news okezone.com
Okezonenews » Home » Resensi » Meningkatkan Mutu Pembelajaran MelaluiTaksonomi

getting time ...

RESENSI

Meningkatkan Mutu Pembelajaran MelaluiTaksonomi

Jum'at, 08 Februari 2013 11:09 wib

Judul Buku: Taksonomi Kognitif Perkembangan Ragam Berpikir
Penulis: Dr. Wono Sunaryo Kuswana, M.Pd.
Penerbit : Remaja Rosdakarya, Bandung
Cetakan : Pertama, 2012
Tebal : 292 halaman
ISBN : 978-979-692-079-2
Harga: Rp 51,000/-


PROSES pembelajaran akan dianggap sukses apabila mampu menghasilkan lulusan sesuai tujuan yang telah ditetapkan. Di sinilah perlunya perancangan pembelajaran dengan cara merekonstruksi pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi lainnya melalui pengelolaan belajar mengajar di dalam kelas.

Umumnya, ketika sebuah pembelajaran tidak berhasil mencapai hasil yang diharapkan, dikesankan karena pembelajaran tersebut didominasi oleh aspek kognitif. Banyak orang lalu menuding “kognitif” sebagai biang kegagalan dan menuntut pembelajaran semacam itu harus dirombak.

Padahal, barangkali yang dimaksud “kognitif” di atas adalah pembelajaran yang didominasi oleh hafalan verbalistik. Kendati demikian, hafalan pun tidak boleh diabaikan. Bagaimana bisa mengembangkan pola pikir, sikap, dan gerak motorik lebih lanjut jika tidak ingat informasi terdahulu untuk mengubah perilaku peserta didik.

Buku Taksonomi Kognitif menawarkan revolusi paradigmatik agar guru mencoba melakukan kajian dalam memilah dan memilih taksonomi untuk praktik pembelajaran. Wowo Sunaryo Kuswana, dalam buku ini, memaparkan ragam berpikir kognitif dari berbagai kepustakaan dan puluhan artikel yang relevan sehingga dapat mempertimbangkan pendekatan pembelajaran yang sesuai.

Menurut penulis, para praktisi pendidikan hendaknya mengedepankan keterbukaan dalam mencari kesesuaian terkait pendekatan pembelajaran berpikir. Pendekatan dikatakan sesuai jika dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan berpikir secara rasional, cermat, dan dapat menjadi alat ukur menemukenali masalah serta pemecahannya, termasuk kecepatan dalam pengambilan keputusan, melalui taksonomi kognitif.  

Kata taksonomi diambil dari bahasa Yunani  tassein  yang berarti “untuk mengelompokkan” dan nomos yang berarti “aturan”. Taksonomi dapat diartikan sebagai pengelompokan suatu hal berdasarkan tingkatan tertentu. Taksonomi yang lebih tinggi bersifat lebih umum dan taksonomi yang lebih rendah bersifat lebih spesifik.

Dalam pendidikan, taksonomi dibuat untuk mengidentifikasi tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan kemudian dibagi menjadi beberapa domain, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Dari setiap ranah tersebut terdiri dari beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis, mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom, sehingga sering pula disebut sebagai “Taksonomi Bloom”.

Adapun taksonomi yang dimaksud dalam buku ini adalah klasifikasi tujuan pembelajaran untuk memetakan perilaku siswa yang terwujud dari hasil belajar mereka. Dengan menganalisis taksonomi perilaku siswa, guru akan dapat menentukan dan menitikberatkan bentuk dan jenis pembelajaran yang akan dikembangkan, apakah seorang guru hendak menitikberatkan pada pembelajaran kognitif, afektif ataukah psikomotor.

Merujuk pendapat ahli pendidikan, komponen-komponen yang harus terkandung dalam tujuan pembelajaran, yaitu perilaku terminal, kondisi-kondisi, dan standar ukuran. Ketiga komponen ini dapat dirinci sebagai berikut: (1) menyatakan apa yang seharusnya dikerjakan siswa selama belajar dan kemampuan apa yang harus dikuasainya pada akhir pelajaran; (2) perlu dinyatakan kondisi dan hambatan yang ada pada saat mendemonstrasikan perilaku siswa; dan (3) perlu ada petunjuk yang jelas tentang standar penampilan minimum yang dapat diterima.

Hanya saja, untuk merumuskan tujuan pembelajaran tidak dapat dilakukan secara sembarangan, tetapi harus memenuhi beberapa kaidah atau kriteria tertentu. Dua kriteria yang harus dipenuhi dalam memilih tujuan pembelajaran adalah  preferensi nilai guru yaitu cara pandang dan keyakinan guru mengenai apa yang penting dan seharusnya diajarkan kepada siswa serta bagaimana cara mengajarkannya. Kedua, analisis taksonomi perilaku sebagaimana dikemukakan oleh Bloom.

Namun demikian, berbagai informasi terkait perkembangan taksonomi untuk tujuan pembelajaran, sebagaimana dipaparkan buku ini, dapat digunakan sesuai dengan konteks dan relevansinya. Alhasil, karya yang disusun pengajar Universitas Pendidikan Indonesia ini sangat penting dibaca oleh tenaga pendidik sebagai jawaban serta tawaran jalan keluar demi meningkatkan mutu pembelajaran melalui taksonomi (pengidentifikasian) aneka masalah dalam aktivitas belajar mengajar.

Peresensi: Ahmad Fatoni
Penggiat Pusat Studi Islam dan Filsafat UMM

(//fmh)

RESENSI »

Ini Bukan Avatar, Tapi Dajjal!
Ini Bukan Avatar, Tapi Dajjal!

Ketika membaca, mendengar atau mengatakan kata Dajjal, yang pertama terpikirkan adalah apakah Dajjal sudah dekat?

SUARA KEBON SIRIH »

Chief Content News Baru di Okezone.com
Chief Content News Baru di Okezone.com

PORTAL berita nasional, Okezone.com, memiliki Chief Content News (Pemimpin Redaksi News) baru, yakni Syukri Rahmatullah.

CATATAN REDAKSI »

Netizen Sukses Pressure Pak Presiden
<i>Netizen</i> Sukses <i>Pressure</i> Pak Presiden

Para netizen tidak hanya membaca berita, tapi juga aktif memberikan opini seputar kehidupan yang mereka jalani sehari-hari.

ETALASE »

"Munir" Tetap Suarakan Keadilan

Sunyi, kala belasan pegiat hak asasi manusia (HAM) dari Jaringan Pemuda Batu mengunjungi sebuah makam di TPU Kelurahan Sisir, Kota Batu, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

OPINI »

Media dan "Revolusi Mental"
Media dan

ADA satu istilah baru yang menarik dalam konstelasi politik belakangan ini, yakni Revolusi Mental.