MOMENTUM Hari Raya Lebaran identik dengan mudik dan silaturahmi. Bagi para perantau, ritual pulang ke kampung merupakan hal wajib yang dilakukan setiap tahun.
Mudik dilakukan agar bisa merayakan hari kemenangan bersama orangtua, sanak saudara dan handai taulan di tanah kelahiran. Bagi umat muslim, kemenangan memang sangat pantas setelah satu bulan menjalankan perjuangan puasa dan menjalankan ibadah selama Ramadan.
Sosiolog Umar Kayam menjelaskan, mudik sudah terjadi berabad-abad lalu. Awalnya merupakan tradisi primordial masyarakat yang terus terjadi setiap tahun.
Kini, berbagai cara dilakukan agar bisa berlebaran di kampung. Bahkan, ada yang nekat menggunakan sepeda motor atau menyulap truk menjadi transportasi massal. Kebanyakan dari mereka rela mejalani perjalanan mudik yang terkadang mengabaikan keselamatan demi sampai di tanah kelahiran.
Selama jelang Lebaran khususnya musim mudik, belanja masyarakat pun melonjak tajam. Sebut saja kebutuhan membeli bensin, tiket, oleh-oleh, salam tempel, baju baru, kue, makanan khas hari raya, dan sejumlah atribut Lebaran lainnya.
Jika diakumulasikan secara nasional, angkanya pun tidak sedikit. Bank Indonesia memproyeksikan kebutuhan uang (outflow) periode Ramadan dan Idul Fitri 2012 sebesar Rp89,4 triliun. Jumlah itu meningkat sebesar Rp9,1 triliun dibandingkan dengan realisasi outflow periode Ramadan dan Idul Fitri tahun sebelumnya.
Momentum ini juga digadang-gadang pemerintah sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Jika pada umumnya pertumbuhan ekonomi disokong oleh pergerakan pusat, seperti faktor investasi dan belanja pemerintah, kali ini yang mendominasi justru ekonomi daerah. Anomali ini terjadi lantaran transaksi keuangan banyak di lakukan di daerah.
Pergeseran arah perputaran uang ini menjadi bagian hikmah mudik bagi pelaku ekonomi di daerah. Fenomena ini seolah rejeki pun bersilahturahmi hingga pelosok.
(rhs)
Online di Okezone">