news okezone.com
Okezonenews » Home » Catatan Redaksi » Ke Mana Sepatu Melangkah

getting time ...

CATATAN REDAKSI

Ke Mana Sepatu Melangkah

Arpan Rachman - Okezone
Sabtu, 25 Agustus 2012 13:33 wib

PADA sebuah warung kopi, masuklah seorang tokoh penting. Dia duduk di kursi dengan santainya, memesan gelas kental.
 
Tokoh itu namanya terkenal, Abraham Samad. Dirinya menjabat Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
 
Para akademisi, aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pengacara senior, dan wartawan ramai-ramai merubungnya seperti laron mendekati nyala api yang menyilaukan. Perkumpulan itu tampak saling dekat, suasananya hangat dan akrab.
 
Tapi rasa risau muncul juga di sana. Keluh itu terdengar dari bibir Abraham yang berhias kumis, “Jumlah penyidik KPK sekarang cuma 199... Sementara yang dibutuhkan 5.500 orang.”
 
Samad lantas membandingkan penyidik korupsi di Indonesia dengan di Hong Kong. Di wilayah bekas koloni Inggris itu ada 3.500 investigator. Padahal, populasi warganya jauh lebih sedikit daripada di sini.
 
Lima tahun silam, dari mulut tokoh berbeda di lembaga yang sama, sudah terdengar masalah kurangnya jumlah personil KPK. “Kalau personil KPK tidak tidur semua selama setahun pun paling banter hanya sekira 50-60 kasus yang bisa ditangani,” katanya.
 
Ditaksir, dari jumlah 50-60 itu yang bisa dituntaskan kira-kira 30 persen atau 15-18 kasus saja. Sedangkan laporan korupsi yang masuk ke KPK ada ribuan jumlahnya.
 
Sudah lima tahun berlalu, namun satu persoalan tak kunjung beres. Kapan KPK membuka lowongan kerja buat mengatasi soal kekurangan penyidik ini?
 
Warung kopi tambah ramai. Obrolan makin larut. Busa-busa suara terus terdengar seru seolah-olah hendak menangkap asap rokok yang berkepul-kepul memadati ruangan.
 
Di luar sana, banyak orang di negeri ini masih sabar menanti apa hasil yang dikerjakan KPK nanti. Seperti di Filipina, misalnya, para penyidik korupsinya yang giat berhasil menemukan tiga ribu pasang sepatu Imelda Marcos. Sepatu Imelda menjadi monumen antikorupsi yang menakjubkan dunia.
 
Lalu, kembali ke warung kopi, sudah sepi. Obrolan telah berhenti. Mereka bubar, berpencar ke segala penjuru, berpisah satu sama lain. Ke mana gerangan sepatu baru yang disemir berkilau itu melangkah pergi setelah angkat kaki dari riuhnya alat perekam dan sorot kamera media massa?

(rhs)

RESENSI »

Antologi Kisah Hidup Orang Sukses
Antologi Kisah Hidup Orang Sukses

Buku bersampul kuning ini kelanjutan Top Words 1. Konsep penulisan Billy Boen tidak jauh berbeda, ia sekadar menggali inspirasi dari para orang sukses. Tujuannya untuk membakar semangat kaum muda bisa berprestasi juga.

SUARA KEBON SIRIH »

Mudik, Jangan Lupa Klik www.okezone.com
Mudik, Jangan Lupa Klik www.okezone.com

Macet, jalur alternatif, posko mudik dan semua informasi mengenai mudik yang dibutuhkan akan tersaji dengan fresh dari situs berita www.okezone.com.

CATATAN REDAKSI »

Bersih-Bersih ala Kepala Daerah
Bersih-Bersih ala Kepala Daerah

Langkah sejumlah kepala daerah untuk menertibkan aparat di lingkungan kerja mereka perlu untuk didukung.

ETALASE »

Asal Mula Kampung 'Seribu Nisan'
Asal Mula Kampung 'Seribu Nisan'

Ihwal Gampong Pande atau Kampung 'Seribu Nisan' bermula saat Sultan Johan Syah mendirikan Istana Kerajaan Aceh Darussalam, tepatnya di tepian Sungai Aceh atau Kuala Naga, pada 1 Ramadan 601 Hijriah atau 22 April 1205 Masehi.

OPINI »

Deny Humaedi Muhammad
Berkah Korupsi Birokrasi
Berkah Korupsi Birokrasi

Dunia publik baik di ranah entertainment  maupun parlement selalu menjadi pusat perhatian masyarakat.