KEDATANGAN Menteri Luar Negeri Hillary Clinton ke Indonesia mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak. Berbagai media pun menempatkan kunjungan Hillary menjadi berita utama.
Yang disoroti tentunya dari berbagai sudut pandang. Mulai berita peristiwa kedatangan kenegaraan orang nomor dua di Partai Demokrat setelah Barrack Obama itu, hingga hasil pertemuan hingga analisa poliltik pertemuan bilateral yang berlangsung 3-4 September 2012 di Jakarta tersebut.
Mencermati kedatangan Hillary memang menjadi perhatian, khususnya ada misi apa di balik kedatangannya? Sebab, sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap pertemuan diplomatik membawa misi tertentu. Ada kabar burung menyebutkan pertemuan itu menyinggung sejumlah sengketa tambang perusahaan Negeri Paman Sam yang beroperasi di Indonesia seperti di Blok Natuna dan Papua, serta sejumlah spekulasi isu lainnya.
Yang jelas, secara terang-terangan Hillary mengungkapkan pernyataan, antara lain agar Indonesia tetap mewaspadai terorisme, mendukung keketuaan Indonesia dalam ASEAN yang sedang menghadapi sengketa Laut China Selatan, serta peran Indonesia dalam ekonomi regional maupun internasional, khususnya dukungan penurunan tarif produk dan jasa yang masuk kategori produk ramah lingkungan dalam pertemuan APEC di Vladivostok, Rusia.
Bukan tidak mungkin sebenarnya Amerika sedang mendekati Indonesia untuk kepentingan tertentu. Sebab, jika dirunut isu-isu yang disinggung Hillary merujuk kepada China. Sebut saja sengketa Laut China, di mana China tengah memperebutkan sebuah pulau yang dipercaya memiliki kekayaan migas dan biota laut. Hillary pun menyerukan agar ASEAN harus menunjukkan persatuan di hadapan China, dengan mengedepankan code of conduct.
Begitu juga dengan dukungan penurunan tarif produk dan jasa, serta produk ramah lingkungan dalam pertemuan APEC. Sebab, isu tersebut sebenarnya adalah isu sensitif di mana hingga kini belum mencapai kata kesepakatan. Yang mewaspadai isu tersebut adalah China. Sebab, China merupakan produsen massal barang-barang di dunia, namun masih tersandung isu standar mutu kualitas barang.
Hal serupa juga ditunjukan oleh China kepada Indonesia. Sejumlah pejabat penting dari China tengah menjalin hubungan baik dengan Indonesia. Perdana Menteri China Wen Jibao datang ke Indonesia secara berkala. Bahkan, sempat bernyanyi di hadapan mahasiswa Universitas Al-Azhar Jakarta, saat kunjungannya.
Kita semua tahu, bahwa secara historikal hubungan China dan Amerika terus mengalami pasang surut. Ketegangan semakin memuncak ketika Amerika mengalami kejatuhan ekonomi pada 2007 dan hingga kini masih berkepanjangan. Penyebabnya banyak hal, antara lain krisis subprime mortgage dan pembiayaan operasi militer di wilayah Timur Tengah. Di saat bersamaan, China tumbuh pesat dan menjadi poros ekonomi dunia yang baru.
Bagaimana pun gejolak hubungan kedua negara, Indonesia sebagai negara non blok harusnya bisa memanfaatkan situasi ini, bahwa Indonesia merupakan negara berdaulat yang independen. Tanpa keberpihakan ke negara manapun, Indonesia bisa menjalankan perannya dalam kancah politik internasional. Sebab, yang harus digarisbawahi adalah posisi Indonesia saat ini sangat strategis baik dari segi politik, apalagi ekonomi. Sehingga tidak heran jika ke depannya banyak tamu kenegaraan yang sowan ke Tanah Air.
(rhs)