news okezone.com
Okezonenews » Home » Resensi » Memetik Hikmah di Balik Konflik Ahmadiyah

getting time ...

RESENSI

Memetik Hikmah di Balik Konflik Ahmadiyah

Rabu, 12 September 2012 11:17 wib

Judul buku : Maryam
Penulis    : Okky Madasari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, Februari 2012
Tebal : 280 Halaman

Beberapa tahun silam media di tanah air sempat hangat oleh konflik sosial dan keyakinan yang menimpa Jemaat Ahmadiyah. Melalui SKB Tiga Menteri No.3 Tahun 2008, pemerintah melarang segala aktivitas Ahmadiyah menyebarkan ajarannya. Hal ini berbuntut kekerasan yang terjadi di beberapa daerah. Salah satunya insiden Monas yang melibatkan sebuah ormas Islam yang dikenal menentang keras aliran Ahmadiyah.

Novel Maryam karya Okky Madasari ini adalah refleksi dari peristiwa demi peristiwa yang terjadi di sejumlah daerah beberapa tahun silam itu. Kisah ini bermula dari seorang gadis bernama Maryam Hayati yang lahir dari keluarga Ahmadi. Kegetiran demi kegetiran dialami Maryam dalam beraktivitas, terutama sejak orang-orang di sekitarnya mengetahui bahwa dia seorang Ahmadi.
 
Konflik pun semakin meruncing ketika Maryam akan menikah dengan Alam, seorang pemuda yang bukan penganut Ahmadiyah. Orangtua Maryam menolak mentah-mentah rencana pernikahan itu, kecuali calon suami bersedia menjadi Ahmadi. Begitu juga orangtua Alam, yang tidak akan pernah menikahkan putranya dengan seorang perempuan yang berasal dari keluarga Ahmadiyah (38-39).

Namun, Maryam memantapkan hati untuk tetap menikah dengan Alam meskipun tanpa restu kedua orangtuanya. Demi cintanya pada Alam, Maryam pergi meninggalkan keluarganya di Lombok. Bahkan, ia rela “diislamkan” kembali sebelum ijab kabul pernikahan diikrarkan.

Sementara itu, di luar pengetahuan Maryam, orangtuanya di Lombok diusir oleh sekelompok orang karena dianggap sesat dan mengkhawatirkan warga sekitar. Keluarga Maryam pun meninggalkan kampung halamannya, yang seharusnya dipertahankan, sebelum terjadi kerusuhan seperti yang terjadi di sejumlah daerah (68-69).

Novel ini secara umum menggambarkan konflik sosial dan keyakinan sebuah paham yang tiada ujung. Namun, meski menyuarakan penderitaan penganut Ahmadiyah, novel Maryam tidak pada posisi membela atau membenarkan ideologi atau keyakinan apa pun. Novel ini secara eksplisit ingin memperjuangkan hak-hak warga negara yang terampas hanya karena perbedaan iman. Ini tidak hanya berlaku bagi penganut Ahmadiyah, namun juga minoritas dan korban diskriminasi lainnya.

"Novel ini tidak pada posisi membela atau membenarkan keyakinan apapun. Novel Maryam hanya ingin memperjuangan hak-hak warga negara yang terampas,” demikian ungkap Okky dalam sebuah wawancara di media.

Uniknya, novel setebal 280 halaman ini dikemas bersama album Terbangkan Mimpi, berisi delapan lagu karya Okky Madasari sendiri sebagai bonus novel. (*)

Peresensi: Untung Wahyudi
Alumnus Pon Pes Mathlabul Ulum, Jambu, Lenteng, Sumenep. Beberapa karyanya pernah dimuat Jawa Pos, Koran Jakarta, Radar Surabaya, Radar Madura, Story, Sabili, Hai, Annida, Permata, Saksi, Gizone, Fadilah, dan beberapa media online seperti Kompas.com, Okezone.com, Rimanews.com, dan media lainnya.


(//mbs)

RESENSI »

Ini Bukan Avatar, Tapi Dajjal!
Ini Bukan Avatar, Tapi Dajjal!

Ketika membaca, mendengar atau mengatakan kata Dajjal, yang pertama terpikirkan adalah apakah Dajjal sudah dekat?

SUARA KEBON SIRIH »

Chief Content News Baru di Okezone.com
Chief Content News Baru di Okezone.com

PORTAL berita nasional, Okezone.com, memiliki Chief Content News (Pemimpin Redaksi News) baru, yakni Syukri Rahmatullah.

CATATAN REDAKSI »

Mobil Tua Sang Presiden
Mobil Tua Sang Presiden

Presiden Uruguay Jose Mujica mengumumkan hartanya yang paling berharga berupa mobil VW Beetle buatan tahun 1987. Harganya ditaksir £1.300 atau setara Rp24,7 juta.

ETALASE »

"Munir" Tetap Suarakan Keadilan

Sunyi, kala belasan pegiat hak asasi manusia (HAM) dari Jaringan Pemuda Batu mengunjungi sebuah makam di TPU Kelurahan Sisir, Kota Batu, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

OPINI »

Deny Humaedi Muhammad
Politik (Tanpa) Ingkar Janji
Politik (Tanpa) Ingkar Janji

Politik, seperti kata Aristoteteles, merupakan medan yang mulia untuk mencapai kesejahteraan bersama.