bukan Avatar, Tapi Dajjal!
Ini Bukan Avatar, Tapi Dajjal!

Ketika membaca, mendengar atau mengatakan kata Dajjal, yang pertama terpikirkan adalah apakah Dajjal sudah dekat?

SUARA KEBON SIRIH »

Chief Content News Baru di Okezone.com
Chief Content News Baru di Okezone.com

PORTAL berita nasional, Okezone.com, memiliki Chief Content News (Pemimpin Redaksi News) baru, yakni Syukri Rahmatullah.

CATATAN REDAKSI »

BBM Naik Rp3.000, Jokowi dan Rumah Transisi
BBM Naik Rp3.000, Jokowi dan Rumah Transisi

Baru-baru ini, anggota Tim Transisi Jokowi melontarkan pernyataan mengejutkan soal kenaikan harga BBM.

ETALASE »

"Munir" Tetap Suarakan Keadilan

Sunyi, kala belasan pegiat hak asasi manusia (HAM) dari Jaringan Pemuda Batu mengunjungi sebuah makam di TPU Kelurahan Sisir, Kota Batu, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

OPINI »

Media dan "Revolusi Mental"
Media dan

ADA satu istilah baru yang menarik dalam konstelasi politik belakangan ini, yakni Revolusi Mental.