IKLIM olahraga Indonesia benar-benar tidak sehat. Sederet persoalan selalu menyapa aktivitas yang seharusnya menjunjung tinggi sportivitas ini. Merasa saling benar dan mengabaikan aturan berlaku sering terjadi pada olahraga Indonesia. Sepertinya akan terus terjadi hingga semua elemen pembina olahraga bisa bersikap profesional.
Dalam beberapa tahun terakhir, publik olahraga Tanah Air disuguhkan dagelan murah yakni karut marutnya organisasi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Akibat sikap ego, Indonesia akhirnya memiliki dua organisasi tertinggi yang membina sepakbola di Indonesia. Mungkin satu-satunya negara di belahan bumi ini yang punya dua organisasi (PSSI-red).
Kisruh kepengurusan di tubuh PSSI pada akhirnya mengusik ketenangan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) dan Badan Sepakbola Dunia (FIFA). Kedua badan tersebut menuntut PSSI menyelesaikan dualisme kepengurusan sebelum dijatuhkan sanksi. Beruntung, PSSI yang diakui FIFA dan tidak sepakat berkolaborasi demi menyelamatkan pemain dan meraih prestasi.
Soal PSSI setidaknya tidak mengkhawatirkan lagi. Tragisnya, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) tanpaknya tertular sakit. KONI mengizinkan beberapa perwakilan daerah peserta tampil pada cabang olahraga sepakbola dan futsal PON 2012 di Riau. Secara administrasi, beberapa daerah tidak diperkenankan tampil.
Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin mengancam akan keluar dari keanggotaan KONI. Djohar tidak terima dengan keputusan Badan Arbitrase Olahraga Indonesia (BAORI), yang mengesahkan tim sepakbola daerah dari kubu rivalnya, sebagai perwakilan dari sejumlah daerah.
Keputusan ini kemudian disikapi dengan menarik wasit dan perangkat pertandingan dari PON. Dengan ditariknya perangkat pertandingan, Djohar sebagai ketua umum PSSI menegaskan tidak bertanggung jawab dan menyatakan apapun hasil pertandingan PON terancam tidak sah.
Dalam kasus ini, KONI dan PSSI sama-sama merasa memiliki wewenang mengatur dan melaksanakan laga sepakbola serta futsal. Kedua organisasi tersebut tidak peduli dengan sikap egois masing-masing terhadap psikologi atlet.
Sebagai pembina, KONI dan PSSI harusnya bisa bersikap lebih arif dalam mengeluarkan kebijakan. Boleh berseteru dalam pembinaan, namun jangan sekali-sekali mengorbankan masa depan atlet. Untuk apa adanya pembina bila kebijakannya mengorbankan semangat, motivasi, dan masa depan atlet?
Bangsa ini sudah lelah dipertontonkan saling serang, saling hebat dan saling berkuasa dalam membina sepakbola. Sebaliknya, Indonesia sangat membutuhkan pembina yang benar-benar mampu mencetak duta olahraga berprestasi di pentas internasional.
Sebelum nasi menjadi bubur, KONI dan PSSI harus duduk satu meja menyelesaikan persoalan. Keduanya harus sama-sama mengedepankan semangat membangun prestasi olahraga. Andai hanya mengedepankan sikap ego, mari sama-sama kita tunggu kehancuran olahraga di negeri tercinta ini.
(fmh)
Online di Okezone">