Selepas bebas dari tahanan rumah yang mendera dirinya, Pemimpin Oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi giat mengadakan kunjungan ke luar negeri. Setelah berkunjung ke Thailand, negara-negara Eropa, dan pekan ini dirinya melakukan lawatan ke Amerika Serikat (AS). Banyak agenda yang dilakukan Suu Kyi di negara Paman Sam, selain sebagai kunjungan balasan kepada Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, yang telah menjenguknya sembilan bulan yang lalu di Myanmar. Agenda lain dalam kunjungan di AS, dirinya juga akan menerima penghargaan dari Kongres AS sebagai Tokoh Prodemokrasi. Penghargaan ini merupakan sebuah acara tertunda, karena sebelumnya dirinya dicekal oleh Junta Militer.
Terlepas dari kunjungan balasan kepada Hillary Clinton dan menerima penghargaan dari Kongres AS, ada agenda tersembunyi dari Suu Kyi dalam kunjungan itu, yakni ada semacam tawaran kepada pemerintahan AS bila pemerintahan Myanmar dipegangnya, Myanmar siap menjadi sekutu AS.
Sikap Suu Kyi menawarkan diri menjadikan Myanmar menjadi Sekutu AS dilandasi sikap balas budi. Selama ini AS dan negara-negara Eropa serta PBB lah yang membantu perjuangan dirinya untuk menegakkan demokrasi di Myanmar. Menjadi sekutu AS juga merupakan bentuk balas dendam Suu Kyi kepada China yang selama ini telah membantu Junta Militer. Pemerintahan Myanmar yang saat ini berkuasa dan selama dirinya disiasiakan adalah adalah Sekutu China.
Tawaran Suu Kyi yang hendak menjadikan negaranya menjadi Sekutu AS pastinya akan disambut dengan senang hati oleh pemerintahan AS. Sebab selama ini, kawasan Asia Tenggara, yang dalam pertumbuhan ekonomi cukup baik dan dalam hal sumber daya alam sangat menjanjikan, dianggap oleh AS dan China sebagai kawasan baru untuk memperluas pengaruh dan kepentingannya, sehingga tawaran Suu Kyi kepada AS tentu sebuah undangan yang sangat menjanjikan.
Kedua kekuatan dunia itu saat ini berebut pengaruh. Perebutan pengaruh semakin kencang ketika konflik Laut China Selatan, antara China dan beberapa negara Asia Tenggara seperti Filipina, Malaysia, Brunai, dan Kamboja, memanas. Kedua negara, baik AS dan China saat ini royal untuk menawarkan dan memberikan bantuan kepada banyak negara di Asia Tenggara agar mereka menjadi sekutunya. Saat ini Kamboja dan Timor Leste mulai merapat ke China. Pastinya bantuan kepada negara-negara di Asia Tenggara untuk mendukung kepentingannya.
Bila Myanmar menjadi bagian sekutu AS tentu kekuatan negara super power di Asia Tenggara akan semakin besar. Myanmar menjadi sekutu AS itu sangat mungkin terjadi dan sangat berpeluang, sebab dukungan rakyat kepada Suu Kyi terbukti sangat tinggi dan dukungan dari rakyat itu oleh Suu Kyi akan digunakan untuk menjadikan negaranya menjadi sekutu AS. Bila Pemilu 1990 tidak dibatalkan oleh Junta Militer, sejak dulu Suu Kyi pasti sudah mengendalikan kekuasaan. Dalam Pemilu Sela yang lalu, dari 44 kursi yang diperebutkan, 40 mampu direbut oleh partainya Suu Kyi, Liga Demokrasi Nasional (NLD).
Suu Kyi selama ini lebih memilih berkunjung ke negara-negara Eropa dan AS sebab baginya negara-negara ASEAN selama ini bungkam ketika dirinya disiasiakan oleh Junta Militer. Harus diakui negara-negara yang tergabung dalam ASEAN, selama ini selalu menjaga agar tidak mengurusi masalah dalam negeri masing-masing. Karena masalah Suu Kyi saat itu dirasa masalah dalam negeri, maka negara-negara ASEAN, bukan tak peduli namun segan untuk mengusik cara-cara Junta Militer.
Buktinya, saat KTT ASEAN XIII, 2007, di Singapura, pemimpin-pemimpin ASEAN tak sepakat menekan Junta Militer Myanmar. Dalam pertemuan itu, PM Myanmar Thein Sein menyebut isu domestik Myanmar adalah urusan dalam negeri Myanmar sehingga negara lain tidak berhak mencampuri urusan itu. Ungkapan Thein Sein ini didukung oleh PM Singapura Lee Hsien Loong.
Hsien Loong menyebut para pemimpin ASEAN berusaha keras mencegah isu Myanmar masuk dalam bahasan sebab bisa merusak upaya untuk memperkuat integrasi dan membangun komunitas ASEAN. Lee Hsien mengatakan, kita tekankan agar ASEAN fokus pada piagam bersejarah dan rencana integrasi ekonomi.
Menolak masalah Suu Kyi dalam pertemuan ASEAN tidak hanya dalam pertemuan itu. Ketika diselenggarakan pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Phuket, Thailand, Juli 2009, para menteri luar negeri tidak berani bersikap tegas terhadap Myanmar. Mereka hanya mengharap agar Junta Militer membebaskan Suu Kyi dan tahanan politik lainnya.
Justru dalam pertemuan itu, Hillary Clinton, yang juga berpartisipasi dalam pertemuan, mengusulkan agar Myanmar dikeluarkan dari ASEAN, namun usulan itu ditolak oleh Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva. Dikatakan oleh Abhisit, tidak ada cukup alasan untuk mengeluarkan Myanmar dari ASEAN. "Apabila Myanmar dikeluarkan, itu akan semakin mengisolasi mereka. Apakah itu akan menyelesaikan masalah?" ujarnya.
Dari jejak ASEAN yang tak peduli pada Suu Kyi dan sikap Hillary Clinton yang gencar mendukung Suu Kyi, maka putri Aung San itu lebih memilih AS dan negara-negara Eropa daripada negara-negara anggota ASEAN. Selama ini Suu Kyi belum pernah berkunjung ke negara-negara ASEAN kecuali Thailand. Dukungan dari negara-negara Eropa dan AS inilah yang akan dibalas oleh Suu Kyi dengan menjadikan mereka sekutunya bila dirinya terpilih menjadi pemimpin Myanmar.
Ardi Winangun
Peminat Studi Hubungan Internasional
(//mbs)
Online di Okezone">