news okezone.com
Okezonenews » Home » Resensi » Virus HIV dan Indonesia

getting time ...

RESENSI

Virus HIV dan Indonesia

Jum'at, 14 September 2012 11:14 wib

Judul: Kearifan Pelacur: Kisah Gelap di Balik Bisnis Seks dan Narkoba
Oleh: Elizabeth Pisani
Penerjemah: Bhimanto Suwastoyo
Penerbit: Serambi
Isi: 589 halaman
ISBN: 978-979-1275-94-1
 
“PERSAMAAN Indonesia dengan virus HIV: keduanya bisa merasuki darah Anda dan akan tetap bercokol di sana seumur hidup,” kata Elizabeth Pisani.
 
Sebenarnya keliru ...
 
Yang jelas, Indonesia tidak bisa merasuki darah. Sama sekali, tidak. Tidak bisa secara harfiah. Indonesia bukan bibit penyakit. Kata yang diumbar dari tulisan karya ahli epidemiologi asal Inggris itu hanya sebuah premis agak skeptis bergaya metafora.
 
Layaknya metafora, wajar bila kata-katanya tampak bergaya. Kesan yang timbul, lalu – akibatnya – melambung tinggi nun di atas awan.
 
Pisani – mantan reporter kantor berita Reuters pertama kali datang ke Jakarta pada 1988 dan pernah meliput selama tiga tahun di Indonesia – sepertinya mau berkata: Indonesia bisa jadi bibit penyakit jika tidak serius menangani penularan HIV di kalangan rakyatnya sendiri.
 
Ia mungkin ingin “menembak” birokrasi Indonesia yang tidak becus. Menembak pun dari jauh, dari tempat yang dia namakan sendiri sebagai Planet Epidemiologi. Sambil terus berlari kencang menghela seekor kuda bernama “penyakit menular”. Macam koboi jagoan menemukan musuh Indian tapi enggan berduel.
 
Untuk yang kedua, Pisani benar. Virus HIV bisa saja merasuki darah siapapun juga dan akan tetap bercokol di sana seumur hidup bila tidak diobati sejak dini.
 
Dulu, awalnya, Rock Hudson bintang film dari Hollywood mengaku kepada publik bahwa dia terjangkit AIDS karena perilaku homoseksual. Film yang dibintanginya pada era 1980-an diputar sebagai serial di TVRI. Rock bukan orang asing di rumah-rumah orang Indonesia sebab ketika filmnya ditayangkan belum ada kanal televisi lain di negara ini.
 
Presiden Amerika Serikat saat itu, Ronald Reagan – yang juga teman karibnya semasa berkarier sebagai bintang film di Hollywood – memberi kata perpisahan. Rock Hudson meninggal dunia. AIDS pun lalu mendunia, juga jadi terkenal di Indonesia, hingga sekarang. Mirip miniseri yang berputar tiap hari pada layar televisi di rumah Anda.
 
Karena AIDS pula, Elizabeth Pisani menjelajah berbagai belahan dunia. Ia tampil bagaikan Charles Darwin modern dalam rupa seorang perempuan buat menyelesaikan karya ilmiah berjudul “Laporan mengenai Epidemi Global AIDS”. Secara tekun diamatinya spesies satu per satu dengan ketelitian serius seorang ilmuwan.
 
Kendati ilmunya – yang dia peroleh setelah menempuh pendidikan dari kuliah master dalam bidang demografi medis di London School of Hygiene and Tropical Medicine – kemudian ternyata bingung membedakan antara virus HIV dengan Indonesia, Pisani sudah berhasil susah-susah payah menulis buku berjudul Kearifan Pelacur: Kisah Gelap di Balik Bisnis Seks dan Narkoba ini.
 
