news okezone.com
Okezonenews » Home » Catatan Redaksi » Menanti Hasil Duel Jokowi-Foke

getting time ...

CATATAN REDAKSI

Menanti Hasil Duel Jokowi-Foke

Syukri Rahmatullah - Okezone
Kamis, 20 September 2012 11:24 wib

HARI ini adalah hari yang menentukan bagi warga DKI untuk menentukan perubahan Jakarta melalui pemilihan umum kepala daerah DKI Jakarta putaran kedua. Kurang lebih 6 juta pemilih, sejak pagi mendatangi tempat pemungutan suara untuk memberikan suaranya.  
Putaran kedua ini cukup panas dan menegangkan, isu-isu yang dilancarkan kedua pasangan calon tersebut sudah menyerang kelemahan masing-masing calon. Belum lagi, black campaign yang bermunculan secara liar. Isu-isu suku, agama, dan ras juga ikut berhembus menyerang salah satu calon.
 
Bahkan, upaya saling serang dan saling mengunggulkan calonnya masing-masing itu semakin intens terjadi beberapa jam sebelum waktu pencoblosan. Yang paling intens adalah di dunia maya, time line di Twitter, status di  Facebook dan Blackberry, begitu juga pesan singkat yang menyebar ke ponsel secara acak. Ada yang terpengaruh dan ada juga yang tidak.
 
Hasil survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia dan Tempo menyebut pasangan Joko Widodo-Basuki masih tetap unggul tipis di atas Fauzi Bowo-Nahrowi Ramli. Jokowi unggul 0,1 persen, sangat tipis.
 
Kemenangan tipis Jokowi juga diperkirakan MNC Research dan juga MNC Media-Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC). Dalam survei yang mereka lakukan pada 7-11 September, terungkap suara Fauzi Bowo naik menjadi 44,2 persen, tapi Jokowi tetap unggul dengan 45,6 persen. Survei tersebut dilakukan dengan wawancara tatap muka.
 
Tapi terbalik hasil dalam survei yang dilakukan dengan pertanyaan tertutup. Justru survei dengan cara tersebut Foke Nara unggul 0,1 persen dengan  41,3 persen, sedangkan Jokowi-Ahok 41,2 persen.
 
Pada putaran kedua ini dianalisa tidak ada calon yang dominan, dibandingkan putaran pertama yang didominasi suara untuk Jokowi-Basuki. Hasilnya kemenangan salah satu calon bakal tipis.
 
Sejumlah analis melihat, isu SARA yang berhembus pada kampanye putaran kedua berlangsung cukup efektif  dan menguntungkan salah satu calon, sehingga suaranya melonjak naik dibandingkan putaran pertama. Sekalipun isu SARA tersebut bakal berdampak buruk bagi masa depan demokrasi di Indonesia.
 
Bagaimana pun di atas adalah hanya analisis dari sejumlah lembaga survei, pada akhirnya penentu sebenarnya suara masyarakat Jakarta di bilik suara. Apakah ingin Jokowi atau Fauzi Bowo yang memimpin Jakarta. Yang pasti, berikanlah pilihan yang terbaik untuk kemajuan DKI Jakarta.
 
Beberapa jam ke depan sejumlah media, termasuk Okezone akan merilis quick count dari sejumlah TPS yang menggambarkan secara cepat, siapa yang akan menang di putaran kedua. Siapa pun yang menang haruslah diterima dengan legowo karena itu adalah suara masyarakat.

(uky)

RESENSI »

Membaca Gus Dur Lewat Kesufiannya
Membaca Gus Dur Lewat Kesufiannya

Bagaimana membaca sepak terjang Gus Dur yang sepertinya tak terbentuk, sehingga sebagaian kalangan menyebutnya The Drunken Mastes van Indonesia? Banyak yang telah membahas spectrum atau dimensi sepak terjang yang sedemikian luas.

SUARA KEBON SIRIH »

Awak Media Dotcom "Berguru" Ilmu Online di Okezone
Awak Media <i>Dotcom</i> Online di Okezone">

BERBAGI ilmu tidak hanya berlaku untuk guru kepada muridnya saja, sesama teman, sahabat, rekan kerja pun bisa. Bahkan, di dunia bisnis pun berlaku demikian. Saling berbagi ilmu tanpa "menjatuhkan" satu sama lain.

CATATAN REDAKSI »

Cerita Menimbun BBM
Cerita Menimbun BBM

PEMERINTAH katanya akan menghapus subsidi bahan bakar minyak (BBM) jenis premium.

ETALASE »

Peselancar Dunia pun Mencoba Taklukkan Gelombang Tujuh Hantu
Peselancar Dunia pun Mencoba Taklukkan Gelombang Tujuh Hantu

Demi memperbaiki catatan rekor di Guiness Book of Rercord, peselancar kawakan asal Inggiris menjajal Gelombang Tujuh Hantu di Kabupaten Pelalawan, Riau.

OPINI »

Bambang Arianto
Nasib PKS dalam Politik BBM
Nasib PKS dalam Politik BBM

Polemik kenaikan BBM nyaris menyulut perseteruan parpol koalisi yang dinahkodai Demokrat versus Partai Keadilan Sejahtera (PKS).