news okezone.com
Okezonenews » Home » Catatan Redaksi » Stigma Teroris

getting time ...

CATATAN REDAKSI

Stigma Teroris

M Budi Santosa - Okezone
Senin, 10 September 2012 11:42 wib

NEGERI ini makin hari makin mengerikan. Betapa tidak, aksi teror silih berganti. Bahkan aparat kepolisian pun begitu yakin bahwa berbagai aksi teror yang terjadi akhir-akhir ini dilakukan oleh teroris. Mereka berusaha balas dendam ke aparat keamanan dan mencoba melakukan serangkaian teror di Tanah Air.

Koran Seputar Indonesia edisi Senin (10/9/2012) menulis dengan judul besar, "BIN:  Aksi Terorisme Belum Berakhir". Sejumlah media online, termasuk Okezone.com, menulis serangkaian penangkapan dan penggerebekan oleh Densus 88 di sejumlah tempat yang ditengarai dihuni oleh terduga teroris.

Aksi teror ini berawal dari Solo, di saat sejumlah posko pengamanan lebaran diberondong tembakan oleh orang tak dikenal. Aksi ini berlanjut, dan yang terakhir adalah ledakan yang terjadi di Depok, Jawa Barat.

Benarkah teroris masih begitu kuat di Tanah Air? Benarkan orang-orang yang ditangkap aparat kepolisian ini benar-benar teroris? Segudang pertanyaan masih belum terjawab tuntas. Ada yang begitu yakin terorisme masih berakar berurat di sejumlah oknum kelompok radikal, namun ada yang mulai mengkritisi stigma teroris ini.

Sebut saja Laksamana Pertama Purn Mulyo Wibisono, Mantan Direktur Bais TNI. Dalam sebuah interview dengan radio Elshinta, Mulyo seakan mempertanyakan berbagai stigma teroris yang begitu gampang disematkan kepada mereka yang melakukan serangkaian tindakan kriminal. Padahal seorang teroris biasanya memiliki kemampuan tinggi dan tentu saja bisa dilacak siapa sponsornya.

Menurut Mulyo, sangat berbahaya dan sangat mendiskreditkan Indonesia sebagai negara yang mayoritas muslim, jika berbagai tindakan kriminal seperti perampokan, penembakan, dan peledakan, begitu mudahnya diberikan stigma dilakukan oleh teroris. Kenapa mendiskreditkan negara? Karena orang akan beranggapan bahwa Indonesia adalah negara yang di masyarakatnya tumbuh subur terorisme. Sungguh stigma yang berbahaya buat negeri ini.

Kerenanya Mulyo menganjurkan agar stigma teroris harus benar-benar melalui verifikasi ketat. Bisa jadi, berbagai kejadian terakhir ini, hanyalah ulah para pengacau. Dan tentu para pengacau ini bisa saja terorganisir, bisa juga tidak terorganisir.

Logika yang disampaikan Mulyo pantas untuk direnungkan. Aparat kepolisian jangan sampai gegabah menyebutkan bahwa berbagai aksi gangguan keamanan akhir-akhir ini diberikan stigma dilakukan oleh teroris. Jangan-jangan benar adanya bahwa kejadian ini dilakukan oleh para pengacau keamanan saja. Pasalnya, dengan mengumbar stigma teroris tentu saja yang dirugikan adalah Indonesia sebagai negara demokrasi dengan mayoritas penduduknya muslim.

Tentu saja dengan berbagai kejadian akhir-akhir ini, kesiapsiagaan dari masyarakat dan aparat tetap diperlukan untuk melakukan deteksi dini atas aksi kriminal sekecil apapun. Aktivitas wajib lapor ke RT/RW jika ada tamu menginap, adalah salah satu langkah kecil untuk mendeteksi adanya orang mencurigakan.

Kita juga berharap terorisme bisa dihapuskan di negeri ini. Jangan sampai diaspora faham ini terus  terjadi.  Dan yang terpenting, kita semua memiliki kewajiban agar martabat bangsa dan negara ini pun tetap dijunjung sehingga bisa hidup sejajar dengan negara lain tanpa disertai embel-embel yang tidak mengenakan hati.
(mbs)

RESENSI »

Ini Bukan Avatar, Tapi Dajjal!
Ini Bukan Avatar, Tapi Dajjal!

Ketika membaca, mendengar atau mengatakan kata Dajjal, yang pertama terpikirkan adalah apakah Dajjal sudah dekat?

SUARA KEBON SIRIH »

Chief Content News Baru di Okezone.com
Chief Content News Baru di Okezone.com

PORTAL berita nasional, Okezone.com, memiliki Chief Content News (Pemimpin Redaksi News) baru, yakni Syukri Rahmatullah.

CATATAN REDAKSI »

Mobil Tua Sang Presiden
Mobil Tua Sang Presiden

Presiden Uruguay Jose Mujica mengumumkan hartanya yang paling berharga berupa mobil VW Beetle buatan tahun 1987. Harganya ditaksir £1.300 atau setara Rp24,7 juta.

ETALASE »

"Munir" Tetap Suarakan Keadilan

Sunyi, kala belasan pegiat hak asasi manusia (HAM) dari Jaringan Pemuda Batu mengunjungi sebuah makam di TPU Kelurahan Sisir, Kota Batu, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

OPINI »

Musa Maliki
Kebudayaan Kita dalam Dialog Antarbudaya
Kebudayaan Kita dalam Dialog Antarbudaya

UNAOC di Bali merupakan kegiata untuk mendukung toleransi dan dialog antarbudaya dan agama.