Ia berjuang keras, turun langsung ke lapangan. Mencari sasaran, mengambil contoh. Di keramaian jalanan Hong Kong, New Delhi, Beijing, dan Jakarta. Menempuh penerbangan nonstop ke 11 kota: Jakarta-Los Angeles, kemudian berlanjut ke Cuernavaca di Meksiko, lalu mampir di New York-Bangkok-Beijing sebelum tiba kembali di Jakarta untuk meneruskan perjalanan ke Wamena, Papua. Rangkaian trip yang berakhir di Wamena-Enarotali-Timika-Jayapura.
 
Luasnya daya jelajah itu antara lain jadi faktor kunci yang membuat Pisani mengantongi data berlimpah. Tak heran kalau dia mahir menggambarkan: “...Indonesia memiliki dunia perdagangan seks yang besar dan semua penelitian menunjukkan tingkat penggunaan kondom yang sangat rendah dan tingkat penularan penyakit seksual yang amat tinggi...” (halaman 98). Ia lantas menuntas gambarnya persis Rembrandt menyapukan warna terakhir yang lekat di kuasnya ke atas kanvas, melalui ironi: “...Ini merupakan resep mujarab bagi penyebaran HIV yang baik...”  
 
Secara cekatan disebarkannya efek ketakutan. Indikator sebuah “dunia perdagangan seks yang besar di mana tingkat penggunaan kondom sangat rendah berbanding tingkat penularan penyakit seksual amat tinggi” menjadi variabel “resep mujarab” untuk hipotesa menyeramkan berupa “penyebaran HIV yang baik di Indonesia”.
 
Pisani membungkus nuansa kritisnya lewat teknik kamuflase yang dibentuknya dengan ironi. Seperti koki yang lihai sedang menghidangkan menu masakan berupa makanan berat. Sebidang perut yang lapar pasti menyikatnya sampai tandas tanpa mau bertanya macam-macam: apa nama makanan yang dihidangkan di atas meja ini? Apa harus menyantapnya pakai sendok dan garpu? Disendok dulu atau digarpu dulu? Bagaimana rasanya?
 
Buku ini total berisi 9 bab. Masing-masing babnya berisi subjudul berjumlah variatif, antara dua sampai enam, namun tanpa dipoinkan. Pengantarnya diberikan oleh Andy F Noya, pembawa acara televisi “Kick Andy” dan mantan Pemimpin Redaksi Metro TV. Dibubuhi Catatan Penulis dan Pengantar Penulis, lalu diprologi dengan testimoni bertajuk Tak Sengaja Menjadi Ahli Epidemi (halaman 16-39).
 
Babnya dimulai dari Mengolah Sebuah Epidemi, yang terdiri atas: Seni Menampilkan Data; Kadang Menang, Kadang Kalah; Buku Resep Masakan (halaman 40-94). Dilanjutkan oleh HIV, Seks, dan Narkoba di Indonesia dengan subjudul: Seks dalam Pengotakan; Seksploitasi; Harga yang Harus Dibayar; Turba; Cinta Bersemi; Seks dan Narkoba (halaman 95-196). Lalu kemudian, Kotak Kejujuran yang berisi Kebenaran Masa Lalu; Keinginan untuk Menyenangkan; Kode Merah; Orang-Orang Suci Berjubah Putih; Di Jalanan; Bekerja Keras (halaman 170-241). Berikutnya, Kebenaran yang Pahit menguraikan Asap yang Menutupi Pandangan; Kembali ke Dasar; Menebar Jaring; Harapan Palsu; Jiwa yang Sensitif; Pertumbuhan yang Ditunjang Ekspor (halaman 242-307).
 
Berlanjut dengan Sapi Keramat terdiri dari Lebih Sedikit Lebih Baik; Menguji Kebenaran; Kecil Itu Indah?; Pengaruh dari Sesama Kalangan; Berpikir Positif (halaman 308-358). Diikuti oleh Prinsip-Prinsip Kepercayaan yang memuat Matematika Baru; Dalam Penyamaran; Masalah Sesungguhnya dengan Kondom; Kemacetan; Sumpah yang Munafik (halaman 359-417).
 
Bab 7, HIV Meningkat Pesat – Membuat Mati Rasa; Penonton yang Terpana; Jarum di Tumpukan Jerami; Membungkam Cara Thai; Suntikan Kecil dan Besar (halaman 418-487). Lalu dirangkai Semut dalam Semangkuk Gula – Korban Mode; Merusak Susu Sebelanga; Faktor Pendorong (halaman 488-545). Terakhir, ditutup dengan Kembali ke Titik Semula yang berisi Peluru Ajaib dan Terlalu Banyak Hal Baik (halaman 546-589).
 
Tatkala kami bertemu beberapa bulan silam, Elizabeth menampilkan diri sebagaimana  perempuan kebanyakan yang senang jalan-jalan, gemar bicara, dan hobi bercerita. Ia tak suka dipanggil “beliau” sebab alasannya, “kata ‘beliau’ kedengaran sama tuanya dengan ‘nenek’” dan dia seperti ingin berkata: “Saya belum setua itu!” Pembawaannya ramah terbuka, tentu karena budaya dari mana dia berasal.
 
Pada pertemuan itu muncul satu pertanyaan: Mengapa pelacur di Rawa Malang, Jakarta, sering gagal mencegah pelanggannya pakai kondom? Ia menjawab sendiri, “Ya, karena kata para pelacur itu pelanggan mereka ‘kan orang Melayu...bla bla bla.” Pisani mungkin luput mengeksplorasi sumber pada fokus pengamatannya yang satu ini. Mungkin banyak pelacur menganggap siapapun yang datang ke lokalisasi  bicara memakai bahasa Indonesia sebagai orang Melayu, padahal entah mereka itu asalnya dari mana.
 
Perlu dikritik pula, basis data pada bukunya ini – termasuk dokumen yang dirujuk dan semua referensi ilmiahnya – disajikan terpisah, bukan di dalam bukunya sendiri melainkan harus diunduh di situs pribadi Elizabeth Pisani di http://www.wisdomofwhores.com/references. Selain itu – barangkali karena penerbitnya mengejar tenggat untuk cepat naik cetak – tiada indeks dan sumber pustaka.***

Peresensi: Arpan Rachman
Bekerja sebagai pengepul data di Lamboge’s Media Advisory


(//mbs)

RESENSI »

Antologi Kisah Hidup Orang Sukses
Antologi Kisah Hidup Orang Sukses

Buku bersampul kuning ini kelanjutan Top Words 1. Konsep penulisan Billy Boen tidak jauh berbeda, ia sekadar menggali inspirasi dari para orang sukses. Tujuannya untuk membakar semangat kaum muda bisa berprestasi juga.

SUARA KEBON SIRIH »

Mudik, Jangan Lupa Klik www.okezone.com
Mudik, Jangan Lupa Klik www.okezone.com

Macet, jalur alternatif, posko mudik dan semua informasi mengenai mudik yang dibutuhkan akan tersaji dengan fresh dari situs berita www.okezone.com.

CATATAN REDAKSI »

Bersih-Bersih ala Kepala Daerah
Bersih-Bersih ala Kepala Daerah

Langkah sejumlah kepala daerah untuk menertibkan aparat di lingkungan kerja mereka perlu untuk didukung.

ETALASE »

Asal Mula Kampung 'Seribu Nisan'
Asal Mula Kampung 'Seribu Nisan'

Ihwal Gampong Pande atau Kampung 'Seribu Nisan' bermula saat Sultan Johan Syah mendirikan Istana Kerajaan Aceh Darussalam, tepatnya di tepian Sungai Aceh atau Kuala Naga, pada 1 Ramadan 601 Hijriah atau 22 April 1205 Masehi.

OPINI »

Deny Humaedi Muhammad
Berkah Korupsi Birokrasi
Berkah Korupsi Birokrasi

Dunia publik baik di ranah entertainment  maupun parlement selalu menjadi pusat perhatian masyarakat.